POKOK BAHASAN PEMELIHARAAN, PENDIDIKAN
DAN KESEHATAN ANAK USIA DINI
A. Latar Belakang
Usia lahir sampai dengan memasuki
pendidikan dasar merupakan masa keemasan sekaligus masa kritis dalam tahapan
kehidupan manusia, yang akan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Masa ini merupakan masa
yang tepat untuk meletakkan dasar – dasar pengembangan kemampuan fisik, bahasa,
sosial- emosional, konsep diri, seni, moral, dan nilai – nilai agama. Sehingga
upaya pengembangan seluruh potensial anak usia dini harus dimulai agar
pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal.
Hal ini sesuai dengan hak anak,
sebagaimana diatur dalam Undang – undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang
perlindungan anak yang menyatakan bahwa setip anak berhak untuk hidup, tumbuh,
berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat
kemanusia, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Salah
satu implementasi dari hal ini, setip anak berhak memperoleh pendidikan dan
pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya
sesuai dengan minat dan bakatnya.
Layanan pendidikan bagi anak usia dini
merupakan begian dari pencapaian tujuan pendidikan nasional, sebagimana diatur
dalam Undang – undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional
yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangakan manusia Indonesia
seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa
dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan
rohani, keperibadian yang mentap dan mendiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan
dan kebangsaan.
B. Kesehatan Anak Usia Taman Kanak – Kanak
Pengertian Anak Sehat dan Usaha
Pemeliharan Kesehatan
Anak yang sehat akan mengalami
pertumbuhan dan perkembangan yang normal dan wajar, yaitu sesuai standar
pertumbuhan fisik anak pada umumnya dan memiliki kemampuan sesuai standar
kemampuan anak seusianya. Selain itu anak yang sehat tampak senang, mau
bermain, berlari, berteriak, meloncat, memanjat, tidak berdiam diri saja. Anak
yang sehat kelihatan berseri – seri, kreatif, dan selalu ingin mencoba sesuatu
yang ada di sekelilingnya. Jika ada sesuatuyang tidak diketahuinya, sehigga
pengetahuan yang dimilikinya selalu bertambah.
Anak yang sehat biasanya akan mampu
belajar dengan baik. Ia akan banyak berkomukasi dengan teman, saudara, orang tua,
dan orang lain di lingkungannya. Anak yang benayak bergaul. Ia banyak
pengetahuan dan pengalaman. Anak tidak mudah puas atas sesuatu yang kurang
dipahami dan ingin mendapatkan contoh.
Dengan uraian di atas dapat disimpulkan
bahwa yang dikatakan anak sehat adalah anak yang dapat tumbuh kembangan dengan
baik dan teratur, jiwanya berkembang sesuai dengan umurnya, aktif, gembira,
makannya teratur, bersih, dan dapat menyesuaiakan diri dengan lingkungannya.
Untuk mengisi kemerdekaan dalam era pembangunan ini, anak yang sehat merupakan
potensi yang harus dibina. Pemerintah dalam hal ini telah menerbitkan Undang –
Undang Tahun 1980 tentang Pokok – pokok Kesehatan.
1.
Ciri – Ciri Anak Sehat
Menurut Departemen Kesehatan RI ( 1993 ) ciri anak
sehat adalah:
a.
Tumbuh dengan baik, yang dapat dilihat dari
naiknya berat dan tinggi badan secara teratur dan proporsional
b.
Tingkat perkembangannya sesuai dengan tingkat
umurnya.
c.
Tampak aktif / gesit dan gembira
d.
Mata bersih dan bersinar
e.
Nafsu makan baik.
f.
Bibir dan lidah tampak segar
g.
Pernapasan tidak berbau.
h.
Kulit dan rambut tampak bersih dan tidak kering
i.
Mudah menyesuiakan diri dengan lngkungan
Jika ciri – ciri tersebut tidak dimiliki oleh anak,
maka pertumbuhan dan perkembangan anak biasanya dapat dikatakan wajar/normal.
Ciri- ciri anak sehat dapat dilihat dari berbagai segi
antara lain segi fisik, segi psikis, segi sosialisasi.
a)
Dilihat dari segi fisik ditandai dengan sehat
badan dan pertumbuhan jasmani yang
normal.
b)
Segi psikis, anak yang sehat itu jiwanya
berkembang secara wajar; pikiran bertambah cerdas, perasaan bertambah peka,
kamauan bersosialisasi baik.
c)
Dari segi sosialisasi, anak tampak aktif, gesit,
dan gembira serta mudah menyesuiakan diri dengan lingkungannya.
Gambaran anak sehat jika dilihat dari tingkat
inteligensinya ( IQ ) adalah sebagai berikut :
a)
Lebih dari 140 :
Genius
b)
Antara 120 – 139 : Veri Genius
c)
Antara 110 – 119 :
Superior
d)
Antar 90 – 109 :
Normal, rata – rata
e)
Antara 80 – 89 :
Sub Normal, Bodoh
f)
Antara 70 – 79 :
Garis Batas
g)
Antara 50 – 69 :
Debil( masih dapat dididik dan dilatih)
h)
Antara 30 – 49 : Embecil( tidak dapat
dididik )
i)
Kurang dari 30 : Idiot ( tidak dapat
dididik dan dilatih )
Sumber : Sumadi
Suryabrata, ( 1984). Psilkologi Pendidikan, Jakarta Rajawali
Anak
sehat atau normal inteligensinya dapat mask sekolah biasa bahkan yang lambat
belajarnya pun ( slow learner ) juga masuk sekolah biasa.
Kesehatan
bagi anak tidak terlepas dari pengertian kesehatan pada umumnya. Kesehatan di
sini meliputi kesehatan badan, rohani, dan sosial, bukan hanya dari penyakit,
cacar dan kelemahan ( UU No. 9 Tahun 1980 tentang Pokok – Pokok Kesehatan ).
Kesehatan jiwa adalah kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik,
intelektual, dan emosional yang optimal dari seseorang. Perkembangan itu
berjalan selaras dengan keadaan orang lain ( Lembaran Negara Ri No. 2805 )
Dalam undang – undang itu juga disebutkan bahwa yang disebut kesehatan sosial
adalah perikehidupan dalam masyarakat. Prikehidupan ini dipersyaratkan agar
setiap warga Negara mempunyai kemampuan untuk memelihara dan memajukan
kehidupan sendiri serta kehidupan keluarganya dalam masyarakat yang
memungkinkan bekerja, beristirahat, dan menikmati hiburan pada waktunya ( Indan
Encang ,1991 ).
