Tuesday, 15 December 2015

Model Quantum Learning



Model Quantum Learning

Quantum Learning merupakan pengubahan berbagai interaksi yang ada pada momen belajar. Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur belajar yang efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. (De Potter, 1999:5) Dari kutipan tersebut diperoleh pengertian bahwa pembelajaran quantum merupakan upaya pengorgani-sasian bermacam-macaminteraksiyangadadisekitarmomenbelajar.
Pembelajaran dikiaskan sebagai suatu simfoni yang terdiri dari berbagai alat musik sebagai unsurnya dan guru merupakan kunduktor sebuah simfoni. Guru berusaha mengubah semua unsur itu menjadi simfoniyangindahbagisemuaorangdikelasnya.Asas utama Pembelajaran Quantum adalah “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka”. Dari asas tersebut tersirat bahwa untuk melaksanakan suatu pembelajaran diperlukan pemahaman yang cukup tentang audience kita. Dengan begitu akan memudahkan semua proses pembelajaran itu sendiri. Pemahaman itu amat penting karena setiap manusia memiliki dinamikanya sendiri. Dan siswa sebagai manusia telah dibakali dengan berbagai potensiuntuk berkembang.
Prinsip-PrinsippembelajaranQuantum:1) Segalanya berbicara. Segala seuatu yang ada di lingkungan kelas sampai body language dapat digunakan untuk pembelajaran. Mulai dari kertas yang dibagikan kepada siswa hingga rancangan pelajaran dapat digunakan untuk mengirim pesan belajar.2) Segalanya bertujuan. Semua yang terjadi di kelas atau dalam proses pengubahan, memiliki tujuan. 3) Pengalaman sebelum pemberian nama. Otak manusia berkembang karena adanya rangsangan yang kompleks, yang mendorong rasa ingin tahu. Pembelajaran yang baik adalah yang diawali rasa ingin tahu, dimana anak memperoleh informasi tentang sesuatu sebelum mengetahui namanya.4) Akui setiap saat. Pembelajaran merupakan proses yang mengandung resiko karena mempelajari seuatu yang baru, biasanya tidak nyaman dan ketika mereka mulai langkah untuk belajar, mereka harus dihargai. 5) Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan (diselenggarakan).
Perayaan adalah sarapan pelajar juara. Dari prinsip ini tersirat bahwa kecerian para siswa sejak awal masuk kelas dapat mendorong kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar.Sebagai sebuah simfoni, pembelajaran quantum memiliki banyak unsur yang menjadi faktor pengalaman belajar. Unsur itu dibagi menjadi dua kategori yaitu Konteks dan Isi.Konteks merupakan latar untuk pengalaman diantaranya lingkungan yang berisi keakraban, suasana yang mencerminkan semangat guru dan murid, Landasan yaitu keseimbangan kerjasama antara alat pelajaran dan siswa, Rancangan yaitu interpretasi guru terhadap pelajaran.Bagian Isi merupakan bagian yang tak kalah penting dengan bagian konteks. Pada bagian Isi ini materi pelajaran merupakan not-not lagu yang harus dimainkan.
Salah satu unsur dalam bagian isi ini adalah bagaimana tiap tahap musik itu dimainkan atau bagaimana pelajaran disajikan (penyajian). Isi juga meliputi keterampilan guru sebagai sang maestro untuk memfasilitasi pembelajaran dengan memanfaatkan bakat dan potensi setiap siswa. Keajaiban pengalaman akan terbuka bila konteksnya tepat. Kerangka Rancangan Pembelajaran Quantum Dengan dasar prinsip-prinsip di atas maka dapatlah disusun kerangka rancangan Pembelajaran Quantum sebagai berikut:1) Tumbuhkan minat dengan selalu mengarahkan siswa terhadap pemahaman tentang apa manfaat setiap pelajaran bagi diri siswa dan Manfaatkan kehidupan siswa, atau “Apakah manfaatnya Bagiku” (AMBAK) .2) Alami: Buatlah pengalaman umum yang dapat di mengerti oleh semua siswa. 3) Nama: Guru harus menyediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi sebagai masukan. 