Oleh :
Widya Ayu Puspita. SKM.,M.Kes
Widya Ayu Puspita. SKM.,M.Kes
Pemerhati Anak Usia Dini
Tahun-tahun pertama kehidupan anak
merupakan kurun waktu yang sangat penting dan kritis dalam hal tumbuh kembang
fisik, mental, dan psikososial, yang berjalan sedemikian cepatnya sehingga
keberhasilan tahun-tahun pertama untuk sebagian besar menentukan hari depan
anak. Kelainan atau penyimpangan apapun apabila tidak diintervensi secara dini
dengan baik pada saatnya, dan tidak terdeteksi secara nyata mendapatkan
perawatan yang bersifat purna yaitu promotif, preventif, dan rehabilitatif akan
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya (Sunarwati, 2007).
Selanjutnya, pengasuhan anak
merupakan salah satu faktor yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak,
terutama pada masa-masa kritis, yaitu usia 0 – 8 tahun. Kehilangan pengasuhan
yang baik, misalnya perceraian, kehilangan orang tua, baik untuk sementara maupun
selamanya, bencana alam dan berbagai hal yang bersifat traumatis lainnya sangat
mempengaruhi kesehatan fisik dan psikologisnya.
Dengan demikian, kehilangan atau
berpisah dari keluarga ini akan meningkatkan risiko kesehatan, perkembangan dan
kesejahteraan anak secara keseluruhan. Risiko ini akan meningkat, apabila
kehilangan ini terjadi dalam masa kritis pertumbuhan anak, yaitu masa awal
kanak-kanak. Akibat bencana alam, perang, perceraian, kematian orang tua dan
anggota keluarga lainnya, dan kelahiran tak dikehendaki seorang anak dapat
mengalami kesulitan berkembang menjadi manusia dewasa seutuhnya.
Dengan mengacu kepada konsep dasar
tumbuh kembang maka secara konseptual pengasuhan adalah upaya dari lingkungan
agar kebutuhan-kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang (asuh, asih, dan asuh)
terpenuhi dengan baik dan benar, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang
secara optimal. Akan tetapi, praktiknya tidaklah sesederhana itu karena praktik
ini berjalan secara informal, sering dibumbui dengan hal-hal yang tanpa
disadari dan tanpa disengaja serta lebih diwujudkan oleh suasana emosi rumah
tangga sehari-hari yang terjadi dalam bentuk interaksi antara orang tua dan
anaknya serta anggota keluarga lainnya. Dengan demikian hubungan inter dan
intrapersonal orang-orang di sekitar anak tersebut dan anak itu sendiri sangat
memberi warna pada praktik pengasuhan anak.
Menurut Sears (1957) child rearing is not a technical term with
precise significance. It refers generally to all the interactions between
parents and their children. These interactions between parents and their
children include the parent expressions of attitudes, values interests, and
beliefs as well as their children care-taking and training behavior.
Sociologically speaking, these interactions are an inseparable class of events
that prepare the child, intentionally or not, for continuing his life (Sunarwati,
2007).
Pada kenyataannya seringkali
kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang tidak didapatkan anak dengan baik dan
benar. Beberapa contoh adalah:
a. Asuh,
misalnya ketiadaan pemberian Air Susu Ibu (ASI) dengan pengganti ASI saja
(meskipun belakangan ini ada susu-susu formula yang diupayakan mendekati
kualitas ASI, yaitu dengan kandungan lizozim laktoferin dan laktosa), dan
ketidaktahuan sehingga terjadi penelantaran anak.
b. Asih,
misalnya pada kehamilan tak diinginkan yang berkepanjangan, kasih sayang ibu
yang tak benar (smother love versus mother love).
c. Asah,
misalnya dusta putih, suasana murung, sepinya komunikasi, pertengkaran,
kekerasan dalam keluarga, disparitas gender, dan sebagainya.
Thurbe dan Cursnann telah meneliti
secara kohort selama 21 tahun terhadap 120 anak yang dilahirkan dari kehamilan
yang tidak dikehendaki dibandingkan dengan 120 anak dengan keadaan setara namun
lahir dari kehamilan yang diinginkan. Mereka menemukan bahwa kelompok anak yang
tidak diinginkan menunjukkan perilaku asosial lebih banyak, lebih sering
membutuhkan jasa dokter ahli jiwa serta kecerdasannya pun lebih rendah daripada
kelompok anak yang lahir dari kehamilan yang diinginkan.
Dalam kaitan tercapainya keeratan
ikatan ibu-anak, selain kontak kulit, visual dan emosi sesegera mungkin setelah
anak lahir, banyak peneliti mengemukakan pula perlunya pemberian asah jauh
sebelum anak dilahirkan, yaitu dengan memperdengarkan musik klasik serta
berbicara dengan anak selama masih dalam kandungan. Pengasuhan anak oleh
subtitusi ibu, baik yang paruh waktu (misalnya di tempat penitipan anak) maupun
yang purna waktu (misalnya oleh pramusiwi) harus selalu memperhatikan hal-hal tersebut
di atas, yaitu pada dasarnya agar asuh, asih, asah didapatkan anak dengan baik
dan benar (Sunarwati, 2007).
