Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Saturday, 5 December 2015

Ibu, Pendidik Pertama Anak



Dirjen PAUDNI:


warta September 5, 2013


SIMALUNGUN. Dirjen PAUDNI Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog, menegaskan pendidik pertama anak adalah ibu sehingga peranan ibu sangat menentukan berhasil tidaknya anak di masa depan. “Untuk itu, jika memang ada Ibu yang berkomitmen memilih pekerjaan di luar rumah, dan memilih orang lain untuk pendidikan anaknya hendaknya lebih dulu mengutamakan kepentingan anak,” katanya pada Seminar Penyelenggara PAUD di Parapat, Senin (26/08).
Caranya, tambah Dirjen yang didampingi Direktur Pembinaan PAUD Dr. Erman Syamsudin dan Bunda PAUD Kabupaten Simalungun Ny. Erunita JR Saragih, para ibu bisa menyakinkan lebih dulu  kesiapan anak baik secara fisik, sosial,maupun kecerdasan emosinya. “Jadi sebelum dititipkan mereka sudah siap. Jangan sampai  anak lain siap sementara anak kita tidak. Jadi saya harap  jadikanlah kita sebagai Ibu yang bisa menjadi kebanggaan anaknya,” kata Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog.
Selain itu, bagi ibu yang bekerja di luar rumah memiliki multiperan sehingga bisa lebih baik tapi lebih dulu memastikan kalau ibu memiliki keterampilan menyelesaikan masalah sehingga tidak berantakan.
Dirjen juga mengajak kepada para ibu yang bekerja di luar rumah harus bisa menyelesaikan lebih dulu tugas-tugasnya di rumah. Jangan karena gaji lebih besar dari suami, tugas itu diabaikan. “Kita tetap menyiapkan segala keperluan suami karena harus ingat bahwa Indonesia itu adalah patrealistik,” tambah Dirjen.
Hal lain yang diperhatikan ibu adalah pada usia anak 0-6 tahun, jadikanlah anak sebagai raja sehingga kita harus mengikuti semua keinginannya, jangan banyak melarang terhadap anak Balita, karena masa usia itu adalah masa yang paling indah. Tapi begitu usia anak 7-14 tahun, para ibu mulai menerapkan aturan-aturan.“Semua aturan harus dibuat mulai dari ganti baju dan cuci kaki kalau mau tidur, cuci tangan sebelum makan, gosok gigi dan lain-lain. Karena usia itu masa kritis sehingga anak harus patuh terhadap aturan yang dibuat kalau tidak, kelak anak akan tidak punya aturan,[1]



[1] Dipos Oleh : Yaya Sunaryo, S.Pd.

Tuesday, 1 December 2015

Jangan Sampai Anak Lupa Bermain



 

Orang Tua Yang Hanya Mengagungkan Prestasi

Dunia anak adalah bermain. Namun ada orang tua yang merampas hak anak itu karena menginginkan anaknya berprestasi di bidang akademis. Seperti mengikutsertakan anak ke berbagai les atau kursus setelah pulang sekolah. Itulah yang membuat anak-anak menjadi stres, hal ini harus dihindari.

Pendapat Ahli

 

Mayke S. Tedjakusuma, psikolog perkembangan anak dan terapi bermain, mengatakan seiring globalisasi menuntut persaingan menjadi lebih ketat. Kondisi ini membuat orangtua khawatir ketika anaknya dianggap tidak dapat bersaing. Tuntutan itu disambut kalangan bisnis menawarkan beraneka kursus atau les. Orangtua pun mengikutsertakan anak-anaknya beragam les. Para orangtua tidak menyadari apakah les yang diikuti oleh anak-anaknya itu membuat happy atau hanya membebani mentalnya.
”Jangan pernah memaksa anak-anak. Biarkan anak-anak menikmati masanya anak-anak. Tidak dengan tuntutan macam-macam, sehingga membuat anak tidak senang. Masa anak-anak itu tidak tergantikan,” kata Mayke. Peran sekolah juga menambah beban mental anak. Ketika orangtua khawatir dengan prestasi anak-anaknya, direspons oleh sekolah dengan membuat standar dan materi setinggi mungkin. Padahal kurikulum itu belum tentu sesuai dengan anak-anak dan akhirnya hal itu menambah beban mental anak.
Dia menyarankan agar orangtua kembali ke pola pengasuhan yang postitive parenting, yakni pola pengasuhan yang dilakukan dengan cara suportif, konstruktif, serta menyenangkan bagi anak. Suportif adalah mendukung perkembangan anak, konstruktif dilakukan dengan cara yang positif yang menghindari kekerasan hukuman. Menyenangkan dilakukan melalui kegiatan bermain. Jika orangtua terlalu mengagungkan prestasi akan membuat anak stres,” kata Mayke.
Orangtua harus tahu tumbuh kembang anak. Misalnya kapan anak siap membaca dan menulis. Bukan memaksakan anaknya bisa menulis pada usia 3 tahun. Padahal memegang pensil saja belum bisa. Lebih baik memberikan stimulasi positif untuk anak. Stimulasi itu berdampak terhadap fisik motorik, psikososial, kepribadian, kemampuan bahasa, berpikir serta kecerdasan, dan kreativitas.
Untuk mengetahui stimulasi positif yang diberikan, orang tua juga harus banyak belajar dan mencari informasi dari internet atau buku. Tetapi yang terpenting adalah keinginan kuat (passion) dari orangtua untuk mau membesarkan anak secara optimal. ”Ada juga orangtua yang tidak tahu bagaimana menstimulasi bahasa anaknya yang sudah berusia 2 tahun, tetapi belum bisa bicara. Setelah diberi tahu, anaknya mengalami perkembangan bahasa yang pesat,” kata Mayke.