4) Demonstrasikan: Sebaiknya guru menyediakan kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan apa yang mereka sudah ketahui.5) Ulangi: Guru harus menunjukkan cara mengulangi materi dan menegas-kan ”Aku Tahu Bahwa Aku Memang Tahu”.6) Rayakan: Guru harus memberikan pengakuan terhadap setiap penyele-saian, partisipasi dan pemerolehan keterampilan dan pengetahuan siswa. Landasan Psikologis Pembelajaran Quantum. Pembelajaran Quantum merupakan pembelajaran yang berfokus kepada siswa (student centre). Hal ini terlihat dari prinsip utamanya dan prinsip lainnya yang berdasar kepada landasan–landasan psikologis dan sistem kerja otak seperti dijelaskan oleh Meisenzahl (2003): “Quantum learning is a teaching methodology based on 20 years of research about how the brain works”. Landasan psikologis yang melatar belakangi pembelajaran quantum adalah sebagai berikut:1) Metode Sugestiologi Quantum Teaching pada dasarnya bertumpu kepada Quantum Learning yang dikembangkan dari pemikiran “suggetiology” yang dikemukakan oleh Lozanov dalam De Potter dan Hernacky (1999:14) berprinsip bahwa: “Sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detail apapun dapat memberikan sugesti positif atau negatif”. Metode sugestiologi yang dikenal sebagai “accelerated learning” menunjukan bahwa pengaruh guru sangat besar dan jelas terhadap keberhasilan siswa. Sugesti memiliki kekuatan yang sangat besar dan mendalam. Sugesti sering digunakan dalam periklanan dengan bahasa verbal dan tubuh. Meskipun tidak secara sadar kita mengingat sugesti, otak akan berperan sebagai sponsor yang menyerap informasi lebih cepat dari yang kita bayangkan. Berdasarkan pemikiran tersebut hampir dapat dipastikan bahwa setiap detail belajar sangat berarti, mulai dari nada suara, penggunaan musik, pengaturan kursi sampai lingkungan belajar. 2) Psikologi daya De Potter dalam Nggermantos (2001) berpendapat “Setiap orang memiliki potensi otak yang sama besar dengan Einstain, tinggal bagaima-na kita mengolahnya”. Selanjutnya bila seseorang dapat mengenali tipe belajarnya yang sesuai maka belajar akan terasa sangat menyenangkan dan memberikan hasil yang optimal. Lebih jauh Diamon dalam De Potter (1999) mempertegas pendapat tersebut, dengan menyimpulkan bahwa “Pada umur berapapun sejak lahir sampai mati ada kemungkinan dapat meningkatkan kemampuan mental melalui rangsangan lingkungan”.Berbagai penjelasan di atas dapat diketahui betapa pentingnya lingkungan belajar sebagai pemberi stimulus. Lingkungan memberikan konstribusi sangat besar terhadap hasil belajar setiap orang di setiap usia. Stimulus yang diberikan lingkungan sangat menentukan perkembangan dan kemajuan yang dicapai.  Besarnya pengaruh stimulus terhadap perkembangan seseorang, didukung Pendapat Pulos yang menyatakan: “Certain types of stimulations not only change the chemistry of brain but can actually increase brain cells and brain size and dramatically boost intelligence”. Dari pendapat itu jelas bahwa semakin banyak rangsangan terhadap otak dengan aktifitas yang sesuai semakin banyak jaringan sel yang tersambung dan potensi atau kemampuan seseorang akan semakin berkembang.
Perkembangan dapat terjadi karena otak kita berbicara dalam 4 bahasa elektrik yang menggambarkan tingkat kesadaran, metoda mem-proses dan mempelajari informasi baru. Menurut Pulos empat jenis bahasa elektrik tersebut adalah gelombang Beta yang bergerak dengan kecepatan 13-100 Hz pada saat terjaga dan konsentrasi, gelombang Alpa 8-12 Hz dalam keadaan pasif atau tenang secara pisik, gelombang Theta 4-8 Hz pada saat mimpi yang tak diharapkan atau bayangan masa kecil, gelombang Delta 0,5 - 4 Hz dalam keadaan tidur yang merupakan dasar paling dalam kesadaran.Aktifitas yang paling cepat dari gelombang otak adalah pada saat gelombang Beta bergerak ketika mata berinteraksi dengan dunia luar, dalam keadaan waspada dan berkonsentrasi. Hal tersebut sangat diperlukan demi efektifitas belajar.
