Orang Tua Yang Hanya Mengagungkan Prestasi
Dunia anak adalah bermain. Namun ada orang
tua yang merampas hak anak itu karena menginginkan anaknya berprestasi di
bidang akademis. Seperti mengikutsertakan anak ke berbagai les atau kursus
setelah pulang sekolah. Itulah yang membuat anak-anak menjadi stres, hal ini
harus dihindari.
Pendapat Ahli
Mayke S. Tedjakusuma, psikolog perkembangan
anak dan terapi bermain, mengatakan seiring globalisasi menuntut persaingan
menjadi lebih ketat. Kondisi ini membuat orangtua khawatir ketika anaknya
dianggap tidak dapat bersaing. Tuntutan itu disambut kalangan bisnis menawarkan
beraneka kursus atau les. Orangtua pun mengikutsertakan anak-anaknya beragam
les. Para orangtua tidak menyadari apakah les yang diikuti oleh anak-anaknya
itu membuat happy
atau hanya membebani mentalnya.
”Jangan pernah memaksa anak-anak. Biarkan
anak-anak menikmati masanya anak-anak. Tidak dengan tuntutan macam-macam,
sehingga membuat anak tidak senang. Masa anak-anak itu tidak tergantikan,” kata
Mayke. Peran sekolah juga menambah beban mental anak. Ketika orangtua khawatir
dengan prestasi anak-anaknya, direspons oleh sekolah dengan membuat standar dan
materi setinggi mungkin. Padahal kurikulum itu belum tentu sesuai dengan
anak-anak dan akhirnya hal itu menambah beban mental anak.
Dia menyarankan agar orangtua kembali ke pola
pengasuhan yang postitive
parenting, yakni pola pengasuhan yang dilakukan dengan cara
suportif, konstruktif, serta menyenangkan bagi anak. Suportif adalah mendukung
perkembangan anak, konstruktif dilakukan dengan cara yang positif yang
menghindari kekerasan hukuman. Menyenangkan dilakukan melalui kegiatan bermain.
Jika orangtua terlalu mengagungkan prestasi akan membuat anak stres,” kata
Mayke.
Orangtua harus tahu tumbuh kembang anak.
Misalnya kapan anak siap membaca dan menulis. Bukan memaksakan anaknya bisa menulis
pada usia 3 tahun. Padahal memegang pensil saja belum bisa. Lebih baik
memberikan stimulasi positif untuk anak. Stimulasi itu berdampak terhadap fisik
motorik, psikososial, kepribadian, kemampuan bahasa, berpikir serta kecerdasan,
dan kreativitas.
Untuk mengetahui stimulasi positif yang
diberikan, orang tua juga harus banyak belajar dan mencari informasi dari
internet atau buku. Tetapi yang terpenting adalah keinginan kuat (passion) dari orangtua
untuk mau membesarkan anak secara optimal. ”Ada juga orangtua yang tidak tahu
bagaimana menstimulasi bahasa anaknya yang sudah berusia 2 tahun, tetapi belum
bisa bicara. Setelah diberi tahu, anaknya mengalami perkembangan bahasa yang
pesat,” kata Mayke.
Lima Pilar
Ada lima pilar dalam pengasuhan yang positif
dari orangtua. Kelima pilar itu adalah awal eksplorasi, awal percaya diri, awal
tanggung jawab, awal tumbuh optimal, dan awal komunikasi positif. Dengan
mengembangkan kelima pilar itu menjadi bekal anak dalam menghadapi persaingan
global. ”Orangtua juga harus konsisten, boleh atau tidak. Kalau tidak konsisten
anak jadi was-was apakah boleh atau tidak tentang suatu hal,” kata Mayke.
Pujian dan Dukungan
Untuk tumbuh kembang optimal, orangtua perlu
mengetahui kelebihan dan kekurangan anak. Memberikan pujian yang sesuai ketika
anak berhasil dan memberikan dukungan ketika anak mengalami kegagalan atau
ragu-ragu.
Sumber : Warta Kota, Minggu 15 Agustus 2010


0 comments:
Post a Comment