Model Quantum
Learning
Quantum Learning
merupakan pengubahan berbagai interaksi yang ada pada momen belajar.
Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur belajar yang efektif yang
mempengaruhi kesuksesan siswa. (De Potter, 1999:5) Dari kutipan tersebut
diperoleh pengertian bahwa pembelajaran quantum merupakan upaya
pengorgani-sasian bermacam-macaminteraksiyangadadisekitarmomenbelajar.
Pembelajaran
dikiaskan sebagai suatu simfoni yang terdiri dari berbagai alat musik sebagai
unsurnya dan guru merupakan kunduktor sebuah simfoni. Guru berusaha mengubah
semua unsur itu menjadi simfoniyangindahbagisemuaorangdikelasnya.Asas utama
Pembelajaran Quantum adalah “Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, Antarkan Dunia
Kita ke Dunia Mereka”. Dari asas tersebut tersirat bahwa untuk melaksanakan suatu
pembelajaran diperlukan pemahaman yang cukup tentang audience kita. Dengan
begitu akan memudahkan semua proses pembelajaran itu sendiri. Pemahaman itu
amat penting karena setiap manusia memiliki dinamikanya sendiri. Dan siswa
sebagai manusia telah dibakali dengan berbagai potensiuntuk berkembang.
Prinsip-PrinsippembelajaranQuantum:1)
Segalanya berbicara. Segala seuatu yang ada di lingkungan kelas sampai body
language dapat digunakan untuk pembelajaran. Mulai dari kertas yang dibagikan
kepada siswa hingga rancangan pelajaran dapat digunakan untuk mengirim pesan
belajar.2) Segalanya bertujuan. Semua yang terjadi di kelas atau dalam proses
pengubahan, memiliki tujuan. 3) Pengalaman sebelum pemberian nama. Otak manusia
berkembang karena adanya rangsangan yang kompleks, yang mendorong rasa ingin
tahu. Pembelajaran yang baik adalah yang diawali rasa ingin tahu, dimana anak
memperoleh informasi tentang sesuatu sebelum mengetahui namanya.4) Akui setiap
saat. Pembelajaran merupakan proses yang mengandung resiko karena mempelajari
seuatu yang baru, biasanya tidak nyaman dan ketika mereka mulai langkah untuk
belajar, mereka harus dihargai. 5) Jika layak dipelajari, maka layak pula
dirayakan (diselenggarakan).
Perayaan adalah
sarapan pelajar juara. Dari prinsip ini tersirat bahwa kecerian para siswa
sejak awal masuk kelas dapat mendorong kemajuan dan meningkatkan asosiasi emosi
positif dengan belajar.Sebagai sebuah simfoni, pembelajaran quantum memiliki
banyak unsur yang menjadi faktor pengalaman belajar. Unsur itu dibagi menjadi
dua kategori yaitu Konteks dan Isi.Konteks merupakan latar untuk pengalaman
diantaranya lingkungan yang berisi keakraban, suasana yang mencerminkan
semangat guru dan murid, Landasan yaitu keseimbangan kerjasama antara alat
pelajaran dan siswa, Rancangan yaitu interpretasi guru terhadap
pelajaran.Bagian Isi merupakan bagian yang tak kalah penting dengan bagian
konteks. Pada bagian Isi ini materi pelajaran merupakan not-not lagu yang harus
dimainkan.
