Saturday, 19 December 2015

POKOK BAHASAN PEMELIHARAAN, PENDIDIKAN DAN KESEHATAN ANAK USIA DINI



POKOK BAHASAN PEMELIHARAAN, PENDIDIKAN

DAN KESEHATAN ANAK USIA DINI  


A.    Latar Belakang


Usia lahir sampai dengan memasuki pendidikan dasar merupakan masa keemasan sekaligus masa kritis dalam tahapan kehidupan manusia, yang akan menentukan perkembangan  anak selanjutnya. Masa ini merupakan masa yang tepat untuk meletakkan dasar – dasar pengembangan kemampuan fisik, bahasa, sosial- emosional, konsep diri, seni, moral, dan nilai – nilai agama. Sehingga upaya pengembangan seluruh potensial anak usia dini harus dimulai agar pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal.
Hal ini sesuai dengan hak anak, sebagaimana diatur dalam Undang – undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak yang menyatakan bahwa setip anak berhak untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusia, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Salah satu implementasi dari hal ini, setip anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.
Layanan pendidikan bagi anak usia dini merupakan begian dari pencapaian tujuan pendidikan nasional, sebagimana diatur dalam Undang – undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangakan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, keperibadian yang mentap dan mendiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

B.     Kesehatan Anak Usia Taman Kanak – Kanak

Pengertian Anak Sehat dan Usaha Pemeliharan Kesehatan
Anak yang sehat akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang normal dan wajar, yaitu sesuai standar pertumbuhan fisik anak pada umumnya dan memiliki kemampuan sesuai standar kemampuan anak seusianya. Selain itu anak yang sehat tampak senang, mau bermain, berlari, berteriak, meloncat, memanjat, tidak berdiam diri saja. Anak yang sehat kelihatan berseri – seri, kreatif, dan selalu ingin mencoba sesuatu yang ada di sekelilingnya. Jika ada sesuatuyang tidak diketahuinya, sehigga pengetahuan yang dimilikinya selalu bertambah.
Anak yang sehat biasanya akan mampu belajar dengan baik. Ia akan banyak berkomukasi dengan teman, saudara, orang tua, dan orang lain di lingkungannya. Anak yang benayak bergaul. Ia banyak pengetahuan dan pengalaman. Anak tidak mudah puas atas sesuatu yang kurang dipahami dan ingin mendapatkan contoh.
Dengan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dikatakan anak sehat adalah anak yang dapat tumbuh kembangan dengan baik dan teratur, jiwanya berkembang sesuai dengan umurnya, aktif, gembira, makannya teratur, bersih, dan dapat menyesuaiakan diri dengan lingkungannya. Untuk mengisi kemerdekaan dalam era pembangunan ini, anak yang sehat merupakan potensi yang harus dibina. Pemerintah dalam hal ini telah menerbitkan Undang – Undang Tahun 1980 tentang Pokok – pokok Kesehatan.
1.      Ciri – Ciri Anak Sehat
Menurut Departemen Kesehatan RI ( 1993 ) ciri anak sehat adalah:
a.       Tumbuh dengan baik, yang dapat dilihat dari naiknya berat dan tinggi badan secara teratur dan proporsional
b.      Tingkat perkembangannya sesuai dengan tingkat umurnya.
c.       Tampak aktif / gesit dan gembira
d.      Mata bersih dan bersinar
e.       Nafsu makan baik.
f.       Bibir dan lidah tampak segar
g.      Pernapasan tidak berbau.
h.      Kulit dan rambut tampak bersih dan tidak kering
i.        Mudah menyesuiakan diri dengan lngkungan
Jika ciri – ciri tersebut tidak dimiliki oleh anak, maka pertumbuhan dan perkembangan anak biasanya dapat dikatakan wajar/normal.
Ciri- ciri anak sehat dapat dilihat dari berbagai segi antara lain segi fisik, segi psikis, segi sosialisasi.
a)            Dilihat dari segi fisik ditandai dengan sehat badan dan pertumbuhan jasmani  yang normal.
b)            Segi psikis, anak yang sehat itu jiwanya berkembang secara wajar; pikiran bertambah cerdas, perasaan bertambah peka, kamauan bersosialisasi baik.
c)            Dari segi sosialisasi, anak tampak aktif, gesit, dan gembira serta mudah menyesuiakan diri dengan lingkungannya.
Gambaran anak sehat jika dilihat dari tingkat inteligensinya ( IQ ) adalah sebagai berikut :
a)            Lebih dari 140                         : Genius
b)            Antara 120 – 139                    : Veri Genius
c)            Antara 110 – 119                    : Superior
d)           Antar 90 – 109                        : Normal, rata – rata

e)            Antara 80 – 89                                    : Sub Normal, Bodoh
f)             Antara 70 – 79                                    : Garis Batas
g)            Antara 50 – 69                        : Debil( masih dapat dididik dan dilatih)
h)            Antara 30 – 49                         : Embecil( tidak dapat dididik )
i)              Kurang dari 30                         : Idiot ( tidak dapat dididik dan dilatih )
Sumber : Sumadi Suryabrata, ( 1984). Psilkologi Pendidikan, Jakarta Rajawali
Anak sehat atau normal inteligensinya dapat mask sekolah biasa bahkan yang lambat belajarnya pun ( slow learner ) juga masuk sekolah biasa.
Kesehatan bagi anak tidak terlepas dari pengertian kesehatan pada umumnya. Kesehatan di sini meliputi kesehatan badan, rohani, dan sosial, bukan hanya dari penyakit, cacar dan kelemahan ( UU No. 9 Tahun 1980 tentang Pokok – Pokok Kesehatan ). Kesehatan jiwa adalah kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, dan emosional yang optimal dari seseorang. Perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain ( Lembaran Negara Ri No. 2805 ) Dalam undang – undang itu juga disebutkan bahwa yang disebut kesehatan sosial adalah perikehidupan dalam masyarakat. Prikehidupan ini dipersyaratkan agar setiap warga Negara mempunyai kemampuan untuk memelihara dan memajukan kehidupan sendiri serta kehidupan keluarganya dalam masyarakat yang memungkinkan bekerja, beristirahat, dan menikmati hiburan pada waktunya ( Indan Encang ,1991 ).
Menurut Lenz dalam THeodor Hellbrugge dkk ( 1988 ) pertumbuhan anak  pada tahun ke-3 begitu cepat dan berangsur – angsur menurun sehingga pada periode pra-sekolah dan masa sekolah kurva kecepatan pertumbuhan akan membentuk kurva yang hampir datar. Sedang pada masa  remaja terjadi percepatan petumbuhan kedua untuk kemudian berhenti sama sekali yaitu bertepatan dengan mulainya kematangan seksual.
Perubahan dan pertumbuhan serta kecepatan pertumbuhan dapat dilihat pada Tabel 1 mengenai umur dan berat      
Tabel 1 Usia dan Berat Badan