Menurut
Lenz dalam THeodor Hellbrugge dkk ( 1988 ) pertumbuhan anak pada tahun ke-3 begitu cepat dan berangsur –
angsur menurun sehingga pada periode pra-sekolah dan masa sekolah kurva
kecepatan pertumbuhan akan membentuk kurva yang hampir datar. Sedang pada masa remaja terjadi percepatan petumbuhan kedua
untuk kemudian berhenti sama sekali yaitu bertepatan dengan mulainya kematangan
seksual.
Perubahan
dan pertumbuhan serta kecepatan pertumbuhan dapat dilihat pada Tabel 1 mengenai
umur dan berat
Tabel 1 Usia dan Berat Badan
|
Gologan Umur ( Tahun ) (Kg )
|
Berat Badan ( Kg )
|
|
0.5 – 1 Tahun
1 - 3 Tahun
4 – 6 Tahun
7 – 9 Tahun
|
8.0
11.5
16.5
23.0
|
Disadur
dari Hasil Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi Lipi 1978 dan 1983.
Untuk menentukan apakah seorang anak
tumbuh normal atau tidak, perlu diperhatikan perbedaan kemampuan pertumbuhan
pada tiap anak.
Tabel 2: Perbandingan Tinggi Badan dan Pertumbuhan
|
Umur ( Tahun )
|
Tinggi Badan ( cm )
|
Pertumbuhan ( cm/tahun )
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
|
73.1
90.0
98.8
105.2
111.7
117.8
124.3
130.8
137.0
141.9
146.9
149.9
155.3
162.9
175.0
|
21.7
16.0
8.8
6.4
6.5
6.1
6.5
6.5
6.2
5.1
4.5
3.5
5.4
7.6
12.1
|
Sumber: Theodor
Hellebrugge, dkk, Diagnostik perkembangan dalam ilmu kesehatan anak, 1988.
Penelaian
dilakukan dengan menentukan apakah pertumbuhan anak menyimpang dari pertumbuhan
normal. Untuk itu, tidak saja nilai rata
– rata yang penting tapi perlu diperhitungankan juga besarnya penyimpangan dari standar.
Pergertian
normal dalam pertumbuhan anak tidak identik dengan normal dalam pergertian
kedokteran, berarti terjadi perbedaan. Perbedaan ini dikemukakan oleh Lenz (
1988) yaitu jika seorang anak masuk ke dalam golongan normal, maka anak ini
dapat digolongakan norma atau tidak menurut pengertian ilmu kedokteran.
Pengertian normal yang dimaksud dalam Table 2 adalah menurut penilaian ukuran
pertumbuhan.
Salah
satu standar pertumbuhan yang dipakai secara Internasional adalah Stuart dan
Stevenson ( Theodere Hllbrugge, 1988 ). Yang lazim dipakai dalam
diagnostik untuk proporsi tubuh menurut umur adalah ukuran tinggi badan dan
ukuran berat tubuh.
Khusus
untuk Indonesia, telah dibakukan oleh Departemen Kesehatan RI standar ukuran
anak Indonesia. Hal ini dapat dibaca pada Bab III, bagian Tumbuhan Kembang.
2. Gangguan Kesehatan pada Anak Usia Taman Kanak – Kanak
a.
Makan Kurang atau Kelebihan
Tiap Negara mempunyai kebudayaan
masing – masing, termasuk kebudayaan
makan dengan ciri makanannya. Contohnya orang Amerika memiliki roti yang
makan dengan danging cincang dibentuk bulat pipih yaitu hamburger,
orang Jepang sukan makan bahan makanan mentah dari laut seperti ikan,
cumi besar, sedang orang Indonesia dikenal dengan soto, rendang
maupun gudeg.
Seringkali, kesehatan yang baik tidak
terjadi karena ada perubahan yang berupa kekurangan zat makanan tertentu atau
berlebihan.
Kekurangan zat makanan disebut defisiensi
dan mengakibatkan tidak sehat bahkan sakit, kelebihan menyebabkan berbagai
penyakit. Kekurangan umumnya mencakup protein dan karbohidrat serta vitamin dan
mineral, sedangkan kelebihan umumnya berkaitan dengan konsumsi lemak, protein
dan gula.
b.
Gangguan Psikis
Kesehatan juga mencakup kesehatan
psikis yang kelihat dari adanya berbagi ganguan, temporer maupun rutin.
Pengertian temporer adalah muncul sewaktu – waktu tanpa di duga sebelumnya.
Contohnya: pada malam hari anak bermimpi yang menyeramkan pada pagi hari anak
bangun dan merasa ketakutan. Gangguan yang bersifat rutin adalah setiap akan
disuntik anak merasa takut sekali menangis, dan meronta – ronta. Anak yang
pernah disuntik dan terasa sakit akibat secara psikologi anak sudah sakit
sebelum disuntik.
Beberapa gangguan psikis pada anak
gangguan emosi belajar, sosial, psikiatri, dan khusus.
1.
Gangguan emosi
Gangguan ini mengganggu tingkah laku anak. Ada
sedikit masalah, anak bertingkah laku yang tidak dapat diterima atau akal
sehat. Orang tua dan lingkungan perlu menangani anak secara hati – hati, sabar,
rasional, dan tegas. Wujud perilaku anak adalah merusak barang, mengganggu
adik, berguling- guling di lantai, gagap, dan ngompol.
2.
Gangguan Belajar
Keberhasilan belajar ditentukan oleh berbagai faktor
antara lain faktor bakat, lingkungan, motivasi,peralatan sekolah atau belajar,
kondisi anak dan gizi.
Secara sepintas lalu pengertian
faktor ini adalah sebagai berikut:
a)
Yang dimaksud bakat adalah potensi anak yang
dibawa sejak lahir, tiap anak mempunyai bakat masing – masing yang berbeda satu
sama lain dan berasal dari keturunan orang tua.
b)
Yang dimaksud dengan lingkungan adalah pengaruh
yang berasal dari luar anak, yaitu lngkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Lingkungan keluarga sangat menentukan keberhasilan belajar anak.
c)
Motivasi adalah dorongan untuk belajar, besar
tidak dorongan untuk belajar amat berperan amay berperan pada kemauan anak
untuk berhasil karena menimbulkan motivasi dalam diri anak.
d)
Jika peralatan sekolah/ belajar anak lengkap,
maka dapat memperlancar proses belajar anak sehingga mengurangi masalah anak
dalam belajar.
e)
Kondisi anak yaitu kesehatan, jika tubuhnya
sehat, maka anak bersemangat dan tenang dalam belajar.