Perkembangan potensi manusia Menurut Zohar dalam Vella (2003) dapat terjadi karena didalam otak terdapat energy (quanta) yang dapat digunakan untuk berpikir dengan mengaktifkan semua bagian otak. “We can do quantum thinking by using a neural network of networks, the whole brain, creatively projecting, predicting, describing, envisioning, inventing”.
Dengan mengaktifkan semua bagian jaringan saraf pada semua bagian otak, berpikir quantum dapat dilakukan.  Aktifitas berpikir quantum seperti proyeksi kreatif, menebak, menjelaskan, membayangkan, menemukan dapat menjadi alat pemicu perkembangan kemampuan dan potensi setiap orang.3) Modalitas belajar Otak manusia terdiri dari tiga bagian yang merupakan modalitas untuk memproses rangsangan yang datang dari luar.
Modalitas tersebut adalah visual, auditorial, kinestic yang merupakan saluran komunikasi yang membantu memahami dunia luar. Menghadirkan kegiatan yang co-cok dengan modalitas akan memperkuat penerimaan siswa. Lebih jauh menurut Pulos dengan mengaktifkan semua bagian otak melalui pende-katan Stimulation Multysensory pada proses belajar, siswa akan lebih terfokus dan berhasil dibanding dengan pendekatan Passive-Receptive pada setting kelas pada umumnya. Penjelasan di atas menunjukkan betapa pentingnya mengenali per-bedaan gaya belajar siswa dan menyesuaikan pembelajaran dengan mo-dalitas siswa meskipun cukup sulit untuk melakukannya. Hal penting yang dapat dijadikan pegangan dalam menyesuaikan pembelajaran dengan per-bedaan modalitas siswa adalah bahwa setiap orang berkemampuan untuk belajar dan mereka belajar dengan cara yang berbeda (Meisenzahl, 2003)4) Multi IntelegenceMitos bahwa intelegensi manusia tidak berubah ternyata dibuktikan salah oleh Gardner dari Harvard setelah melakukan riset tentang kecer-dasan manusia. Ia menyatakan bahwa IQ hanyalah salah satu kecerdasan manusia karena manusia memiliki multi intelegensi sebagai potensi yang sangat besar. Potensi itu terdiri dari kecerdasan logis-matematis, kecerda-san linguistik, verbal, kecerdasan kinestik, kecerdasan emosional (inter-personal dan intrapersonal), kecerdasan naturalist, kecerdasan intuisi, kecerdasan moral, kecerdasan eksistensial, kecerdasan spiritual. Dapat dibayangkan begitu banyaknya potensi yang terkandung pada diri siswa namun betapa tidak mudahnya untuk mengenalinya, apalagi mengguna-kannya untuk mengakses keberhasilan mereka di dalam kelas. Namun dalam pendekatan quantum semua potensi itu harus digunakan seperti menurut Zohar dalam Vella (2003): “Quantum learning is that which uses all of the neural networks in the brain, putting things together in idiosyncratic and personal ways to make significant meaning”.  

Dalam upaya menggunakan semua potensi itu haruslah berpegang kepada prinsip seperti menurut  Meisenzahl (2003) sebagai berikut:
-Setiap orang berkemampuan untuk belajar.
- Setiap orang belajar dengan cara yang berbeda.
- Keyakinan sangat penting bagi keberhasilan seseorang.
- Penghargaan dan perhatian bagi tiap individu adalah penting.
- Belajar akan lebih effektif bila disajikan dalam keceriaan dan ling-kungan yang menantang.
- Rasa aman dan percaya antara guru dan siswa merupakan bagian proses belajar yang penting.
- Guru harus menunjukan semagat dan antusiasme untuk belajar.
Quantum Learning dimulai dari Super Camp, sebuah program akselerasi belajar yang memperkenalkan tiga keterampilan dasar, yakni keterampilan akademis, prestasi fisik, dan keterampilan hidup. Menurut penlitian, hasilnya demikian impresif. Setelah mengikuti kegiatan ini, motivasi belajar siswa meningkat, dan keterampilan belajar pun berkembang.[1]















[1] Hidayah-ilayya.blogspot.com/…/pengembangan –model-model-pembelajaran.html-diunduh tgl. 23 april 2012

0 comments:

Post a Comment