Gologan Umur ( Tahun ) (Kg )
Berat Badan ( Kg )
0.5 – 1 Tahun
1  - 3 Tahun
4 – 6 Tahun
7 – 9 Tahun
8.0
11.5
16.5
23.0
           
              Disadur dari Hasil Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi Lipi 1978 dan 1983.


            Untuk menentukan apakah seorang anak tumbuh normal atau tidak, perlu diperhatikan perbedaan kemampuan pertumbuhan pada tiap anak.

Tabel 2: Perbandingan Tinggi Badan dan Pertumbuhan

Umur ( Tahun )
Tinggi Badan ( cm )
Pertumbuhan ( cm/tahun )
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
73.1
90.0
98.8
105.2
111.7
117.8
124.3
130.8
137.0
141.9
146.9
149.9
155.3
162.9
175.0
21.7
16.0
8.8
6.4
6.5
6.1
6.5
6.5
6.2
5.1
4.5
3.5
5.4
7.6
12.1

Sumber: Theodor Hellebrugge, dkk, Diagnostik perkembangan dalam ilmu kesehatan anak, 1988.
            Penelaian dilakukan dengan menentukan apakah pertumbuhan anak menyimpang dari pertumbuhan normal. Untuk  itu, tidak saja nilai rata – rata yang penting tapi perlu diperhitungankan juga  besarnya penyimpangan dari standar.
            Pergertian normal dalam pertumbuhan anak tidak identik dengan normal dalam pergertian kedokteran, berarti terjadi perbedaan. Perbedaan ini dikemukakan oleh Lenz ( 1988) yaitu jika seorang anak masuk ke dalam golongan normal, maka anak ini dapat digolongakan norma atau tidak menurut pengertian ilmu kedokteran. Pengertian normal yang dimaksud dalam Table 2 adalah menurut penilaian ukuran pertumbuhan.
            Salah satu standar pertumbuhan yang dipakai secara Internasional adalah Stuart dan Stevenson ( Theodere Hllbrugge, 1988 ). Yang lazim dipakai dalam diagnostik untuk proporsi tubuh menurut umur adalah ukuran tinggi badan dan ukuran berat tubuh.
            Khusus untuk Indonesia, telah dibakukan oleh Departemen Kesehatan RI standar ukuran anak Indonesia. Hal ini dapat dibaca pada Bab III, bagian Tumbuhan Kembang.


2.     Gangguan Kesehatan pada Anak Usia Taman Kanak – Kanak
a.                  Makan Kurang atau Kelebihan
Tiap Negara mempunyai kebudayaan masing – masing, termasuk kebudayaan  makan dengan ciri makanannya. Contohnya orang Amerika memiliki roti yang makan dengan danging cincang dibentuk bulat pipih yaitu hamburger, orang Jepang sukan makan bahan makanan mentah dari laut seperti ikan, cumi besar, sedang orang Indonesia dikenal dengan soto, rendang maupun gudeg.
Seringkali, kesehatan yang baik tidak terjadi karena ada perubahan yang berupa kekurangan zat makanan tertentu atau berlebihan.
Kekurangan zat makanan disebut defisiensi dan mengakibatkan tidak sehat bahkan sakit, kelebihan menyebabkan berbagai penyakit. Kekurangan umumnya mencakup protein dan karbohidrat serta vitamin dan mineral, sedangkan kelebihan umumnya berkaitan dengan konsumsi lemak, protein dan gula.
b.      Gangguan Psikis
Kesehatan juga mencakup kesehatan psikis yang kelihat dari adanya berbagi ganguan, temporer maupun rutin. Pengertian temporer adalah muncul sewaktu – waktu tanpa di duga sebelumnya. Contohnya: pada malam hari anak bermimpi yang menyeramkan pada pagi hari anak bangun dan merasa ketakutan. Gangguan yang bersifat rutin adalah setiap akan disuntik anak merasa takut sekali menangis, dan meronta – ronta. Anak yang pernah disuntik dan terasa sakit akibat secara psikologi anak sudah sakit sebelum disuntik.
Beberapa gangguan psikis pada anak gangguan emosi belajar, sosial, psikiatri, dan khusus.
1.      Gangguan emosi
Gangguan ini mengganggu tingkah laku anak. Ada sedikit masalah, anak bertingkah laku yang tidak dapat diterima atau akal sehat. Orang tua dan lingkungan perlu menangani anak secara hati – hati, sabar, rasional, dan tegas. Wujud perilaku anak adalah merusak barang, mengganggu adik, berguling- guling di lantai, gagap, dan ngompol.
2.      Gangguan Belajar
Keberhasilan belajar ditentukan oleh berbagai faktor antara lain faktor bakat, lingkungan, motivasi,peralatan sekolah atau belajar, kondisi anak dan gizi.
Secara sepintas lalu pengertian faktor ini adalah sebagai berikut:
a)            Yang dimaksud bakat adalah potensi anak yang dibawa sejak lahir, tiap anak mempunyai bakat masing – masing yang berbeda satu sama lain dan berasal dari keturunan orang tua.
b)            Yang dimaksud dengan lingkungan adalah pengaruh yang berasal dari luar anak, yaitu lngkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Lingkungan keluarga sangat menentukan keberhasilan belajar anak.
c)            Motivasi adalah dorongan untuk belajar, besar tidak dorongan untuk belajar amat berperan amay berperan pada kemauan anak untuk berhasil karena menimbulkan motivasi dalam diri anak.
d)           Jika peralatan sekolah/ belajar anak lengkap, maka dapat memperlancar proses belajar anak sehingga mengurangi masalah anak dalam belajar.
e)            Kondisi anak yaitu kesehatan, jika tubuhnya sehat, maka anak bersemangat dan tenang dalam belajar.
Untuk mencapai kondisi ini anak perlu cukup gizi, memperhatikan kebersihan diri dan lingkungan serta melakukan kegiatan yang baik bagi tubuhnya sepeti berolah raga.
Ganggun belajar ini dapat berupa: a) Tidal dapat mengikuti pendidikan yang biasa , b) Prestasi belajar tiba – tiba menurun, c) Kurang penyesuaian antara kemampuan dengan sekolah, dan  d) Gangguan khusus yang berhubungan dengan prestasi.
c.       Gangguan Sosial
Gangguan sosial terjadi karena tidak adanya keseimbangan diri dengan lingkungan di sekitarnya. Anak tidak menyadari bahwa keberadaanya diperlukan dan dinilai oleh teman atau masyarakat.
Awal gangguan sosial ini adalah dari pendidikan orang tua yaitu pada saat pertama anak melakukan tindakan yang keliru, orang tua tidak menegur atau menegaskan bagaimana seharusnya.
d.      Gangguan Khusus
Gangguan ini bersifat organik dan umumnya disebabkan oleh kebiasan. Sebenarnya jika tidak terlambat kejadian ini dapat segera diobati atau normal kembali. Contoh gangguan khusus adalah epilepsy, cerebral palsy, anoreksia, dan mengenyot jari ( ilmu Kesehatan Anak, 1985 ).
e.       Gangguan Psikiatri yang Timbul Akibat Faktor Psikososial Adalah:
1.      Gangguan dalam hubungan dengan orang tua akibat putusnya hubungan karena orang tua bercerai, mempunyai adik berjarak usia dekat sehingga anak merasa kekurangan kasih sayang, perlindungan, dan pengangan.