Untuk mencapai kondisi ini anak perlu cukup gizi,
memperhatikan kebersihan diri dan lingkungan serta melakukan kegiatan yang baik
bagi tubuhnya sepeti berolah raga.
Ganggun belajar ini dapat berupa: a) Tidal dapat
mengikuti pendidikan yang biasa , b) Prestasi belajar tiba – tiba menurun, c)
Kurang penyesuaian antara kemampuan dengan sekolah, dan d) Gangguan khusus yang berhubungan dengan
prestasi.
c.
Gangguan Sosial
Gangguan sosial terjadi karena tidak adanya
keseimbangan diri dengan lingkungan di sekitarnya. Anak tidak menyadari bahwa
keberadaanya diperlukan dan dinilai oleh teman atau masyarakat.
Awal gangguan sosial ini adalah dari pendidikan orang
tua yaitu pada saat pertama anak melakukan tindakan yang keliru, orang tua
tidak menegur atau menegaskan bagaimana seharusnya.
d.
Gangguan Khusus
Gangguan ini bersifat organik dan umumnya disebabkan
oleh kebiasan. Sebenarnya jika tidak terlambat kejadian ini dapat segera
diobati atau normal kembali. Contoh gangguan khusus adalah epilepsy, cerebral
palsy, anoreksia, dan mengenyot jari ( ilmu Kesehatan Anak, 1985 ).
e.
Gangguan Psikiatri yang Timbul
Akibat Faktor Psikososial Adalah:
1.
Gangguan dalam hubungan dengan orang tua akibat
putusnya hubungan karena orang tua bercerai, mempunyai adik berjarak usia dekat
sehingga anak merasa kekurangan kasih sayang, perlindungan, dan pengangan.
2.
Gangguan dalam diri anak
Gangguan ini terjadi pada anak yang memiliki
kekurangan atau cacat. Anak merasa rendah diri, mempengaruhi tingkah laku, dan
membuat anak merasa gelisa. Anak perlu ditimbulkan kepercayaan diri dan
kebanggaan melalui kesadara akan hal yang positif pada dirinya serta hal yang
bersifat kerohanian. Tuhan Yang Maha Esa menciptakan manusia yang berbada –
beda namun mempunyai kelebihannya dan fungsinya.
3.
Gangguan dalam interaksi sosial
Anak bergaul dengan keluarga dan orang lain di luar
keluarganya. Anak perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan ( beradaptasi ) dan
mengadakan integrasi dengan baik. Anak yang mengalami gangguan dalam interaksi
akan merasa kesepian, sendiri, tidak tenang, menutup diri, sulit diajak bicara.
3. Penyakit Anak
Ada beberapa penyakit anak yang sering menyerang
sehingga perlu dicegah. Penyakit anak itu antara lain:
a.
Cacar Air
Penyakit ini pada umumnya dialami anak usia 3- 5
tahun Gejalanya adalah:
1) Penderita
mengalami demam ringan
2) Terasa
sakit kepala ringan
3) Tubuh
terasa lemah
4) Keesokan
harinya kulit menjadi merah dan panas.
5)
Terdapat lepuh – lepuh kecil ( vescula),
kebanyakan di punggung bagian
atas
atau dada.
6)
Dalam keadaan lanjut atau hebat, muka dan
anggota badan kena
semuanya.
b.
Demam Berdarah
Penyakit ini disebabkan virus yang ditularkan oleh
nyamuk Aedes, yaitu nyamuk yang pada kaki dan badanya terdapat garis – garas
hitam.
Gejalanya:
1)
Mendadak deman tinggi disertai sakit
kepala,mual, dan muntah-muntah.
2)
Perut dan kerongkongan terasa sakit.
3)
Batuk
4)
Sesak napas
5)
Terjadi shock
6)
Ujung kaki dan jari tangan terasa dingin
7)
Timbul bintik-bintik merah pada kulit, kadang-
kadang diikuti buang air besar bercampur darah.
8)
Dapat terjadi pendarahan pada hidung dan putih
mata Perawatan harus segera dan di rumah
sakit.
c.
Mencret ( Diare )
Seorang dikatakan mencret atau diare bila ia buang
air besar yang encer seperti air dan sehari lebih dari empat kali mencret.
Sebab- sebab timbulnya diare:
1)
Gizi kurang biak ( kualitas dan kuantitas ) yang
menyebabkan tubuh menjadi lemah.
2)
Infeksi virus ( flu usus ), diare agak ringan
3)
Infeksi usus, disebabkan bakteri amuba, cacing,
dan giargi ( parasit yang hidup dalam usus ).
4)
Infeksi di usus, seperti infeksi kantong kemih,
campak.
5)
Malaria hiperfalsiparum dan keracunan makanan.
6)
Ketidakmampuan usus mencernakan makanan.
7)
Alegi terhadap makanan tertentu dan efek samping
yang ditimbulkan oleh obat – obatan tertentu.
8)
Terlalu banyak makan buah - buah mentah dan makanan berlemak.
Anak yang diare/mencret, demam, dan cacat
mengakibatkan kematian.
Pencegahannya:
1)
Jagalah kebersihan makanan, tubuh, dan
lingkungan terutama kebersihan air minum,makanan dari lalat dan kotoran. Lalat
adalah binatang yang biasa terbang dari kotoran ke makanan dan sebaliknya.
2)
Anak diberikan makanan bergizi yang sehat dan
seimbang agar daya tahan anak kuat terhadap penyakit.
d.
Polio
Poliomyetis adalah salah satu penyakit yang sangat
berbahaya karena dapat mengakibatkan kelumpuhan dan cacat. Sebab – sebab
timbulnya penyakit ini adalah virus dari sampah, kotoran manusi lalat atau
makan yang dihinggapi lalat.
Gejalanya:
1)
Mula – mula demam ringan, sakit kepala, dan sakit
kerongkongan.