Salah satu unsur
dalam bagian isi ini adalah bagaimana tiap tahap musik itu dimainkan atau
bagaimana pelajaran disajikan (penyajian). Isi juga meliputi keterampilan guru
sebagai sang maestro untuk memfasilitasi pembelajaran dengan memanfaatkan bakat
dan potensi setiap siswa. Keajaiban pengalaman akan terbuka bila konteksnya
tepat. Kerangka Rancangan Pembelajaran Quantum Dengan dasar prinsip-prinsip di
atas maka dapatlah disusun kerangka rancangan Pembelajaran Quantum sebagai
berikut:1) Tumbuhkan minat dengan selalu mengarahkan siswa terhadap pemahaman tentang
apa manfaat setiap pelajaran bagi diri siswa dan Manfaatkan kehidupan siswa,
atau “Apakah manfaatnya Bagiku” (AMBAK) .2) Alami: Buatlah pengalaman umum yang
dapat di mengerti oleh semua siswa. 3) Nama: Guru harus menyediakan kata kunci,
konsep, model, rumus, strategi sebagai masukan. 4) Demonstrasikan: Sebaiknya
guru menyediakan kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan apa yang mereka sudah
ketahui.5) Ulangi: Guru harus menunjukkan cara mengulangi materi dan
menegas-kan ”Aku Tahu Bahwa Aku Memang Tahu”.6) Rayakan: Guru harus memberikan
pengakuan terhadap setiap penyele-saian, partisipasi dan pemerolehan
keterampilan dan pengetahuan siswa. Landasan Psikologis Pembelajaran Quantum. Pembelajaran
Quantum merupakan pembelajaran yang berfokus kepada siswa (student centre). Hal
ini terlihat dari prinsip utamanya dan prinsip lainnya yang berdasar kepada
landasan–landasan psikologis dan sistem kerja otak seperti dijelaskan oleh
Meisenzahl (2003): “Quantum learning is a
teaching methodology based on 20 years of research about how the brain works”. Landasan
psikologis yang melatar belakangi pembelajaran quantum adalah sebagai
berikut:1) Metode Sugestiologi Quantum Teaching pada dasarnya bertumpu kepada
Quantum Learning yang dikembangkan dari pemikiran “suggetiology” yang dikemukakan oleh Lozanov dalam De Potter dan
Hernacky (1999:14) berprinsip bahwa: “Sugesti dapat dan pasti mempengaruhi
hasil situasi belajar, dan setiap detail apapun dapat memberikan sugesti
positif atau negatif”. Metode sugestiologi yang dikenal sebagai “accelerated learning” menunjukan bahwa
pengaruh guru sangat besar dan jelas terhadap keberhasilan siswa. Sugesti
memiliki kekuatan yang sangat besar dan mendalam. Sugesti sering digunakan
dalam periklanan dengan bahasa verbal dan tubuh. Meskipun tidak secara sadar
kita mengingat sugesti, otak akan berperan sebagai sponsor yang menyerap
informasi lebih cepat dari yang kita bayangkan. Berdasarkan pemikiran tersebut
hampir dapat dipastikan bahwa setiap detail belajar sangat berarti, mulai dari
nada suara, penggunaan musik, pengaturan kursi sampai lingkungan belajar. 2)
Psikologi daya De Potter dalam Nggermantos (2001) berpendapat “Setiap orang
memiliki potensi otak yang sama besar dengan Einstain, tinggal bagaima-na kita
mengolahnya”. Selanjutnya bila seseorang dapat mengenali tipe belajarnya yang
sesuai maka belajar akan terasa sangat menyenangkan dan memberikan hasil yang
optimal. Lebih jauh Diamon dalam De Potter (1999) mempertegas pendapat
tersebut, dengan menyimpulkan bahwa “Pada umur berapapun sejak lahir sampai
mati ada kemungkinan dapat meningkatkan kemampuan mental melalui rangsangan
lingkungan”.Berbagai penjelasan di atas dapat diketahui betapa pentingnya
lingkungan belajar sebagai pemberi stimulus. Lingkungan memberikan konstribusi
sangat besar terhadap hasil belajar setiap orang di setiap usia. Stimulus yang
diberikan lingkungan sangat menentukan perkembangan dan kemajuan yang dicapai. Besarnya pengaruh stimulus terhadap
perkembangan seseorang, didukung Pendapat Pulos yang menyatakan: “Certain types of stimulations not only
change the chemistry of brain but can actually increase brain cells and brain
size and dramatically boost intelligence”. Dari pendapat itu jelas bahwa
semakin banyak rangsangan terhadap otak dengan aktifitas yang sesuai semakin
banyak jaringan sel yang tersambung dan potensi atau kemampuan seseorang akan
semakin berkembang.
Perkembangan dapat terjadi karena otak kita berbicara dalam 4
bahasa elektrik yang menggambarkan tingkat kesadaran, metoda mem-proses dan mempelajari
informasi baru. Menurut Pulos empat jenis bahasa elektrik tersebut adalah
gelombang Beta yang bergerak dengan kecepatan 13-100 Hz pada saat terjaga dan
konsentrasi, gelombang Alpa 8-12 Hz dalam keadaan pasif atau tenang secara
pisik, gelombang Theta 4-8 Hz pada saat mimpi yang tak diharapkan atau bayangan
masa kecil, gelombang Delta 0,5 - 4 Hz dalam keadaan tidur yang merupakan dasar
paling dalam kesadaran.Aktifitas yang paling cepat dari gelombang otak adalah
pada saat gelombang Beta bergerak ketika mata berinteraksi dengan dunia luar,
dalam keadaan waspada dan berkonsentrasi. Hal tersebut sangat diperlukan demi
efektifitas belajar.
Perkembangan potensi manusia Menurut Zohar dalam Vella (2003)
dapat terjadi karena didalam otak terdapat energy (quanta) yang dapat digunakan
untuk berpikir dengan mengaktifkan semua bagian otak. “We can do quantum thinking by using a neural network of networks, the
whole brain, creatively projecting, predicting, describing, envisioning,
inventing”.