2.      Gangguan dalam diri anak
Gangguan ini terjadi pada anak yang memiliki kekurangan atau cacat. Anak merasa rendah diri, mempengaruhi tingkah laku, dan membuat anak merasa gelisa. Anak perlu ditimbulkan kepercayaan diri dan kebanggaan melalui kesadara akan hal yang positif pada dirinya serta hal yang bersifat kerohanian. Tuhan Yang Maha Esa menciptakan manusia yang berbada – beda namun mempunyai kelebihannya dan fungsinya.
3.      Gangguan dalam interaksi sosial
Anak bergaul dengan keluarga dan orang lain di luar keluarganya. Anak perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan ( beradaptasi ) dan mengadakan integrasi dengan baik. Anak yang mengalami gangguan dalam interaksi akan merasa kesepian, sendiri, tidak tenang, menutup diri, sulit diajak bicara.
3.     Penyakit Anak
Ada beberapa penyakit anak yang sering menyerang sehingga perlu dicegah. Penyakit anak itu antara lain:
a.            Cacar Air
Penyakit ini pada umumnya dialami anak usia 3- 5 tahun Gejalanya adalah:
1)   Penderita mengalami demam ringan
2)  Terasa sakit kepala ringan
3)  Tubuh terasa lemah
4)  Keesokan harinya kulit menjadi merah dan panas.
5)            Terdapat lepuh – lepuh kecil ( vescula), kebanyakan di punggung bagian
        atas atau dada.
6)            Dalam keadaan lanjut atau hebat, muka dan anggota badan kena
         semuanya.
b.            Demam Berdarah
Penyakit ini disebabkan virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes, yaitu nyamuk yang pada kaki dan badanya terdapat garis – garas hitam.
Gejalanya:
1)            Mendadak deman tinggi disertai sakit kepala,mual, dan muntah-muntah.
2)            Perut dan kerongkongan terasa sakit.
3)            Batuk
4)            Sesak napas
5)            Terjadi shock
6)            Ujung kaki dan jari tangan terasa dingin
7)            Timbul bintik-bintik merah pada kulit, kadang- kadang diikuti buang air besar bercampur darah.
8)            Dapat terjadi pendarahan pada hidung dan putih mata  Perawatan harus segera dan di rumah sakit.
c.                         Mencret ( Diare )
Seorang dikatakan mencret atau diare bila ia buang air besar yang encer seperti air dan sehari lebih dari empat kali mencret.
Sebab- sebab timbulnya diare:
1)            Gizi kurang biak ( kualitas dan kuantitas ) yang menyebabkan tubuh menjadi lemah.
2)            Infeksi virus ( flu usus ), diare agak ringan
3)            Infeksi usus, disebabkan bakteri amuba, cacing, dan giargi ( parasit yang hidup dalam usus ).
4)            Infeksi di usus, seperti infeksi kantong kemih, campak.
5)            Malaria hiperfalsiparum dan keracunan makanan.
6)            Ketidakmampuan usus mencernakan makanan.
7)            Alegi terhadap makanan tertentu dan efek samping yang ditimbulkan oleh obat – obatan tertentu.
8)            Terlalu banyak makan buah -  buah mentah dan makanan berlemak.
Anak yang diare/mencret, demam, dan cacat mengakibatkan kematian.
Pencegahannya: 
1)      Jagalah kebersihan makanan, tubuh, dan lingkungan terutama kebersihan air minum,makanan dari lalat dan kotoran. Lalat adalah binatang yang biasa terbang dari kotoran ke makanan dan sebaliknya.
2)      Anak diberikan makanan bergizi yang sehat dan seimbang agar daya tahan anak kuat terhadap penyakit.
d.                        Polio   
Poliomyetis adalah salah satu penyakit yang sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan kelumpuhan dan cacat. Sebab – sebab timbulnya penyakit ini adalah virus dari sampah, kotoran manusi lalat atau makan yang dihinggapi lalat.