Lima Pilar

 

Ada lima pilar dalam pengasuhan yang positif dari orangtua. Kelima pilar itu adalah awal eksplorasi, awal percaya diri, awal tanggung jawab, awal tumbuh optimal, dan awal komunikasi positif. Dengan mengembangkan kelima pilar itu menjadi bekal anak dalam menghadapi persaingan global. ”Orangtua juga harus konsisten, boleh atau tidak. Kalau tidak konsisten anak jadi was-was apakah boleh atau tidak tentang suatu hal,” kata Mayke.

Pujian dan Dukungan

 

Untuk tumbuh kembang optimal, orangtua perlu mengetahui kelebihan dan kekurangan anak. Memberikan pujian yang sesuai ketika anak berhasil dan memberikan dukungan ketika anak mengalami kegagalan atau ragu-ragu.
Sumber : Warta Kota, Minggu 15 Agustus 2010


Monday, 30 November 2015

PENDIDIKAN ANAK DALAM KELUARGA




Oleh : Yaya Sunaryo, S.Pd
Praktisi&Pemerhati Anak Usia Dini

APA ITU ANAK

  Menurut UU No.23/2002, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun termasuk anak yang masih ada dalam kandungan.

    ANAK USIA DINI USIA DINI ADALAH MASA EMAS UNTUK MEMBERIKAN STIMULASI DALAM RANGKA MENGOPTIMALKAN FUNGSI OTAK


ANAK  BUKAN  ORANG DEWASA MINI

APA ITU KELUARGA

q       Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami, istri, dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya, atau keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai dengan derajat ketiga.

POLA  ASUH

·  Pola asuh merupakan pola interaksi antara orang tua dan anak, bagaimana sikap orang tua kepada anak, bagaimana menanamkan aturan, dan bagaimana mengajarkan nilai dan norma kepada anak. ·      Ilmu yang membahas tentang heriditas (keturunan) telah menetapkan, bahwa anak akan mewariskan sifat-sifat dari kedua orang tuannya, baik moral, fisik, maupun intelektual, sejak masa kelahiran.

SYARAT POLA ASUH EFEKTIF

               Pola asuh harus dinamis
              Ayah-ibu mesti kompak
             Pola asuh disertai perilaku positif dari orang tua
           Komunikasi efektif
           Orang tua konsisten



BEBERAPA JENIS POLA PENGASUHAN

          Authoritarian/otoriter/koersif parenting
          Permissive parenting
        Autoritative/demokratis/dialogis parenting

AUTHORITARIAN/OTORITER/KOERSIF PARENTING

  Pola asuh ini selalu menuntut anak untuk menuruti kemauan orang tua.
  Pola Asuh ini hanya mengenal Hukuman dan Pujian dalam berinteraksi dengan anak. Pujian akan diberikan mana kala anak melakukan sesuai dengan keinginan orang tua. Sedangkan hukuman akan diberikan manakala anak tidak melakukan sesuai dengan keinginan orang tua.
  Orang tua tipe ini cenderung memaksa, memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak.
  Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi, dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah.

DALAM SEBUAH RIWAYAT DISEBUTKAN :

            “Allah menjadikan kasih sayang di dalam hati orang-orang yang dikehendaki-Nya dari para hamba-Nya. Dan sesungguhnya Allah hanya mengasihi hamban-hamba-Nya yang suka mengasihi.