2)
Jika rasa sakit hlang dalam dua atua tiga hari,
maka penderita akan menjadi kebal.
3)
Demam kambung lagi sesudah beberapa hari dengan
keadaan akan lebih parah.
4)
Penderita mengalami sakit kepala dan perasaan
kaku pada persendian, leher, punggung, dan otot terasa nyeri.
5)
Gejala ini diikuti dengan setegah lumpuh atau
lumpuh sama sekali pada bagian tubuh seperti lengan atau tungkai.
6)
Pada polio yang menyerang sumsum tulang,
mungklin terdapat Pencegahannya adalah dengan memberikan vaksinasi polio
beberapa klai sesuai dengan aturan.
e Ngompol
Ngompol
adalah keluarnya air seni seseorang dengan tidak disadari. Kejadian ini sering
terjadi pada anak – anak.
Sebab – sebabnya adalah:
1) Anak
belum dapat mengatur keluarnya air seninya sendiri.
2) Kemungkinan
ada sesuatu yang belum beres, syaraf otot yang belum terbentuk dengan sempurna.
3) Kelainan
sejak lahir, muara saluran kandung kemih terlalu sempit.
4) Terjadi
peradangan pada kantung kemih. Perawatannya tergantung penyebabnya. Jika
disebabkan kelainan bawaan, maka harus ditangani tenaga medis. Dan bila karena
gangguan emosi, diobati secara psikologis.
f.
Disentri
Penyebabnya adalah kuman golongan Shigella.
Penyebarannya melalui makanan dan air kotor atau lalat. Disentri Basilet
dialami oleh anak – anak.
Gejalanya adalah:
1)
Penderita sering mengeluarkan tinja yang
berlendir dan disertai darah.
2)
Penularannya sangat cepat.
3)
Menyerang secara tiba – tiba dan cepat, hanya
dua hari terkena kuman lalu sakit.
4)
Penderita meraasa demam, mudah mngantung, dan
nafsu makan berkurang.
5)
Perasaan mual dan muntah- muntah, mencret (
diare ), nyeri di perut dan kembung.
6)
Tinja disertai darah, nanah, lendir, dan
seringkali encer sampai 2 – 3 kali sehari sehingga penderita mengalami
kekurangan cairan.
7)
Dapat pingsan dan infeksi
8)
Perut terasa nyeri
9)
Poros usus dapat keluar Penderita harus dirawat
sakit. Pencegahannya adalah dengan menjaga kebersihan dan mencegah lalat.
4. Beberapa Gejala Penyakit pada Anak
Uraian di atas menunjukan bahwa
berbagi penyakit dapat dialami anak PAUD. Bagi seorang guru PAUD, yang pertama
– tama dapat dilakukan adalah pengamatan
akan berbagai gejala dari penyakit pada anak PAUD adalah :
a)
Pilek
Penyebabanya adalah virus, bersifat mudah menular
terutama pada anak yang masih kecil dan kondisi fisiknya lemah. Bagaian yang
serang adalah saluran pernapasan.
Gejalanaya adalah : kepala pusing, badan agak panas,
dan hidung tersumbat, dari hidung keluar lendir yang encer.
b)
Suara serak
Jika pilek disertai suara serak berarti
infeksi dan pembengkakan telah terjadi pada pangkal tenggorokan. Lebih lanjut
akan terjadi penyempitan pada mulut saluran tenggorokan dan akhirnya menimbulkan
sumbatan pernapasan. Sebaiknya anak di bawah ke dokter.
c)
Selara makan berkurang
Ketika terserang penyakit selera makan
anak hilang. Seringkali hilangnya selera makan menunjukan bahwa kesehatan anak
terganggu. Biasanya ketika mulai sakit anak cengeng, tidak mau makan. Jika anak
mulai mau makan, berarti kesehatannya sudah membaik.
d)
Muntah
Infeksi saluran pernapasan pada anak dapat
menimbulkan muntah Anak yang muntah umumnya diikuti panas badan. Jika muntah
disertai buang air besar, harus segera dibawah ke dokter karena jika terlalu
banayak cairan tubuh hilang dapat mengakibatkan kamatian.
e)
Kejang
Kejang terjadi pada anak dengan disertai
menggigil, sebelum suhu tubuhnya meninggi. Kejang terjadi pada penyakit
malaria, campak, demam, dan lainnya. Gejala kejang ini menakutkan. Anak harus
ditangani dengan kesabaran dan rasional.
f)
Nyeri
Nyeri dapat mempengaruhi
prilaku anak. Yang sering terjadi adalah nyeri kepala, leher, perut, pegal –
pegal. Gejala ini sering mendahului suatu penyakit.
Pada umumnya perlu
dipehatikan bila terjadi perubahan perangai pada anak. Anak yang biasanya
gembira dan aktif menjadi pendiam, dan pasif. Perhatikan gejla – gejla penyakit
tersenut Kemungkinan lain dari perubhan perangi anak – anak adalah karena
keadaan psikologi seperti kehilangan perhatian orang tua karena ada adik baru,
anak mengalami kekecewaan, dan sebagianya.
5. Upaya pemeliharaan Kesehatan Anak
Menurut hadil penelitian
Bellock da Breslew ( Eckholm, 1981) untuk menjaga agar tetap sehat, seseorang
perlu melakukan tujuh kebiasaan di bawah ini :
a.
Tidur tujuh hingga delapan jam sehari
b. Makan
tiga kali sehari dengan hanya sedikit makan makanan kecil, di anataranya makan
pagi tipa hari.
c.
Mempertahankan berat tubuh yang dikehandaki
d.
Menghindarkan konsumsi alkoohol secara
berlebihan
e.
Melakukan latihan jasmani secara teratur
f.
Tidak merokok
g.
Istirahat cukup
Jika ketujuh kebiasaan ini
dijalankan dengan baik maka seseorang dapat tetap sehat.untuk seorang anak
PAUD, keculai kebiasaan d dan f , adalah baik bila kebiasaan – kebiasaan itu,
anak juga memerlukan bermain dan rekreasi yang cukup sehingga anak yang tumbuh
adalah anak yang sehat.
6.
Pemeliharaan
Kesehatan
a. Kesehatan
Lingkungan
Menurut Hendrik L. Blume ( 1981 ) yang dikutif oleh Departemen
Kesehatan RI ( 1993 ), derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh empat
factor yaiutu: a) Faktor lingkungan, b) Faktor perilaku masyarakat, c) Faktor
pelayanan kesehtan, dan d) Faktor keturunan.