Gejalanya:
1)            Mula – mula demam ringan, sakit kepala, dan sakit kerongkongan.
2)            Jika rasa sakit hlang dalam dua atua tiga hari, maka penderita akan menjadi kebal.
3)            Demam kambung lagi sesudah beberapa hari dengan keadaan akan lebih parah.
4)            Penderita mengalami sakit kepala dan perasaan kaku pada persendian, leher, punggung, dan otot terasa nyeri.
5)            Gejala ini diikuti dengan setegah lumpuh atau lumpuh sama sekali pada bagian tubuh seperti lengan atau tungkai.
6)            Pada polio yang menyerang sumsum tulang, mungklin terdapat Pencegahannya adalah dengan memberikan vaksinasi polio beberapa klai sesuai dengan aturan.
e       Ngompol
         Ngompol adalah keluarnya air seni seseorang dengan tidak disadari. Kejadian ini sering terjadi pada anak – anak.
Sebab – sebabnya adalah:
1)      Anak belum dapat mengatur keluarnya air seninya sendiri.
2)      Kemungkinan ada sesuatu yang belum beres, syaraf otot yang belum terbentuk dengan sempurna.
3)      Kelainan sejak lahir, muara saluran kandung kemih terlalu sempit.
4)      Terjadi peradangan pada kantung kemih. Perawatannya tergantung penyebabnya. Jika disebabkan kelainan bawaan, maka harus ditangani tenaga medis. Dan bila karena gangguan emosi, diobati secara psikologis.
f.        Disentri
Penyebabnya adalah kuman golongan Shigella. Penyebarannya melalui makanan dan air kotor atau lalat. Disentri Basilet dialami oleh anak – anak.
Gejalanya adalah:
1)      Penderita sering mengeluarkan tinja yang berlendir dan disertai darah.
2)      Penularannya sangat cepat.
3)      Menyerang secara tiba – tiba dan cepat, hanya dua hari terkena kuman lalu sakit.
4)      Penderita meraasa demam, mudah mngantung, dan nafsu makan berkurang.
5)      Perasaan mual dan muntah- muntah, mencret ( diare ), nyeri di perut dan kembung.
6)      Tinja disertai darah, nanah, lendir, dan seringkali encer sampai 2 – 3 kali sehari sehingga penderita mengalami kekurangan cairan.
7)      Dapat pingsan dan infeksi
8)      Perut terasa nyeri
9)      Poros usus dapat keluar Penderita harus dirawat sakit. Pencegahannya adalah dengan menjaga kebersihan dan mencegah lalat.
4.     Beberapa Gejala Penyakit pada Anak
Uraian di atas menunjukan bahwa berbagi penyakit dapat dialami anak PAUD. Bagi seorang guru PAUD, yang pertama – tama dapat  dilakukan adalah pengamatan akan berbagai gejala dari penyakit pada anak PAUD adalah :
a)      Pilek
Penyebabanya adalah virus, bersifat mudah menular terutama pada anak yang masih kecil dan kondisi fisiknya lemah. Bagaian yang serang adalah saluran pernapasan.
Gejalanaya adalah : kepala pusing, badan agak panas, dan hidung tersumbat, dari hidung keluar lendir yang encer.
b)      Suara serak
      Jika pilek disertai suara serak berarti infeksi dan pembengkakan telah terjadi pada pangkal tenggorokan. Lebih lanjut akan terjadi penyempitan pada mulut saluran tenggorokan dan akhirnya menimbulkan sumbatan pernapasan. Sebaiknya anak di bawah ke dokter.
c)      Selara makan berkurang
      Ketika terserang penyakit selera makan anak hilang. Seringkali hilangnya selera makan menunjukan bahwa kesehatan anak terganggu. Biasanya ketika mulai sakit anak cengeng, tidak mau makan. Jika anak mulai mau makan, berarti kesehatannya sudah membaik.  
d)     Muntah
      Infeksi saluran pernapasan pada anak dapat menimbulkan muntah Anak yang muntah umumnya diikuti panas badan. Jika muntah disertai buang air besar, harus segera dibawah ke dokter karena jika terlalu banayak cairan tubuh hilang dapat mengakibatkan kamatian.

e)      Kejang
      Kejang terjadi pada anak dengan disertai menggigil, sebelum suhu tubuhnya meninggi. Kejang terjadi pada penyakit malaria, campak, demam, dan lainnya. Gejala kejang ini menakutkan. Anak harus ditangani dengan kesabaran dan rasional.
f)       Nyeri
Nyeri dapat mempengaruhi prilaku anak. Yang sering terjadi adalah nyeri kepala, leher, perut, pegal – pegal. Gejala ini sering mendahului suatu penyakit.
Pada umumnya perlu dipehatikan bila terjadi perubahan perangai pada anak. Anak yang biasanya gembira dan aktif menjadi pendiam, dan pasif. Perhatikan gejla – gejla penyakit tersenut Kemungkinan lain dari perubhan perangi anak – anak adalah karena keadaan psikologi seperti kehilangan perhatian orang tua karena ada adik baru, anak mengalami kekecewaan, dan sebagianya.   
5.     Upaya pemeliharaan Kesehatan Anak
          Menurut hadil penelitian Bellock da Breslew ( Eckholm, 1981) untuk menjaga agar tetap sehat, seseorang perlu melakukan tujuh kebiasaan di bawah ini :
a.    Tidur tujuh hingga delapan jam sehari
b.  Makan tiga kali sehari dengan hanya sedikit makan makanan kecil, di anataranya makan pagi tipa hari.
c.    Mempertahankan berat tubuh yang dikehandaki
d.   Menghindarkan konsumsi alkoohol secara berlebihan
e.    Melakukan latihan jasmani secara teratur
f.     Tidak merokok
g.    Istirahat cukup
Jika ketujuh kebiasaan ini dijalankan dengan baik maka seseorang dapat tetap sehat.untuk seorang anak PAUD, keculai kebiasaan d dan f , adalah baik bila kebiasaan – kebiasaan itu, anak juga memerlukan bermain dan rekreasi yang cukup sehingga anak yang tumbuh adalah anak yang sehat.