Oleh karena itu, dalam pengasuhan
anak ada empat hal yang harus dipenuhi, yaitu bahwa setiap anak membutuhkan
orang tua, dan tumbuh secara alamiah dengan saudara kandung yang dimilikinya,
di dalam rumah mereka sendiri dan di dalam lingkungan yang mendukungnya.
Diharapkan bahwa pengasuhan anak ini akan mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pounds, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh). Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan (Soethiningsih, 1995).
Diharapkan bahwa pengasuhan anak ini akan mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pounds, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh). Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan (Soethiningsih, 1995).
Menurut teori perkembangan
psikososial Erikson ada empat tingkat perkembangan anak yaitu :
1. Usia anak 0 - 1 tahun yaitu trust versus mistrust. Pengasuhan dengan kasih sayang yang tulus dalam pemenuhan kebutuhan dasar bayi menimbulkan "trust" pada bayi terhadap lingkungannya. Apabila sebaliknya akan menimbulkan "mistrust" yaitu kecemasan dan kecurigaan terhadap lingkungan.
1. Usia anak 0 - 1 tahun yaitu trust versus mistrust. Pengasuhan dengan kasih sayang yang tulus dalam pemenuhan kebutuhan dasar bayi menimbulkan "trust" pada bayi terhadap lingkungannya. Apabila sebaliknya akan menimbulkan "mistrust" yaitu kecemasan dan kecurigaan terhadap lingkungan.
2. Usia 2 - 3 tahun, yaitu autonomy versus shame and
doubt. Pengasuhan melalui dorongan untuk melakukan apa yang diinginkan anak,
dan sesuai dengan waktu dan caranya sendiri dengan bimbingan orang tua atau
pendidik yang bijaksana, maka anak akan mengembangkan kesadaran autonomy.
Sebaliknya apabila pendidik tidak sabar, banyak melarang anak, akan menimbulkan
sikap ragu-ragu pada anak. Hal ini dapat membuat anak merasa malu.
3. Usia 4 - 5 tahun, yaitu inisiative versus guilt,
yaitu pengasuhan dengan memberi dorongan untuk bereksperimen dengan bebas dalam
lingkungannya. Pendidik dan orang tua tidak menjawab langsung pertanyaan anak,
maka mendorong anak untuk berinisiatif sebaliknya, bila anak selalu dihalangi,
pertanyaan anak disepelekan, maka anak akan selalu merasa bersalah.
4. Usia 6 - 11 tahun, yaitu industry versus
inferiority, bila anak dianggap sebagai "anak kecil" baik oleh orang
tua, pendidik maupun lingkungannya, maka akan berkembang rasa rendah diri,
dampaknya anak kurang suka melakukan tugas-tugas yang bersifat intelektual dan
kurang percaya diri.
Teori lainnya yang berkaitan dengan
perkembangan kognitif, yaitu Piaget menyebutkan bahwa ada tiga tahapan
perkembangan kognitif anak, yaitu :
1. Tahap sensorimotorik (usia 0 - 2 tahun). Pada tahap ini anak mendapatkan pengalaman dari tubuh dan indranya.
1. Tahap sensorimotorik (usia 0 - 2 tahun). Pada tahap ini anak mendapatkan pengalaman dari tubuh dan indranya.
2. Tahap praoperasional. Anak berusaha menguasai
simbol-simbol (kata-kata) dan mampu mengungkapkan pengalamannya, meskipun tidak
logis (pra-logis). Pada saat ini anak bersifat egosentris, yaitu melihat
sesuatu dari dirinya (perception centration), dengan melihat sesuatu dari satu
ciri, sedangkan ciri lainnya diabaikan.
3. Tahap operasional kongkrit. Pada tahap ini anak
memahami dan berpikir yang bersifat kongkret belum abstrak.
4. Tahap operasional formal. Pada tahap ini anak mampu
berpikir abstrak.
Berkaitan dengan anak-anak, beberapa
anak ditemukan memiliki kerentanan untuk menghadapi perubahan atau tekanan yang
mereka hadapi.Akan tetapi, tidak jarang pula, orang tua atau pendidik
mengeluhkan anak-anak memerlukan penyesuaian diri yang lama terhadap situasi
baru, atau anak yang trauma dengan pengalaman negatif, seperti kehilangan
sahabat, pindah rumah, nyaris tenggelam di kolam renang, atau menjadi korban
bencana alam seperti gempa (Ilham, 2007).


1 comments:
kontennya bagus
wichem
Post a Comment