Faktor
lingkungan mempunyai pengaruh yang paling dominan terhadap tingkat kesehatan
maasyarakat. Ini telah dibuktikan oleh beberapa hasil penelitian an pengamatan.
Faktor lingkungan ( fisik, biologi, dan sosial ) mempunyai kaitan yang erat
dalam factor perilaku. Contoh sedarhana seperti kebiasaan atau perilaku buang
air besar dan membuang smapah di sembarang tempat. Lingkungan dalam pengrtian
luas adalah lingkungan tempat bermain, tidur, berlantai, belajar, jadi semua
lingkungan dalam kehidupan.
Pemeliharan kesehatan lingkungan di
sekolah TK dan Lingkungan PAUD di tititkberatkan kepada pengawasan terhadap
bergai factor lingkungan yang memudahklan timbulnya penyakit ayau mempengaruhi
derajat kesehatan anak TK dan anak PAUD. Hal ini dapat terlepas dari prilaku
guru dan anak dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungannnya.
Lingkungan
pemeliharaan kesehatan dalam rangka pencegahan penyakit di TK dan PAUD pada
dasarnya mengupayakan:
a)
Pengamatan sumber air terhadap pencemaran
kotoran
b)
Pencegahan berkembangbiaknya vector penyakit,
seperti lalat, dan serangga lainnya.
c)
Pengamatan makanan terhadap pencemaran kuman
penyakit, dan
d)
Perubahan perilaku egenap warga sekolah ke arah
prilaku hidup sehta yang dapt mencegah penularan penyakit.
Untuk mencapi kesehatan
lingkungan ini perlu diperhatikan
a) Bangunan
sekolah dan lingkungannya
b) Peralatan
sekolah
c) Sanitas
sekolah yang memenuhi syarat kesehatan, dan
d) Pemeliharaan
dan pengawasan kesehatan
Penjagaan lingkungan adalah
misalnya pada lingkungan bermain, alat permainan diatur secara rapi. Selesai
bermain, alat dikembalikan ke tempat semula, dan hal ini dibiasakan kepada
anak. Penjagaan lain adal;ah membiasakan anak menjaga kebersihan diri. Jika
kebiasaan bersih sudah ditanamkan sejak usia dini, maka ketika dewasa akan
betingkah lau sesuai debgan norma kebersihan. Hal ini juga berlaku dalam hal berpakaian, makan,
dan semua kegiatan anak sehari – hari.
Kebersihan lingkungan
tempat tinggal atau sekolah, mencakup halaman yang asri dan bersih, ada tempat pembuangan sampah yang
tertutup, saluranb air limbah yang cukup untuk menyalurkan ait kotor dan
ventilasi untuk pertukaran udara yang cukup. Sampah hanya pada tempat sampah
dan tidak tempat lainnya. Sampah hanya ditemukan pada tempat sampah dantidak di
tempat lainnya. Ventilasi bangunan hendaknya memperhitungkan udara yang
mengalir, dan cahaya matahari yang cukup.
Ditinjau dari sudut masalah kesehatan dan gizi, maka anak
usia taman kanak – kanak dan Paud yaitu tiga dengan enam tahun, termasuk
golongan masyarakat yang disebut kelompok rentang gizi, yaitu kelompok
masyarakat yang paling mudah menderita kelainan gizi, sedangkan pada saat ini
mereka sedang mengalami proses petumbuhan yang relatif pesat, dan memerlukan
zat – zat gizi dalam jumlah yang relatif besar. Khususnya untuk anak usia dini
ini, sedang dalam masa perkembangan ( non fisik ) di mana mereka sedang dibina
untuk mandiri, berprilaku menyesuaikan dengan lingkungan, peningkatan berbagai
kemampuan, dan berbagai perkembangan lain yang membutuhkan fisik yang sehat.
Maka kesehatan yang baik ditunjang oleh keadaan gizi yang baik, merupakan hal
yang utama untuk tumbuh kembang yang optimal bagi seorang anak.
MAKANAN
SEHAT UNTUK ANAK USIA
TAMAN
KANAK – KANAK DAN PAUD
C. Pola Makan dan Kebiasaan Makan
a.
Pangan bagi manusia merupakan kebutuhan
pokok yang harus dipenuhi untuk dapat mempertahankan hidup serta menjalankan
kehidupan. Seperti diketahui, makan diperlukan untuk memperoleh kebutuhan zat
gizi yang cukup untuk kelangsungan hidup, pemulihan kesehat sesudah sakit,
aktivitas, pertumbuhan dan perkembangan Secara fisiologik, makan merupakan
suatu bentuk pemenuhan atau pemuasan rasa lapar.
Kebutuhan
makan pada seseorang diperlukan secukupnya yang berarti kurang atau lebih dari
cukup, terlebih dalam jangka waktu yang lama akan berdampak buruk pada
kesehatan. Oleh sebab itu, telah disusun angka kecukupan gizi yang dianurkan
sesuia utnuk penduduk yang timggal di wilayah tertentu.
Perlu diketahui adanya
perbedaan zat makan dan atau nutrien dan bahan makanan. Zat makanan adalah
satuan – satuan yang menyusun bhan makanan tesebut.
Pengertian pola makan menurut Lie Goan Hong dalam
Sri Karjati ( 1985 ) adalah berbagi imformasi yang memberikan gamabaran
mengenia macam dan jumlah bahan makanan yang dimakan tiap hari oleh satu orang
dan merupakan cirri khas untuk suatu kelompokan masyarakat tertentu.
Pola makan ini akan dipengaruhi oleh beberapa hal,
antaralain adalah: kebiasaan kesenangan, budaya, agama, taraf ekonomi,
lingkungan alam, dan sebagainya. Sejak zaman dahulu kala makanan selain utnuk
kekuatan/pertumbuhan, memenuhi rasa lapar, dan selera, juga mendapat tempat
sebagai lambing yaitu lamabanag kemakmuran, kekuasaan, ketenteraman dan
persahabatan.