6.           Pemeliharaan Kesehatan
       a.  Kesehatan Lingkungan
               Menurut Hendrik L. Blume ( 1981 ) yang dikutif oleh Departemen Kesehatan RI ( 1993 ), derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh empat factor yaiutu: a) Faktor lingkungan, b) Faktor perilaku masyarakat, c) Faktor pelayanan kesehtan, dan d) Faktor keturunan.
               Faktor lingkungan mempunyai pengaruh yang paling dominan terhadap tingkat kesehatan maasyarakat. Ini telah dibuktikan oleh beberapa hasil penelitian an pengamatan. Faktor lingkungan ( fisik, biologi, dan sosial ) mempunyai kaitan yang erat dalam factor perilaku. Contoh sedarhana seperti kebiasaan atau perilaku buang air besar dan membuang smapah di sembarang tempat. Lingkungan dalam pengrtian luas adalah lingkungan tempat bermain, tidur, berlantai, belajar, jadi semua lingkungan dalam kehidupan.
Pemeliharan kesehatan lingkungan di sekolah TK dan Lingkungan PAUD di tititkberatkan kepada pengawasan terhadap bergai factor lingkungan yang memudahklan timbulnya penyakit ayau mempengaruhi derajat kesehatan anak TK dan anak PAUD. Hal ini dapat terlepas dari prilaku guru dan anak dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungannnya.
               Lingkungan pemeliharaan kesehatan dalam rangka pencegahan penyakit di TK dan PAUD pada dasarnya mengupayakan:
a)      Pengamatan sumber air terhadap pencemaran kotoran
b)      Pencegahan berkembangbiaknya vector penyakit, seperti lalat, dan serangga lainnya.
c)      Pengamatan makanan terhadap pencemaran kuman penyakit, dan
d)     Perubahan perilaku egenap warga sekolah ke arah prilaku hidup sehta yang dapt mencegah penularan penyakit.
Untuk mencapi kesehatan lingkungan ini perlu diperhatikan
a)      Bangunan sekolah dan lingkungannya
b)      Peralatan sekolah
c)      Sanitas sekolah yang memenuhi syarat kesehatan, dan
d)     Pemeliharaan dan pengawasan kesehatan  


Penjagaan lingkungan adalah misalnya pada lingkungan bermain, alat permainan diatur secara rapi. Selesai bermain, alat dikembalikan ke tempat semula, dan hal ini dibiasakan kepada anak. Penjagaan lain adal;ah membiasakan anak menjaga kebersihan diri. Jika kebiasaan bersih sudah ditanamkan sejak usia dini, maka ketika dewasa akan betingkah lau sesuai debgan norma kebersihan. Hal  ini juga berlaku dalam hal berpakaian, makan, dan semua kegiatan anak sehari – hari.
            Kebersihan lingkungan  tempat tinggal atau sekolah, mencakup halaman yang asri  dan bersih, ada tempat pembuangan sampah yang tertutup, saluranb air limbah yang cukup untuk menyalurkan ait kotor dan ventilasi untuk pertukaran udara yang cukup. Sampah hanya pada tempat sampah dan tidak tempat lainnya. Sampah hanya ditemukan pada tempat sampah dantidak di tempat lainnya. Ventilasi bangunan hendaknya memperhitungkan udara yang mengalir, dan cahaya matahari yang cukup.
            Ditinjau dari sudut masalah kesehatan dan gizi, maka anak usia taman kanak – kanak dan Paud yaitu tiga dengan enam tahun, termasuk golongan masyarakat yang disebut kelompok rentang gizi, yaitu kelompok masyarakat yang paling mudah menderita kelainan gizi, sedangkan pada saat ini mereka sedang mengalami proses petumbuhan yang relatif pesat, dan memerlukan zat – zat gizi dalam jumlah yang relatif besar. Khususnya untuk anak usia dini ini, sedang dalam masa perkembangan ( non fisik ) di mana mereka sedang dibina untuk mandiri, berprilaku menyesuaikan dengan lingkungan, peningkatan berbagai kemampuan, dan berbagai perkembangan lain yang membutuhkan fisik yang sehat. Maka kesehatan yang baik ditunjang oleh keadaan gizi yang baik, merupakan hal yang utama untuk tumbuh kembang yang optimal bagi seorang anak.
             
     
               
                  
    



MAKANAN SEHAT UNTUK ANAK USIA
TAMAN KANAK – KANAK DAN PAUD

C.    Pola Makan dan Kebiasaan Makan

a.                  Pangan bagi manusia merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi untuk dapat mempertahankan hidup serta menjalankan kehidupan. Seperti diketahui, makan diperlukan untuk memperoleh kebutuhan zat gizi yang cukup untuk kelangsungan hidup, pemulihan kesehat sesudah sakit, aktivitas, pertumbuhan dan perkembangan Secara fisiologik, makan merupakan suatu bentuk pemenuhan atau pemuasan rasa lapar.
Kebutuhan makan pada seseorang diperlukan secukupnya yang berarti kurang atau lebih dari cukup, terlebih dalam jangka waktu yang lama akan berdampak buruk pada kesehatan. Oleh sebab itu, telah disusun angka kecukupan gizi yang dianurkan sesuia utnuk penduduk yang timggal di wilayah tertentu.
Perlu diketahui adanya perbedaan zat makan dan atau nutrien dan bahan makanan. Zat makanan adalah satuan – satuan yang menyusun bhan makanan tesebut.
            Pengertian pola makan menurut Lie Goan Hong dalam Sri Karjati ( 1985 ) adalah berbagi imformasi yang memberikan gamabaran mengenia macam dan jumlah bahan makanan yang dimakan tiap hari oleh satu orang dan merupakan cirri khas untuk suatu kelompokan masyarakat tertentu.
            Pola makan ini akan dipengaruhi oleh beberapa hal, antaralain adalah: kebiasaan kesenangan, budaya, agama, taraf ekonomi, lingkungan alam, dan sebagainya. Sejak zaman dahulu kala makanan selain utnuk kekuatan/pertumbuhan, memenuhi rasa lapar, dan selera, juga mendapat tempat sebagai lambing yaitu lamabanag kemakmuran, kekuasaan, ketenteraman dan persahabatan.
Menurut Hertog dan VanStavenser dalam Khumaidi ( 1994 ) fungsi sosial makan mengandung enam unsur yaitu:
1)      Memenuhi kesenangannya
      Ciri – ciri organoleptik yang dimiliki makanan, yaiut cirri yang dapat dirasakan seseorang melalui indranya mempengaruhi seseorang unutk menerima aatau menolak makanan tertentu : rasa ( taste ), bau (odor ), suhu, penampilan ( appearance ), tektur ( keempukan ), dan struktur.
2)      Makanan sebagai arti budaya, misalnya adanya tumpengan untuk memperingati ulang tuhan.
3)       Makanan sebagi fungsi religi dan magis, misalnay sesajian kepada Dewi Sri sebagai lambing tertentu