Dengan mengaktifkan semua bagian jaringan saraf pada semua
bagian otak, berpikir quantum dapat dilakukan. Aktifitas berpikir quantum seperti proyeksi
kreatif, menebak, menjelaskan, membayangkan, menemukan dapat menjadi alat
pemicu perkembangan kemampuan dan potensi setiap orang.3) Modalitas belajar Otak
manusia terdiri dari tiga bagian yang merupakan modalitas untuk memproses
rangsangan yang datang dari luar.
Modalitas tersebut adalah visual, auditorial, kinestic yang
merupakan saluran komunikasi yang membantu memahami dunia luar. Menghadirkan
kegiatan yang co-cok dengan modalitas akan memperkuat penerimaan siswa. Lebih
jauh menurut Pulos dengan mengaktifkan semua bagian otak melalui pende-katan Stimulation Multysensory pada proses
belajar, siswa akan lebih terfokus dan berhasil dibanding dengan pendekatan Passive-Receptive pada setting kelas
pada umumnya. Penjelasan di atas menunjukkan betapa pentingnya mengenali
per-bedaan gaya belajar siswa dan menyesuaikan pembelajaran dengan mo-dalitas
siswa meskipun cukup sulit untuk melakukannya. Hal penting yang dapat dijadikan
pegangan dalam menyesuaikan pembelajaran dengan per-bedaan modalitas siswa
adalah bahwa setiap orang berkemampuan untuk belajar dan mereka belajar dengan
cara yang berbeda (Meisenzahl, 2003)4) Multi IntelegenceMitos bahwa intelegensi
manusia tidak berubah ternyata dibuktikan salah oleh Gardner dari Harvard
setelah melakukan riset tentang kecer-dasan manusia. Ia menyatakan bahwa IQ
hanyalah salah satu kecerdasan manusia karena manusia memiliki multi
intelegensi sebagai potensi yang sangat besar. Potensi itu terdiri dari
kecerdasan logis-matematis, kecerda-san linguistik, verbal, kecerdasan
kinestik, kecerdasan emosional (inter-personal dan intrapersonal), kecerdasan
naturalist, kecerdasan intuisi, kecerdasan moral, kecerdasan eksistensial,
kecerdasan spiritual. Dapat dibayangkan begitu banyaknya potensi yang
terkandung pada diri siswa namun betapa tidak mudahnya untuk mengenalinya,
apalagi mengguna-kannya untuk mengakses keberhasilan mereka di dalam kelas.
Namun dalam pendekatan quantum semua potensi itu harus digunakan seperti
menurut Zohar dalam Vella (2003): “Quantum
learning is that which uses all of the neural networks in the brain, putting
things together in idiosyncratic and personal ways to make significant meaning”.
Dalam upaya menggunakan semua potensi itu haruslah berpegang
kepada prinsip seperti menurut Meisenzahl
(2003) sebagai berikut:
-Setiap orang berkemampuan untuk belajar.
- Setiap orang belajar dengan cara yang berbeda.
- Keyakinan sangat penting bagi keberhasilan seseorang.
- Penghargaan dan perhatian bagi tiap individu adalah penting.
- Belajar akan lebih effektif bila disajikan dalam keceriaan dan ling-kungan yang menantang.
- Rasa aman dan percaya antara guru dan siswa merupakan bagian proses belajar yang penting.
- Guru harus menunjukan semagat dan antusiasme untuk belajar.
-Setiap orang berkemampuan untuk belajar.
- Setiap orang belajar dengan cara yang berbeda.
- Keyakinan sangat penting bagi keberhasilan seseorang.
- Penghargaan dan perhatian bagi tiap individu adalah penting.
- Belajar akan lebih effektif bila disajikan dalam keceriaan dan ling-kungan yang menantang.
- Rasa aman dan percaya antara guru dan siswa merupakan bagian proses belajar yang penting.
- Guru harus menunjukan semagat dan antusiasme untuk belajar.
Quantum Learning dimulai dari Super Camp, sebuah program
akselerasi belajar yang memperkenalkan tiga keterampilan dasar, yakni
keterampilan akademis, prestasi fisik, dan keterampilan hidup. Menurut
penlitian, hasilnya demikian impresif. Setelah mengikuti kegiatan ini, motivasi
belajar siswa meningkat, dan keterampilan belajar pun berkembang.[1]
[1]
Hidayah-ilayya.blogspot.com/…/pengembangan
–model-model-pembelajaran.html-diunduh tgl. 23 april 2012


0 comments:
Post a Comment