Thursday, 10 December 2015

MENTAL HECTIC




MENTAL HECTIC (sebut saja MH). Istilah ini belakangan agak menjadi trending topics di banyak kalangan pemerhati perkembangan anak dan dunia Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Bagaimana tidak, gara-gara istilah ini banyak orangtua yang jadi bimbang untuk menyekolahkan putra-putrinya di sekolah. Karena beberapa pakar berpendapat bahwa pelajaran calistung (baca, tulis, hitung) menjadi salah satu penyebab anak mengalami mental hectic.
Dari segi definisi, MH diartikan sebagai kondisi dimana seseorang mengalami kekacauan mental, walaupun jika dicari sekeras mungkin anda tidak akan pernah menemukan definisi resminya. Kondisi ini layaknya ketidakseimbangan seseorang dalam merasa (feel), melihat (perceive), mendengar (hear), berfikir (think), dan bertindak (act), yang pada akhirnya mengakibatkan orang tersebut mengalami ‘kebingungan’ yang pada akhirnya dapat mengarahkannya pada strees, depresi, merasa terintimidasi, ataupun merasa terancam.
Keberhasilan anak usia dini merupakan landasan bagi keberhasilan pendidikan pada jenjang berikutnya. Telah kita ketahui bersama, bahwa usia dini merupakan usia yang sangat penting dalam perkembangan seseorang. Bila seseorang pada masa itu mendapat pendidikan yang tepat, maka ia memperoleh kesiapan belajar yang baik yang merupakan salah satu kunci utama bagi keberhasilan belajarnya pada jenjang berikutnya.
Kesadaran akan pentingnya pendidikan anak usia dini cukup tinggi di negara maju, sedangkan di Indonesia, hingga pada saat ini belum banyak disadari masyarakat. Usia dini disebut juga usia prasekolah merupakan usia di mana anak belum memasuki suatu lembaga pendidikan formal seperti Sekolah Dasar (SD), biasanya anak usia dini tetap tinggal di rumah atau mengikuti kegiatan dalam berbagai bentuk lembaga pendidikan prasekolah seperti Taman Kanak-kanak (Kindergarten), Kelompok Bermain (Play Group), atau Taman Penitipan Anak (Nursery School atau Day Care Center).
Taman Kanak-kanak merupakan bagian dari pendidikan masa prasekolah. Pendidikan prasekolah merupakan jenjang pendidikan yang penting, yang memiliki pengaruh jangka panjang pada proses pembelajaran dan perkembangan anak. Sesuai dengan namanya yaitu Taman kanak-kanak, lembaga ini merupakan tempat anak-anak bermain sambil belajar dan bersosialisasi dalam suasana yang menyenangkan. Namun, pada perkembangannya saat ini banyak lembaga pendidikan prasekolah seperti taman kanak-kanak telah melupakan pentingnya pengasuhan yang baik bagi anak-anak kecil. Kurikulum di kebanyakan taman kanak-kanak dan program-program prasekolah dewasa ini menaruh terlalu bayak penekanan pada prestasi dan keberhasilan.
Penulis melihat beberapa fenomena yang terjadi di masyarakat yang mendorong para orang tua memasukkan anak-anaknya ke taman kanak-kanak yaitu, orang tua ingin anak-anaknya tumbuh mengikuti trend yang berkembang pada masyarakat dewasa ini, seperti terampil dalam hal membaca, menulis dan berhitung di usia dini. Orang tua merasa bangga jika anak-anaknya di usia dini dapat menguasai ketrampilan-ketrampilan akademis tersebut, terlebih lagi jika mereka mendapat pujian-pujian dari lingkungannya karena sang anak yang ”pintar”. Orang tua beranggapan semakin cepat anak dapat menguasai ketrampilan membaca, menulis dan berhitung semakin baik bagi perkembangan anak. Kemudian, keadaan ini diperparah dengan adanya tes masuk untuk memasuki sekolah dasar, di mana salah satu materi tes tersebut adalah penguasaan ketrampilan membaca, menulis dan berhitung. Keadaan ini memaksa orang tua untuk menuntut si kecil agar dapat menguasai ketrampilan membaca, menulis dan berhitung sebelum masuk ke jenjang sekolah dasar. Sehingga, terhadap tuntutan-tuntutan tersebut di atas, mendorong taman kanak-kanak untuk mengajarkan baca, tulis, hitung kepada anak didiknya. Bahkan saat ini, banyak lembaga-lembaga kursus bermunculan yang menawarkan program-program penguasaan ketrampilan baca, tulis, hitung khusus bagi anak usia dini yang merupakan sebagai prasyarat memasuki sekolah dasar.
Kegiatan belajar yang mewajibkan baca, tulis, hitung di taman kanak-kanak kurang sesuai dengan tugas perkembangan usia prasekolah. Tugas perkembangan merupakan suatu tuntutan bagi orang tua dan guru untuk mengetahui apa yang harus dipelajari seorang anak pada usia tertentu. Harlock (2006) mengemukakan bahwa tugas perkembangan anak usia 0 - 6 tahun adalah mencapai kestabilan psikologis dan membentuk konsep sosial dan realitas fisik yang sederhana.
Melihat pada teori Piaget (William Crain, 2007), terdapat beberapa tahapan dalam perkembangan kognitif anak, yaitu :
1)      Periode I : Kepandaian Sensorimotor (0 – 2 Tahun).
Bayi mengorganisasikan skema tindakan fisik mereka seperti menghisap, menggenggam, dan memukul untuk menghadapi dunia yang muncul dihadapannya.
2)      Periode II : Pikiran Pra-Operasional (2 – 7 Tahun).