4)      Makanan sebagai fungsi komunikasi, misalnya menyambut tamu dengan memberi makan, memberikan makanan tertentu kepada orang tertentu untuk dapat berhubungan.
5)      Makanan sebagi fungsi menyatakan status ekonomi, makanan tertentu lebih tinggi  ilai sosialnya dalam masyarakat, misalnya makanan daging daripada makan tempe.
6)      Makanan sebagi fungsi kekuasaan, misalnaya makanan suami lebih baik daripada anggota keluarga yang lain atau makanan majikan berbeda dengan makanan pembantunya.
Koentjaraningrat ( 1984 ) mayatakana bahwa kwbiasan makan individu, keluarga, dan masyarakat dipengaruhi oleh:
1)      Faktor prilaku termasuk disini adalah cara berpikir, berperasaan berpanadanagan tentang makanan.
2)      Faktor lingkungan social
3)      Faktor lingkungan ekonomi, daya beli, ketersedian uang kontan, sbb
4)      Lingkungan ekologi, kondisi tanah, iklim,lingkungan biologi, sistem usaha tani, sistem pasar dan sebagainya.
5)      Faktor ketersediaan bahan makanan
6)      Faktor perkembangan teknologi
1.      Masalah Makan pada Anak Usia Taman Kanak – Kanak
Masalah makan pada anak pada umunya adalah masalah kesulitan makan. Hal ini penting diperhatikan karena dapat menghambat tumbuh kembang optimal pada anak. Kesulitan makan adalah ketidakmampuan umtuk makan dan menolak makan tertentu.
Ada beberapa pendapat mengenai penyebab kesulutan makanan anak, menurut Palmen dan Horn yang dikemukakan oleh Samsudin ( 1985 ), antara lain adalah :
a)      Kelainan neuro – motorik
b)      Kelainan congenital
c)      Kelainan gigi – geligi
d)     Penyakit infeksi kut dan menahun
e)      Defisiensi nutrien, dan
f)       Psikologik   


Secara singkat dapat dijelaskan masing – masing penyebab tersebut sebagai berikut:
a.  Kelainan neuro – motorik
Secara naluriah, seorang bayi sudah dapt  menghisap dan kemudian menelan karena terdapat refleks menghisap dan menelan serta refleks-refleks lainnya. Bila ada kerusakan pada otak, maka bayi tidal dapat menghisap dan menelan. Kelainan neoro – motorik ini berupa retardasi mental, kelainan otot, inkoordinasi alat – alat tubuh, kelainan esophagus ( saluran menelan ) dan lainnya.
b. Kelainan kongenital
   Kelaianan ini mencakup kelainan yang berhubungan dengan alat pencernaan seperti lidah, saluran pencernaan. Kelainan merupakan kelainan yang secara mekanis menyebabkan anak mengalami kesulitan untuk makan atau menimbulkan muntah – muntah. Selain itu kelainan jantung bawaan mengakibatkan masukan kalori yang kurang adekuat disebaabkan hipermatabolisme infeksi yang berulang – ulang, dan lainnya.
c.  Penyakit infeksi akut dan menahun
   Pada akut saluran napas bagian atas, sering menimbulkan kurang nafsu makan (anorxia ) dan sulit menelan. Infeksi ini mempersukar anak untuk menerima makanan
d.       Defiensi nutrien /gizi
   Defiensi golongan nutrien yang pokok seperti kalori dan protein menimbulkan gejala anorexia karena produksi enzim pencernaan dan lambungyang kurang dan anak dalam keadaan apatis. Demikina juga defisiensi zat besi.
e. Psikologik
   Seringkali terjadi kelianan psikologik disebabkan kekeliruan pengelolaan orang tua dalam hal makan anaknya. Ada orang tua yang bersikap terlau melindungi dan ada orang tua yang terlalu memaksakan anaknya makan terlaul banyak melebihi keperluan anak.
2.      Upaya Mengatasi kesulitan Makan Anak
Akibat dari kesulitan makan jelas akan berpengaruh terhadap keadaan gizi seorang anak. Karena itu perlu diusahakan upaya utnuk mengatasi kesulitan makan ini. Upaya terpenting adalah menghilangkan penyebab kesulitan makan.


1)      Upaya dietetik
      Upaya ini berhubungan dengan pengaturan makanan yaitu merancang makanan. Bila menemui kesulitan untuk mengenal menu sehat seimbang dapat meminta bantuan atau berkonsultasi dengan ahli gizi. Dengan bantuan seorang ahli gizi dapaat dirancang makanan anak yang memenuhi persyaratan.
2)      Upaya psikologi
      Hubungan emosionala antara anak dan ibu hendaknya baik. Ibu perlu sabar, tenang, dan tekun. Adakan suasana makan yang menyenangkan anak, bersih, dan berikan pujian apabila anak melakukan cara makanan dengan baik serta cukup  makan.
4.      Bahan Makanan, Zat Gizi, dan Penyusunan menu
Makanan yang dikonsumsi,umumnya terdiri atas satu atau beberapa jenis bahan makanan. Sebagai contoh bahan makanan adalah telur, daging, ubi, sayur, dan sebagainya. Setiap bahan makanan terdiri atas beberapa zat gizi yang disebut nutrien sabagaimana telah diterangkan pada bagian terdahulu.
Tubuh manusia sendiri terdiri dari berbagai jaringan tubuh antara lain tulang, gigi, otot sekelet, hati, otot jantung, darah, dan otak.
Menurut Sediaoetama ( 1987 ) Zat gizi adalah satuan – satuan yang menyusun bahan makanan atau bahan – bahan dasar. Sedangkan bahan makanan adalah sesuatu yang dibeli, dimasak, dan disajikan sebagai hidangan untuk konsumsi. Hidangan yang dikonsumsi bukan hanya terdiri dari satu hidangan, tetapi dapat lebih dari satu yang bila dihidangkan bersama haruslah merupakan kombinasi yang saling melengkapi kebutuhan manusia. Satu hidangan terdiri dari beberapa bahan makanan yang masing – msing bahan makanan mengandung beberapa jenis zat gizi yang dapat melengkap satu sama lainnya.
a. Bahan Makanan
Di Indonesia dikenal susunan hidangan sehari – hari Indonesia ada empat kelompok, yaitu:
1)      Bahan makanan pokok
2)      Bahan makanan laut pauk
3)      Bahan makanan sayuran
4)      Bahan makanan buah – buahan
5)      Susu dan telur