DAMPAKNYA

             Anak menjadi penakut dalam mengambil keputusan
            Pendiam
           Tertutup 
          Kurang memiliki inisiatif 
          berkepribadian lemah, dan
           Selalu merasa cemas  

PERMISSIVE PARENTING

  Membuat anak bahagia dengan cara memberikan kebebasan sepenuhnya kepada anak.
  Orang tua memberi pengawasan yang longgar kepada anak untuk melakukan sesuatu
  Orang tua sedikit sekali memberikan bimbingan kepada anak.

DAMPAKNYA
  Agresif 
  Pembangkang
  Manja 
  Egois
  Kurang matang secara sosial. 

AL-BUKHARI TELAH MERIWAYATKAN,
·         bahwa Abu Hurairah r.a telah berkata : “Rasulullah Saw. Telah mencium Al-Hasan bin Ali. Ketika itu di sisi beliu duduk Al-Aqra’bin Habis At-Tamimi. Al-Aqra’ berkata, “Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak, tapi tak satu pun di antara mereka pernah aku cium.” Maka Rasulullah Saw. Memandangnya dan bersabda, “Barangsiapa yang tidak mengasihi, tidak akan dikasihi.”

AUTORITATIVE/DEMOKRATIS/DIALOGIS PARENTING

  Orang tua memberikan aturan dengan konteks yang lebih hangat.
  Anak diberikan kebebasan sekaligus tangggung jawab untuk setiap perilakunya.
  Orang tua tipe ini bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak.

DAMPAKNYA

  anak yang mandiri,
  dapat mengontrol diri,
  mempunyai hubungan baik dengan teman,
  mempunyai minat terhadap hal-hal baru,
  koperatif terhadap orang-orang lain.

DAN HADIS RIWAYAT ASHABUS SUNAN DARI NU’MAN BIN BASYIR R.A. :

·         “Berbuat adillah di antara anak-anakmu, berbuat adillah di antara anak-anakmu, berbuat adillah di antara anak-anakmu.

 
PENDIDIKAN KARAKTER?

KARAKTER?

             Menurut (Ditjen Mandikdasmen - Kementerian Pendidikan Nasional), Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat,  bangsa  dan  negara. 

PENDIDIKAN KARAKTER?

            Suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti (Thomas Lickona)

SEORANG PENYAIR YANG BERKATA :

·         “ Adalah berguna mendidik anak di waktu kecil dan tidak berguna mendidiknya pada usia dewasa.    Adalah mudah meluruskan ranting yang bengkok dan tidaklah mudah meluruskannya jika telah menjadi batang.

MENGAPA PENDIDIKAN KARAKTER PENTING?
FAKTA YG TERJADI

Masih banyak kasus tawuran pelajar, narkoba, sex bebas , Korupsi
 Pendidikan  Karakter tidak hanya disampaikan dan diucapkan tetapi  harus dengan contoh, keteladanan, dan pembisaan

KAPAN WAKTU YANG TEPAT UNTUK MEMBANGUN KARAKTER ANAK?

MENGAPA PENDIDIKAN KARAKTER HARUS DIBANGUN SEJAK DINI?

  Usia 0-6 otak berkembang sangat cepat (80%)
  AUD lebih cepat menyerap informasi/ perilaku dari lingkungan sekitarnya
  Pengalaman anak pada tahun pertama menentukan kualitas kehidupannya dimasa akan datang

PERKEMBANGAN OTAK MANUSIA

  0 - 4 tahun mencapai 50 %
   4 – 8 tahun, mencapai 80 %
  8 - 18 tahun mendekati 100%


NILAI-NILAI KARAKTER PADA AUD MENCAKUP
 
1. Aspek Spiritual
2.
Aspek Personal/kepribadian
4.
Aspek Sosial
5.
Aspek Lingkungan

NILAI-NILAI KARAKTER (9 PILAR)

1. Cinta Tuhan dan segenap   ciptaannya
2.
Kemandirian dan Tanggung jawab
3.
Kejujuran/Amanah, Bijaksana
4.
Hormat dan santun
5.
Dermawan, Suka Menolong, dan   GotongRoyong
6.
Percaya diri, Kreatif, dan Pekerja Keras
7.
Kepemimpinan dan Keadilan
Baik dan Rendah hati
8.
Toleransi, Kedamaian, dan Kesatuan

