Tuesday, 1 December 2015

Jangan Sampai Anak Lupa Bermain



 

Orang Tua Yang Hanya Mengagungkan Prestasi

Dunia anak adalah bermain. Namun ada orang tua yang merampas hak anak itu karena menginginkan anaknya berprestasi di bidang akademis. Seperti mengikutsertakan anak ke berbagai les atau kursus setelah pulang sekolah. Itulah yang membuat anak-anak menjadi stres, hal ini harus dihindari.

Pendapat Ahli

 

Mayke S. Tedjakusuma, psikolog perkembangan anak dan terapi bermain, mengatakan seiring globalisasi menuntut persaingan menjadi lebih ketat. Kondisi ini membuat orangtua khawatir ketika anaknya dianggap tidak dapat bersaing. Tuntutan itu disambut kalangan bisnis menawarkan beraneka kursus atau les. Orangtua pun mengikutsertakan anak-anaknya beragam les. Para orangtua tidak menyadari apakah les yang diikuti oleh anak-anaknya itu membuat happy atau hanya membebani mentalnya.
”Jangan pernah memaksa anak-anak. Biarkan anak-anak menikmati masanya anak-anak. Tidak dengan tuntutan macam-macam, sehingga membuat anak tidak senang. Masa anak-anak itu tidak tergantikan,” kata Mayke. Peran sekolah juga menambah beban mental anak. Ketika orangtua khawatir dengan prestasi anak-anaknya, direspons oleh sekolah dengan membuat standar dan materi setinggi mungkin. Padahal kurikulum itu belum tentu sesuai dengan anak-anak dan akhirnya hal itu menambah beban mental anak.
Dia menyarankan agar orangtua kembali ke pola pengasuhan yang postitive parenting, yakni pola pengasuhan yang dilakukan dengan cara suportif, konstruktif, serta menyenangkan bagi anak. Suportif adalah mendukung perkembangan anak, konstruktif dilakukan dengan cara yang positif yang menghindari kekerasan hukuman. Menyenangkan dilakukan melalui kegiatan bermain. Jika orangtua terlalu mengagungkan prestasi akan membuat anak stres,” kata Mayke.
Orangtua harus tahu tumbuh kembang anak. Misalnya kapan anak siap membaca dan menulis. Bukan memaksakan anaknya bisa menulis pada usia 3 tahun. Padahal memegang pensil saja belum bisa. Lebih baik memberikan stimulasi positif untuk anak. Stimulasi itu berdampak terhadap fisik motorik, psikososial, kepribadian, kemampuan bahasa, berpikir serta kecerdasan, dan kreativitas.
Untuk mengetahui stimulasi positif yang diberikan, orang tua juga harus banyak belajar dan mencari informasi dari internet atau buku. Tetapi yang terpenting adalah keinginan kuat (passion) dari orangtua untuk mau membesarkan anak secara optimal. ”Ada juga orangtua yang tidak tahu bagaimana menstimulasi bahasa anaknya yang sudah berusia 2 tahun, tetapi belum bisa bicara. Setelah diberi tahu, anaknya mengalami perkembangan bahasa yang pesat,” kata Mayke.

Lima Pilar

 

Ada lima pilar dalam pengasuhan yang positif dari orangtua. Kelima pilar itu adalah awal eksplorasi, awal percaya diri, awal tanggung jawab, awal tumbuh optimal, dan awal komunikasi positif. Dengan mengembangkan kelima pilar itu menjadi bekal anak dalam menghadapi persaingan global. ”Orangtua juga harus konsisten, boleh atau tidak. Kalau tidak konsisten anak jadi was-was apakah boleh atau tidak tentang suatu hal,” kata Mayke.

Pujian dan Dukungan

 

Untuk tumbuh kembang optimal, orangtua perlu mengetahui kelebihan dan kekurangan anak. Memberikan pujian yang sesuai ketika anak berhasil dan memberikan dukungan ketika anak mengalami kegagalan atau ragu-ragu.
Sumber : Warta Kota, Minggu 15 Agustus 2010


0 comments:

Post a Comment