1)        Bahan makanan pokok
      Dalam susunan hidangan Indonesia sehari – hari, bahan makanan pokok mrupakan bahan makanan yang memegang peranan penting. Bahan makanan pokok dapat dikenal dari makanan yang dihidangkan pada waktu makan pagi, siang atau malam. Pada umumnya porsi makanan pokok dalam jumlah ( kuantitas/volume ) terlihat lebih banyak dari bahan makanan lainnya.
2)      Bahan makanan Lauk - pauk 
      Bahan makanan lauk pauk di dalam pola makan orang Indonesia berfungsi sebagai teman makanan pokok yang memberikan rasa enak, merupakan zat gizi protein dalam menu makanan sehari – hari.
3)    Bahan makanan Sayur Mayur
         Dalam hidangan orang Indonesia, sayur mayur adalah sebagai teman makanan pokok, pemberi serat dalam hidangan serta pembasah karena umumnya dimasak berkauh.
         Tumbuhan atau nabati sebagai asal bahan makanan sayur mayur terdapat dalam berbagi jenis dan jumlah yang banyak di Indonesia.
4)            Bahan makanan Buah – Buahan
         Buah – buahan merupakan santapan terakhir dalam suatu acara makan atau dimakan kapan saja. Umumnya dipilih buah yang sudah ranum ( masak/tua ) dengan rasa manis dan dimakan mentah. Dapat juga buah – buah ini diolah atau diawetkan. Buah – buahan merupakan sumber vitamin bagi manusia.
5)            Susu 
         Susu adalah caiaran berwarna putih yang dikeluarkan oleh kelnjar susu. Istilah untuk air susu manusia adalah air susu ibu ( ASI ). Susu yang bukan berasal dari manusia disebut pengganti air susu ibu ( PASI ).
6)        Telur
         Telur merupakan cikak bakal makhluk hidup dalam hal ini unggas. Telur menjadi sumebr protein dan mineral yang baik bagi manusia, dapat dikonsumsi anak kecil sampai orang tua.
         Telur terdiri atas tiga komponen yang berbeda kandungan gizinya yaitu kulit telur, putih telur atau albumen, dan kuning telur.
b.      Zat Gizi
      Zat gizi atau zat makanan, merupakan bahan dasar penyusun bahan makanan. Menurut Sediaoetama ( 1987 ) ada liama fungsi zat gizi yaitu sebagai :
1)      Sumber energi atau tenaga. Jika fungsi ini tergangau, orang menjadi berkurabng geraknya atau kurang giat dan merasa cepat lelah.
2)      Menyokong pertumbuhan badan, yaitu penambahan sel baru pada sel yang sudah ada.
3)      Memelihara jaringan tubuh, mengantikan yang rusak atau tidak terpakai, yaitu mengantikan sel yang tampak jelas pada luka tubuh yaitu terjidinya jaringan penutup luka.
4)      Mengatur metabolisme dan berbagai keseimbangan dalam cairan tubuh ( keseimbangan air, asam basaan, dan mineral).
5)      Berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakti sebagai antioksidan dan antibodi lainnya.
      Zat gizi terdiri atas 1) karbohidrat atau hidrat arang, 2) protein atau zat putih telur, 3) lemak, 4) vitamin, 5) mineral. Kelima zat gizi ini dikaitkan dengan fungsi zat gizi digolongkan atas 1) zat gizi penghsil energi terdiri dari karbohidrat, lemak, dan protein 2) zat gizi pembangun sel terdiri dari protein, dan 3) zat gizi pengatur terdiri dari vitamin dan mineral.
Penjelasan singkat kelima zat gizi ini adalah:
1)      Karbohidrat
      Karbohidrat sebagio zat gizi merupakan nama kelompok zat – zat organic yang mempunyai struktur molekul yang berbeda – beda, meski terhadapat persamaan – persamaan dari sudut kimia dan fungsinya.


         




       
 



                                                              
D.    Prinsip Umum Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan anak usia dini yang diterapkan dalam kegiatan pendidikan anak adalah:
1.      Berorientasi pada kebutuhan anak.
2.      Kegiatan belajar dilakukan melalui bermain.
3.      Merangsang munculnya kreativitas dan inovatif
4.      Menyediakan lingkungan yang mendukun proses belajar.
5.      Mengembangkan kecakapan hidup anak.
6.      Mengunakan berbagai sumber bertahap dengan mengacu pada tahapan lingkungan sekitar.
7.      Dilaksanakan secara bertahap dengan mengacu pada tahapan perkembangan anak.
8.      Stimulasi pendidikan bersifat menyeluruh yang mencakup semua aspek perkembangan. 

E.     Prinsip Perkembangan Anak Usia Dini

1.      Anak akan belajar dengan baik apabila kebutuhan fisiknya terpenuhi dan merasakan aman serta nyaman dalam lingkungannya.
2.      Anak belajar terus menerus, dimulai dari membangun pemahaman tentang sesuatu, mengeksplorasi lingkungan. Menemukan kembali sesuatu konsep, sehingga mampu membuat sesuatu yang berharga.
3.      Anak belajar melalui interaksi sosial baik dengan oranag dewasa maupun dengan teman sebaya yang ada di lingkungan.
4.      Minat dan ketekunan anak akan memotivasi belajar anak.
5.      Perkembangan dan gaya belajar anak seharusnya dipertimbangkan sebagai perbedaan individu.
6.      Anak belajar dari yang sederhana ke yang komplek, dari yang konkrit ke abstrak, dari gerakan ke  verbal, dan dari diri sendiri ke sosial.