Menurut Hertog dan VanStavenser dalam
Khumaidi ( 1994 ) fungsi sosial makan mengandung enam unsur
yaitu:
1)
Memenuhi kesenangannya
Ciri
– ciri organoleptik yang dimiliki makanan, yaiut cirri yang dapat dirasakan
seseorang melalui indranya mempengaruhi seseorang unutk menerima aatau menolak
makanan tertentu : rasa ( taste ), bau (odor ), suhu, penampilan ( appearance
), tektur ( keempukan ), dan struktur.
2)
Makanan sebagai arti budaya, misalnya adanya
tumpengan untuk memperingati ulang tuhan.
3)
Makanan
sebagi fungsi religi dan magis, misalnay sesajian kepada Dewi Sri sebagai
lambing tertentu
4)
Makanan sebagai fungsi komunikasi, misalnya
menyambut tamu dengan memberi makan, memberikan makanan tertentu kepada orang
tertentu untuk dapat berhubungan.
5)
Makanan sebagi fungsi menyatakan status ekonomi,
makanan tertentu lebih tinggi ilai
sosialnya dalam masyarakat, misalnya makanan daging daripada makan tempe.
6)
Makanan sebagi fungsi kekuasaan, misalnaya
makanan suami lebih baik daripada anggota keluarga yang lain atau makanan
majikan berbeda dengan makanan pembantunya.
Koentjaraningrat ( 1984 ) mayatakana
bahwa kwbiasan makan individu, keluarga, dan masyarakat dipengaruhi oleh:
1)
Faktor prilaku termasuk disini adalah cara
berpikir, berperasaan berpanadanagan tentang makanan.
2)
Faktor lingkungan social
3)
Faktor lingkungan ekonomi, daya beli, ketersedian
uang kontan, sbb
4)
Lingkungan ekologi, kondisi tanah,
iklim,lingkungan biologi, sistem usaha tani, sistem pasar dan sebagainya.
5)
Faktor ketersediaan bahan makanan
6)
Faktor perkembangan teknologi
1.
Masalah Makan pada Anak Usia Taman Kanak – Kanak
Masalah makan pada anak pada umunya
adalah masalah kesulitan makan. Hal ini penting diperhatikan karena dapat
menghambat tumbuh kembang optimal pada anak. Kesulitan makan adalah
ketidakmampuan umtuk makan dan menolak makan tertentu.
Ada beberapa pendapat mengenai
penyebab kesulutan makanan anak, menurut Palmen dan Horn yang dikemukakan oleh
Samsudin ( 1985 ), antara lain adalah :
a)
Kelainan neuro – motorik
b)
Kelainan congenital
c)
Kelainan gigi – geligi
d)
Penyakit infeksi kut dan menahun
e)
Defisiensi nutrien, dan
f)
Psikologik
Secara singkat dapat dijelaskan
masing – masing penyebab tersebut sebagai berikut:
a.
Kelainan
neuro – motorik
Secara naluriah, seorang bayi sudah
dapt menghisap dan kemudian menelan
karena terdapat refleks menghisap dan menelan serta refleks-refleks lainnya.
Bila ada kerusakan pada otak, maka bayi tidal dapat menghisap dan menelan.
Kelainan neoro – motorik ini berupa retardasi mental, kelainan otot,
inkoordinasi alat – alat tubuh, kelainan esophagus ( saluran menelan ) dan
lainnya.
b.
Kelainan kongenital
Kelaianan
ini mencakup kelainan yang berhubungan dengan alat pencernaan seperti lidah,
saluran pencernaan. Kelainan merupakan kelainan yang secara mekanis menyebabkan
anak mengalami kesulitan untuk makan atau menimbulkan muntah – muntah. Selain
itu kelainan jantung bawaan mengakibatkan masukan kalori yang kurang adekuat
disebaabkan hipermatabolisme infeksi yang berulang – ulang, dan lainnya.
c.
Penyakit
infeksi akut dan menahun
Pada
akut saluran napas bagian atas, sering menimbulkan kurang nafsu makan (anorxia
) dan sulit menelan. Infeksi ini mempersukar anak untuk menerima makanan
d.
Defiensi
nutrien /gizi
Defiensi
golongan nutrien yang pokok seperti kalori dan protein menimbulkan gejala
anorexia karena produksi enzim pencernaan dan lambungyang kurang dan anak dalam
keadaan apatis. Demikina juga defisiensi zat besi.
e.
Psikologik
Seringkali
terjadi kelianan psikologik disebabkan kekeliruan pengelolaan orang tua dalam
hal makan anaknya. Ada orang tua yang bersikap terlau melindungi dan ada orang
tua yang terlalu memaksakan anaknya makan terlaul banyak melebihi keperluan
anak.
2.
Upaya Mengatasi kesulitan Makan
Anak
Akibat dari kesulitan makan jelas
akan berpengaruh terhadap keadaan gizi seorang anak. Karena itu perlu
diusahakan upaya utnuk mengatasi kesulitan makan ini. Upaya terpenting adalah
menghilangkan penyebab kesulitan makan.
1)
Upaya dietetik
Upaya
ini berhubungan dengan pengaturan makanan yaitu merancang makanan. Bila menemui
kesulitan untuk mengenal menu sehat seimbang dapat meminta bantuan atau
berkonsultasi dengan ahli gizi. Dengan bantuan seorang ahli gizi dapaat
dirancang makanan anak yang memenuhi persyaratan.
2)
Upaya psikologi
Hubungan
emosionala antara anak dan ibu hendaknya baik. Ibu perlu sabar, tenang, dan
tekun. Adakan suasana makan yang menyenangkan anak, bersih, dan berikan pujian
apabila anak melakukan cara makanan dengan baik serta cukup makan.
4.
Bahan Makanan, Zat Gizi, dan Penyusunan menu
Makanan yang dikonsumsi,umumnya terdiri atas satu atau
beberapa jenis bahan makanan. Sebagai contoh bahan makanan adalah telur,
daging, ubi, sayur, dan sebagainya. Setiap bahan makanan terdiri atas beberapa
zat gizi yang disebut nutrien sabagaimana telah diterangkan pada bagian
terdahulu.
Tubuh manusia sendiri terdiri dari berbagai jaringan
tubuh antara lain tulang, gigi, otot sekelet, hati, otot jantung, darah, dan
otak.