Anak-anak belajar berpikir menggunakan simbol-simbol dan pencintraan batiniah, namun pikiran mereka masih tidak sistematis dan tidak logis. Pikiran di titik ini sangat berbeda dengan pikiran orang dewasa.
3)      Periode III : Operasi Konkret (7 – 11 Tahun)
Anak-anak mengembangkan kemampuan berpikir sistematis, namun hanya ketika mereka dapat mengacu kepada objek-objek dan aktifitas-aktifitas konkrit.
4)      Periode IV : Operasi Formal (11 Tahun – Dewasa)
Dapat memecahkan masalah yang abstrak secara logis. Berfikir lebih ilmiah dan idealis.
Mengacu pada teori Piaget di atas, bahwa usia dini atau usia pra sekolah berada pada periode ke dua, di mana dalam tahapan ini anak-anak belum dapat berpikir secara sistematis dan logis/abstrak seperti pada pelajaran membaca, menulis dan berhitung. Anak-anak usia dini perlu banyak menghabiskan waktunya untuk bermain demi merangsang kreativitas dan imajinasinya. Justru dengan bermain anak akan belajar banyak hal. Diantaranya belajar bersosialisasi, belajar menyesuaikan diri dengan lingkungannya, belajar menyelesaikan masalah, mengasah keterampilan gerakan kasar dan halus, belajar mengungkapkan hasil pemikiran dan perasaannya. Dengan bermain anak bebas berkreasi dan mengkhayalkan sebuah dunia lain. Bermain juga merupakan dunia olah raga bagi anak di mana anak bermain tanpa aturan yang banyak menggunakan fisik untuk melatih otot-ototnya, sehingga anak akan sibuk dengan dirinya sendiri dan bukan disibukkan dengan pelajaran membaca, menulis dan berhitung.
Santrock (2002) megemukakan bahwa dalam studi yang dilakukan oleh Hart dkk dan Hirsch-Pasek dkk. menyatakan bahwa anak-anak yang mengikuti taman kanak-kanak yang cocok menurut teori perkembangan memperlihatkan perilaku kelas yang lebih cocok, memiliki catatan perilaku yang lebih baik dan kebiasaan-kebiasaan bekerja belajar yang lebih baik di kelas satu dibandingkan anak-anak yang mengikuti taman kanak-kanak yang tidak cocok menurut teori perkembangan. Pengalaman belajar pada masa prasekolah ini memiliki pengaruh pada keberhasilan belajar di jenjang pendidikan berikutnya. Anak-anak taman kanak-kanak yang mengikuti program akademik yang tinggi cenderung kurang kreatif, memiliki tingkat kecemasan yang tinggi terhadap ujian, serta kurang bersikap positif terhadap sekolah.
Dalam tahapan praoperasioanal ini, anak usia dini (prasekolah) belum dapat berfikir secara abstrak dan logis. Sementara itu metode pengajaran membaca, menulis, dan menghitung seperti di sekolah dasar menuntut anak untuk dapat berfikir secara abstrak. Pemaksaan seperti ini menyebabkan berkurangnya waktu bermain anak, sehingga cepat atau lambat dapat menyebabkan ganguan perkembangan  psikologis pada anak. Ketidaksiapan secara psikologis akan mempengaruhi keberhasilan dalam belajar. Padahal menurut sasaran belajarnya, pendidikan prasekolah tidak semata-mata mengutamakan perkembangan kognitif saja, tetapi lebih ditekankan pada perkembangan afektif dan sosial siswa. Anak mempunyai tugas perkembangan sesuai dengan usianya, dan tugas perkembangan itu harus dilalui dan diselesaikan sesuai masanya.
Anak usia prasekolah umumnya memiliki kreativitas alamiah, yang tampak dari perilaku mereka seperti: sering bertanya, senang menjajaki lingkungan tertarik untuk mencoba segala sesuatu dan memiliki daya khayal yang kuat. Oleh karena itu, kreativitas perlu dikembangkan kepada anak sejak usia dini. Kreativitas menentukan keberhasilan anak menjadi dewasa dan mandiri, serta menjadikan sumber daya manusia yang unggul.
Anak-anak usia dini sering membuat cerita-cerita aneh. Dalam pandangannya anak usia dini bercerita tidak mengada-ada, karena anak usia dini bercerita sesuai dengan alam pikirannya yang penuh dengan imajinasi. Hal ini sesungguhnya menunjukkan bahwa anak usia dini memiliki imajinasi yang sangat kaya. Imajinasi anak usia dini benar-benar sangat kuat dan sangat nyata untuk mereka. Dunia kognitif anak-anak prasekolah adalah kreatif, bebas, dan penuh imajinasi. Kreativitas akan berkembang apabila lingkungan melakukan upaya perangsangan yang intensif pada anak-anak. Upaya perangsangan ini harus di lakukan semenjak anak berusia dini. Karena pada usia-usia tersebut secara alami anak memiliki segudang imajinasi yang berpotensi menjadi kreatif. Dan setelah melewati usia-usia pra sekolah maka kemampuannya akan hal tersebut perlahan-lahan akan menurun.




























DAFTAR  PUSTAKA:

Hurlock, E.B. (1996). Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga.
Santrock. (2002). Life-Span Development. Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Erlangga
William Crain. (2007). Teori Perkembangan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

4 comments:

bestfriend said...

sangat bermanfaat!
hrv

yaya sunaryo said...

sama-sama

Ovi Ciomas said...


Bermanfaat nihj tulisan

yaya sunaryo said...

sama-sama

Post a Comment