F.     Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Yang Mendasar

a.                  Kondisi Sumberdaya Manusia Indonesia
Berdasarkan hasil studi “ Kemampuan Membaca ײ siswa tingkat SD yang dilaksanakan oleh International Educational Achievemant ( IEA ) diketahui bahwa siswa SD di Indonesia berada dim urutan ke 38 dari 39 negara, hsil penelitian the Third Intenational Mathematics and Science Study Repeat tahun 1999, kemampuan siswa kita di bidang IPA berada di urutan ke 32 dari 38 negara yang diteliti dan bidang matematika berada di urutan ke 34 dari 38 negara yang diteliti. Rendahnya kualitas hasil pendidikan juga berdampak terhadap rendahnya kualitas sumberdaya manusia Indonesia. Menurut laporan UNDP tentang Human Development Index ( HDI ) pada tahun 2001 Indonesia menempati peringkat 102 dari 174 negara yang diteliti, jauh di bawah ASEAN lainya seperti, Singapura, Maliysia, Thailand, Dan Brunei Darusallam yang berada di peringkat 40-an.
Rendahnya kualitas pendidikan tersebut antara lain dipengaruhi oleh input-nya, terutama caln siswa sebagai row input. Rendahnya kualitas calon siswa didasarkan pada suatu kenyataan bahwa selama ini perhatian kita terhadap pendidikan bagi anak usia dini masih sangat rendah apabila dibandingkan dengan negara – negara tersebut di atas.
Belajar di pengalaman negara maju, konsep  pembangunan sumberdaya manusia telah mereka lakukan sejak masa usia dini. Pengembangan anak usia dini yang mencakup aspek Gizi, Kesehatan, dan psikososial ( pendidikan ) telah dilakukan secara intensif dan utuh sejak anak dilahirkan. Seperti di Singapura dan Korea Selatan misalnya, hampir semua anak usia dini telah terlayani PAUD. Contoh lain Malaysia, pelayanan PAUD mencakup 70 % anak. Bahkan di Singapura masalah penuntasan dua bahasa, yaitu bahasa Cina dan bahasa Inggris, telah terselesaikan di tingkat kindergarten ( Taman Kanak – kanak ). Sedang di negara kita penanganan anak usia dini msih terfokus pada upaya perbaikan Gizi dan kesehatan dasar untuk survival ( kelangsungan hidup ).
b.                  Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini
Berdasarkan kajian neurology dan psikologi perkembangan, kulitas anak usia dini yang nantinya menjadi input persekolahan, disamping dipergaruhi oleh faktor bawaan ( Nature ) juga sangat dipengaruhi oleh faktor kesehatan, gizi, dan psikososial yang diperoleh dari lingkungannya ( nuture ). Oleh karena Faktor bawaan harus kita terima apa adanya, maka faktor lingkunganlah yang harus direkayasa. Kita harus mengupayakannya semaksimal mungkin agar kekurangan yang dipengaruhi oleh faktor bawaan tersebtu dapat kita perbaiki. Pentingnya pendidikan bagi anak usia dini didasarkan adanya berbagai hasil penelitian yang menyebutkan bahwa masa usia dini merupakan periode krisis dalam perkembangan anak. Berdasarkan kajian neurology pada saat bayi otak bayi mengandung sekitar 100 milyar neuron yang siap melakukan sambungan antara sel. Selama tahun – tahun pertama, otak bayi berkembang sangat pesat dengan menghasilkan bertriyun – trilyun sambungan antara neuron yang banyaknya melebihi kebutuhan.
Fungsi pendidikan bagi anak usia dini tidak hanya sekedar untuk memberikan berbagai pengalaman belajar seperti pendidikan bagi orang dewasa, tetapi juga berfungsi mengoptimalkan perkembangan kapabilitas kecerdasannya. Pendidikan disini hendaknya diartikan secara luas, mencakup seluruh proses stimulasi psikososial yang tidak terbatas pada proses pembelajaran yang dikukan secara klasikal. Artinya pendidikan dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja, baik yang dilakukan sendiri di lingkungan keluarga maupun oleh lembaga pendidikan di luar ligkungan keluarga.

c.                   Pendidikan Untuk Masyarakat Marjinal
Bila selama ini Pendidikan Anak Usia Dini masih tergolong ekslusif dan hanya dinikmati oleh lapisan masyarakat tertentu, terutama di perkotaan, sudah saatnya memikirkan Pendidikan Anak Usia Dini untuk anak- anak dari keluarga miski, sangat rawan dan kurang berutungn, termasuk anak – anak yang tinggal di pedesaan dan daerah terpencil. Pelaksanaan PAUD di kalangan masyarakat menengah ke atas sepenuhnya diserahkan kepada keluarga dan masyarakat yang bersangkutan. Dalam hal ini peran Pemerintah sebatas pengendalian mutu dan pengawasan.
Pelaksanaan PAUD untuk kalangan masyarakat bawaah secara proporsional dipikul bersama antara pemerintah, msyarakat, dan keluarga.Secara proporsional artinya semakin sedikit. Sebaliknya untuk kalangan masyarakat yang tidak mampu, maka peran pemerintah semakin besar bahkan jika perlu menanggung seluruh biaya pendidikan yang diperlukan. Dalam penyelengaraan PAUD, termasuk yang pembiayaannya ditanggung pemerintah, diserahkan sepenunya kepada masyarakat untuk mengelolanya, Lembaga PAUD yang diselenggarakan pemerintah semata – mata untuk keperluan pengembangan percontohan.       
Sejalan dengan kebijakan otonomi daerah, dimana daerah memiliki peran lebih banyak untuk memikirkan kebutuhan daerah dan kepentingan masyarakat, kewenangan pusat terbatas pada pengaturan kebijakan strategis yang berskala nasional dan internasional, berupa oenetapan standar, pedoman, perencanaan makro dan pengawasannya. Dengan demikian pelaksanaan dan pengembangan PAUD sepenuhnya menjadi kewenangan dan tanggjuwab kita.[1]


[1] Makalah Mata Kuliah Antropobiologi PG PAUD FIP UNJ 2008, Yaya Sunaryo.

2 comments:

bestfriend said...

terimakasih ilmunya
hrv

yaya sunaryo said...

sama-sama mas said.

Post a Comment