PRINSIP PENDIDIKAN KARAKTER AUD
 
1. Melalui contoh dan keteladanan
2.
Dilakukan secara berkelanjutan
3.
Menyeluruh semua aspek perkembangan
4.
Menciptakan rasa kasih sayang
5.
Aktif memotifasi anak
6.
Melibatkan Pendidik,  tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat
7.
Adanya penilaian

BERKAITAN DENGAN ORANG TUA

 Keluarga merupakan lembaga yang paling penting dalam pendidikan dan pengembangan anak
Orang tua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak

Renungkan sebagai perkataan Imam Ghazali dalam bukunya Ibya ulumiddin mengenai kebiasaan anak berperangai baik atau jahat sesuai dengan kecenderungan dan nalurinya. Ia mengatakan :

· “ Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang suci adalah permata yang sangat mahal harganya. Jika dibiasakan pada kejahatan dan dibiarkan seperti dibiarkannya binatang, ia akan celaka dan binasa. Sedang memeliharanya adalah dengan upaya pendidikan dan mengajari akhlak yang baik.”

SEPERTI PENYAIR YANG MENGATAKAN :

· “ Anak akan tumbuh pada apa yang dibiasakan ayahnya kepadanya,   Ia tidak dapat tunduk oleh akal, tetapi kebiasaanlah yang dapat menundukkanya.

MAGIC WORDS / KATA-KATA AJAIB
1. SALAM (ASSALAMUALAIKUM, SELAMAT PAGI/SIANG)…………………
2. MAAF………………………….
3. PERMISI………………………
4. TOLONG………………………
5. BISA DIBANTU……………….
6. TERIMAKASIH……………….
7. BOLEHKAH…………………..
8. DENGAN SENANG HATI……
9. SILAHKAN……………………. 

KESIMPULANNYA….
· “Didiklah anak-anak kalian dengan metode pendidikan yang kalian terima (dari orang tua kita), karena sesungguhnya mereka diciptakan untuk (hidup pada) satu zaman yang berbeda dengan zaman kita”.


· JIKA  DIBESARKAN DENGAN CELAAN, ANAK BELAJAR MEMAKI
· JIKA DIBESARKAN DENGAN PERMUSUHAN, IA AKAN BELAJAR BERKELAHI
· JIKA DIBESARKAN DENGAN CEMOOHAN, IA AKAN BELAJAR RENDAH HATI
· JIKA DIBESARKAN DENGAN PENGHINAAN, IA AKAN BELAJAR MENYESALI DIRI
· JIKA DIBESARKAN DENGAN DORONGAN, IA AKAN BELAJAR PERCAYA DIRI
· JIKA DIBESARKAN DENGAN PUJIAN, IA AKAN BELAJAR MENGHARGAI
· JIKA DIBESARKAN DENGAN RASA AMAN, IA AKAN BELAJAR MENARUH KEPERCAYAAN
· JIKA DIBESARKAN DENGAN DUKUNGAN, IA AKAN BELAJAR MENYENANGI DIRINYA
· JIKA DIBESARKAN DENGAN SEBAIK-BAIKNYA PERLAKUAN, IA AKAN BELAJAR KEADILAN
· JIKA DIBESARKAN DENGAN KASIH SAYANG DAN PERSAHABATAN, IA AKAN BELAJAR MENEMUKAN CINTA DALAM KEHIDUPAN!


· “Allah mengasih orang yang membantu anaknya berbakti kepadanya (Ali Bin Abi Thalib).
· Sebagai orangtua kita patut menyadari bahwa ketika kita menggendong anak kita dengan penuh kasih sayang, sesungguhnya kita tengah menggendong “masa depan” kita sendiri; ketika kita asyik bermain-main dengan anak, sesungguhnya kita tengah menciptakan “sejarah”kita sendiri. 
· “Ukuran kemajuan suatu keluarga bukanlah keberlimpahan harta dan banyaknya pembantu bekerja di rumah, melainkan kebaikan pribadi dan karakter anggota keluarga itu. Ukuran keberhasilan sebuah keluarga adalah seberapa jauh orangtua dapat mendidik dan mengasuh anak mereka sehingga tumbuh menjadi pribadi yang menarik dan dicintai semua orang 
· Mari kita didik anak anak kita dengan sebaik-baiknya. Pertama mendidik anak dengan IMAN, untuk menghindari kesia-siaan. Kedua mendidik anak dengan ILMU, untuk menghindari kesalahan, dan ketiga mendidik anak dengan CINTA, untuk mendatangkan kebahagiaan.