Menurut Sediaoetama ( 1987 ) Zat gizi adalah satuan –
satuan yang menyusun bahan makanan atau bahan – bahan dasar. Sedangkan bahan
makanan adalah sesuatu yang dibeli, dimasak, dan disajikan sebagai hidangan
untuk konsumsi. Hidangan yang dikonsumsi bukan hanya terdiri dari satu
hidangan, tetapi dapat lebih dari satu yang bila dihidangkan bersama haruslah
merupakan kombinasi yang saling melengkapi kebutuhan manusia. Satu hidangan
terdiri dari beberapa bahan makanan yang masing – msing bahan makanan
mengandung beberapa jenis zat gizi yang dapat melengkap satu sama lainnya.
a. Bahan Makanan
Di Indonesia dikenal susunan
hidangan sehari – hari Indonesia ada empat kelompok, yaitu:
1)
Bahan makanan pokok
2)
Bahan makanan laut pauk
3)
Bahan makanan sayuran
4)
Bahan makanan buah – buahan
5)
Susu dan telur
1)
Bahan makanan pokok
Dalam susunan
hidangan Indonesia sehari – hari, bahan makanan pokok mrupakan bahan makanan
yang memegang peranan penting. Bahan makanan pokok dapat dikenal dari makanan
yang dihidangkan pada waktu makan pagi, siang atau malam. Pada umumnya porsi
makanan pokok dalam jumlah ( kuantitas/volume ) terlihat lebih banyak dari
bahan makanan lainnya.
2)
Bahan makanan Lauk - pauk
Bahan makanan lauk pauk di dalam pola makan orang
Indonesia berfungsi sebagai teman makanan pokok yang memberikan rasa enak,
merupakan zat gizi protein dalam menu makanan sehari – hari.
3)
Bahan makanan Sayur Mayur
Dalam hidangan orang Indonesia, sayur mayur adalah
sebagai teman makanan pokok, pemberi serat dalam hidangan serta pembasah karena
umumnya dimasak berkauh.
Tumbuhan atau nabati sebagai asal bahan makanan sayur mayur
terdapat dalam berbagi jenis dan jumlah yang banyak di Indonesia.
4)
Bahan makanan Buah – Buahan
Buah – buahan merupakan santapan terakhir dalam suatu acara
makan atau dimakan kapan saja. Umumnya dipilih buah yang sudah ranum (
masak/tua ) dengan rasa manis dan dimakan mentah. Dapat juga buah – buah ini
diolah atau diawetkan. Buah – buahan merupakan sumber vitamin bagi manusia.
5)
Susu
Susu adalah caiaran berwarna putih yang dikeluarkan oleh
kelnjar susu. Istilah untuk air susu manusia adalah air susu ibu ( ASI ). Susu
yang bukan berasal dari manusia disebut pengganti air susu ibu ( PASI ).
6)
Telur
Telur merupakan cikak bakal makhluk hidup dalam hal
ini unggas. Telur menjadi sumebr protein dan mineral yang baik bagi manusia,
dapat dikonsumsi anak kecil sampai orang tua.
Telur terdiri atas tiga komponen yang berbeda kandungan
gizinya yaitu kulit telur, putih telur atau albumen, dan kuning telur.
b. Zat
Gizi
Zat gizi atau zat makanan, merupakan bahan dasar penyusun bahan
makanan. Menurut Sediaoetama ( 1987 ) ada liama fungsi zat gizi yaitu sebagai :
1)
Sumber energi atau tenaga. Jika fungsi ini
tergangau, orang menjadi berkurabng geraknya atau kurang giat dan merasa cepat
lelah.
2)
Menyokong pertumbuhan badan, yaitu penambahan
sel baru pada sel yang sudah ada.
3)
Memelihara jaringan tubuh, mengantikan yang
rusak atau tidak terpakai, yaitu mengantikan sel yang tampak jelas pada luka
tubuh yaitu terjidinya jaringan penutup luka.
4)
Mengatur metabolisme dan berbagai keseimbangan
dalam cairan tubuh ( keseimbangan air, asam basaan, dan mineral).
5)
Berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh
terhadap berbagai penyakti sebagai antioksidan dan antibodi lainnya.
Zat gizi terdiri atas 1) karbohidrat atau hidrat arang, 2)
protein atau zat putih telur, 3) lemak, 4) vitamin, 5) mineral. Kelima zat gizi
ini dikaitkan dengan fungsi zat gizi digolongkan atas 1) zat gizi penghsil
energi terdiri dari karbohidrat, lemak, dan protein 2) zat gizi pembangun sel
terdiri dari protein, dan 3) zat gizi pengatur terdiri dari vitamin dan
mineral.
Penjelasan singkat kelima zat
gizi ini adalah:
1)
Karbohidrat
Karbohidrat sebagio zat gizi merupakan nama kelompok
zat – zat organic yang mempunyai struktur molekul yang berbeda – beda, meski
terhadapat persamaan – persamaan dari sudut kimia dan fungsinya.
D.
Prinsip Umum Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan anak usia dini yang diterapkan dalam
kegiatan pendidikan anak adalah:
1.
Berorientasi pada kebutuhan anak.
2.
Kegiatan belajar dilakukan melalui bermain.
3.
Merangsang munculnya kreativitas dan inovatif
4.
Menyediakan lingkungan yang mendukun proses
belajar.
5.
Mengembangkan kecakapan hidup anak.
6.
Mengunakan berbagai sumber bertahap dengan
mengacu pada tahapan lingkungan sekitar.
7. Dilaksanakan
secara bertahap dengan mengacu pada tahapan perkembangan anak.
8. Stimulasi
pendidikan bersifat menyeluruh yang mencakup semua aspek perkembangan.
E.
Prinsip Perkembangan Anak Usia Dini
1.
Anak akan belajar dengan baik apabila kebutuhan
fisiknya terpenuhi dan merasakan aman serta nyaman dalam lingkungannya.
2.
Anak belajar terus menerus, dimulai dari
membangun pemahaman tentang sesuatu, mengeksplorasi lingkungan. Menemukan
kembali sesuatu konsep, sehingga mampu membuat sesuatu yang berharga.
3.
Anak belajar melalui interaksi sosial baik
dengan oranag dewasa maupun dengan teman sebaya yang ada di lingkungan.
4.
Minat dan ketekunan anak akan memotivasi belajar
anak.
5.
Perkembangan dan gaya belajar anak seharusnya
dipertimbangkan sebagai perbedaan individu.
6.
Anak belajar dari yang sederhana ke yang
komplek, dari yang konkrit ke abstrak, dari gerakan ke verbal, dan dari diri sendiri ke sosial.
F. Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Yang Mendasar
a.
Kondisi Sumberdaya Manusia Indonesia
Berdasarkan hasil studi “ Kemampuan Membaca ײ siswa tingkat SD yang dilaksanakan oleh International
Educational Achievemant ( IEA ) diketahui bahwa siswa SD di Indonesia
berada dim urutan ke 38 dari 39 negara, hsil penelitian the Third
Intenational Mathematics and Science Study Repeat tahun 1999, kemampuan
siswa kita di bidang IPA berada di urutan ke 32 dari 38 negara yang diteliti
dan bidang matematika berada di urutan ke 34 dari 38 negara yang diteliti.
Rendahnya kualitas hasil pendidikan juga berdampak terhadap rendahnya kualitas
sumberdaya manusia Indonesia. Menurut laporan UNDP tentang Human Development
Index ( HDI ) pada tahun 2001 Indonesia menempati peringkat 102 dari 174
negara yang diteliti, jauh di bawah ASEAN lainya seperti, Singapura, Maliysia,
Thailand, Dan Brunei Darusallam yang berada di peringkat 40-an.
Rendahnya kualitas pendidikan tersebut
antara lain dipengaruhi oleh input-nya, terutama caln siswa sebagai row input.
Rendahnya kualitas calon siswa didasarkan pada suatu kenyataan bahwa selama ini
perhatian kita terhadap pendidikan bagi anak usia dini masih sangat rendah
apabila dibandingkan dengan negara – negara tersebut di atas.
Belajar di pengalaman negara maju,
konsep pembangunan sumberdaya manusia
telah mereka lakukan sejak masa usia dini. Pengembangan anak usia dini yang
mencakup aspek Gizi, Kesehatan, dan psikososial ( pendidikan ) telah dilakukan
secara intensif dan utuh sejak anak dilahirkan. Seperti di Singapura dan Korea
Selatan misalnya, hampir semua anak usia dini telah terlayani PAUD. Contoh lain
Malaysia, pelayanan PAUD mencakup 70 % anak. Bahkan di Singapura masalah
penuntasan dua bahasa, yaitu bahasa Cina dan bahasa Inggris, telah
terselesaikan di tingkat kindergarten ( Taman Kanak – kanak ). Sedang di
negara kita penanganan anak usia dini msih terfokus pada upaya perbaikan Gizi
dan kesehatan dasar untuk survival ( kelangsungan hidup ).
b.
Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini
Berdasarkan kajian neurology dan
psikologi perkembangan, kulitas anak usia dini yang nantinya menjadi input
persekolahan, disamping dipergaruhi oleh faktor bawaan ( Nature ) juga sangat
dipengaruhi oleh faktor kesehatan, gizi, dan psikososial yang diperoleh dari
lingkungannya ( nuture ). Oleh karena Faktor bawaan harus kita
terima apa adanya, maka faktor lingkunganlah yang harus direkayasa. Kita harus
mengupayakannya semaksimal mungkin agar kekurangan yang dipengaruhi oleh faktor
bawaan tersebtu dapat kita perbaiki. Pentingnya pendidikan bagi anak usia dini
didasarkan adanya berbagai hasil penelitian yang menyebutkan bahwa masa usia
dini merupakan periode krisis dalam perkembangan anak. Berdasarkan kajian
neurology pada saat bayi otak bayi mengandung sekitar 100 milyar neuron yang
siap melakukan sambungan antara sel. Selama tahun – tahun pertama, otak bayi
berkembang sangat pesat dengan menghasilkan bertriyun – trilyun sambungan antara
neuron yang banyaknya melebihi kebutuhan.
Fungsi pendidikan bagi anak usia dini
tidak hanya sekedar untuk memberikan berbagai pengalaman belajar seperti
pendidikan bagi orang dewasa, tetapi juga berfungsi mengoptimalkan perkembangan
kapabilitas kecerdasannya. Pendidikan disini hendaknya diartikan secara luas,
mencakup seluruh proses stimulasi psikososial yang tidak terbatas pada proses
pembelajaran yang dikukan secara klasikal. Artinya pendidikan dapat berlangsung
dimana saja dan kapan saja, baik yang dilakukan sendiri di lingkungan keluarga
maupun oleh lembaga pendidikan di luar ligkungan keluarga.
c.
Pendidikan Untuk Masyarakat Marjinal
Bila selama ini Pendidikan Anak Usia
Dini masih tergolong ekslusif dan hanya dinikmati oleh lapisan masyarakat
tertentu, terutama di perkotaan, sudah saatnya memikirkan Pendidikan Anak Usia
Dini untuk anak- anak dari keluarga miski, sangat rawan dan kurang berutungn,
termasuk anak – anak yang tinggal di pedesaan dan daerah terpencil. Pelaksanaan
PAUD di kalangan masyarakat menengah ke atas sepenuhnya diserahkan kepada
keluarga dan masyarakat yang bersangkutan. Dalam hal ini peran Pemerintah
sebatas pengendalian mutu dan pengawasan.
Pelaksanaan PAUD untuk kalangan
masyarakat bawaah secara proporsional dipikul bersama antara pemerintah,
msyarakat, dan keluarga.Secara proporsional artinya semakin sedikit. Sebaliknya
untuk kalangan masyarakat yang tidak mampu, maka peran pemerintah semakin besar
bahkan jika perlu menanggung seluruh biaya pendidikan yang diperlukan. Dalam
penyelengaraan PAUD, termasuk yang pembiayaannya ditanggung pemerintah,
diserahkan sepenunya kepada masyarakat untuk mengelolanya, Lembaga PAUD yang
diselenggarakan pemerintah semata – mata untuk keperluan pengembangan
percontohan.
Sejalan dengan kebijakan otonomi daerah, dimana daerah
memiliki peran lebih banyak untuk memikirkan kebutuhan daerah dan kepentingan
masyarakat, kewenangan pusat terbatas pada pengaturan kebijakan strategis yang
berskala nasional dan internasional, berupa oenetapan standar, pedoman,
perencanaan makro dan pengawasannya. Dengan demikian pelaksanaan dan
pengembangan PAUD sepenuhnya menjadi kewenangan dan tanggjuwab kita.[1]


2 comments:
terimakasih ilmunya
hrv
sama-sama mas said.
Post a Comment