MENTAL
HECTIC (sebut
saja MH). Istilah ini belakangan agak menjadi trending topics di banyak kalangan pemerhati
perkembangan anak dan dunia Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Bagaimana tidak,
gara-gara istilah ini banyak orangtua yang jadi bimbang untuk menyekolahkan
putra-putrinya di sekolah. Karena beberapa pakar berpendapat bahwa pelajaran
calistung (baca, tulis, hitung) menjadi salah satu penyebab anak mengalami
mental hectic.
Dari
segi definisi, MH diartikan sebagai kondisi dimana seseorang mengalami
kekacauan mental, walaupun jika dicari sekeras mungkin anda tidak akan pernah
menemukan definisi resminya. Kondisi ini layaknya ketidakseimbangan seseorang
dalam merasa (feel),
melihat (perceive),
mendengar (hear),
berfikir (think),
dan bertindak (act),
yang pada akhirnya mengakibatkan orang tersebut mengalami ‘kebingungan’ yang
pada akhirnya dapat mengarahkannya pada strees, depresi, merasa terintimidasi,
ataupun merasa terancam.
Keberhasilan
anak usia dini merupakan landasan bagi keberhasilan pendidikan pada jenjang
berikutnya. Telah kita ketahui bersama, bahwa usia dini merupakan usia yang
sangat penting dalam perkembangan seseorang. Bila seseorang pada masa itu
mendapat pendidikan yang tepat, maka ia memperoleh kesiapan belajar yang baik
yang merupakan salah satu kunci utama bagi keberhasilan belajarnya pada jenjang
berikutnya.
Kesadaran
akan pentingnya pendidikan anak usia dini cukup tinggi di negara maju,
sedangkan di Indonesia, hingga pada saat ini belum banyak disadari masyarakat.
Usia dini disebut juga usia prasekolah merupakan usia di mana anak belum
memasuki suatu lembaga pendidikan formal seperti Sekolah Dasar (SD), biasanya
anak usia dini tetap tinggal di rumah atau mengikuti kegiatan dalam berbagai
bentuk lembaga pendidikan prasekolah seperti Taman Kanak-kanak (Kindergarten),
Kelompok Bermain (Play Group), atau Taman Penitipan Anak (Nursery School atau
Day Care Center).
Taman
Kanak-kanak merupakan bagian dari pendidikan masa prasekolah. Pendidikan
prasekolah merupakan jenjang pendidikan yang penting, yang memiliki pengaruh
jangka panjang pada proses pembelajaran dan perkembangan anak. Sesuai dengan
namanya yaitu Taman kanak-kanak, lembaga ini merupakan tempat anak-anak bermain
sambil belajar dan bersosialisasi dalam suasana yang menyenangkan. Namun, pada
perkembangannya saat ini banyak lembaga pendidikan prasekolah seperti taman kanak-kanak
telah melupakan pentingnya pengasuhan yang baik bagi anak-anak kecil. Kurikulum
di kebanyakan taman kanak-kanak dan program-program prasekolah dewasa ini
menaruh terlalu bayak penekanan pada prestasi dan keberhasilan.
Penulis
melihat beberapa fenomena yang terjadi di masyarakat yang mendorong para orang
tua memasukkan anak-anaknya ke taman kanak-kanak yaitu, orang tua ingin
anak-anaknya tumbuh mengikuti trend yang berkembang pada masyarakat dewasa ini,
seperti terampil dalam hal membaca, menulis dan berhitung di usia dini. Orang
tua merasa bangga jika anak-anaknya di usia dini dapat menguasai
ketrampilan-ketrampilan akademis tersebut, terlebih lagi jika mereka mendapat
pujian-pujian dari lingkungannya karena sang anak yang ”pintar”. Orang tua beranggapan
semakin cepat anak dapat menguasai ketrampilan membaca, menulis dan berhitung
semakin baik bagi perkembangan anak. Kemudian, keadaan ini diperparah dengan
adanya tes masuk untuk memasuki sekolah dasar, di mana salah satu materi tes
tersebut adalah penguasaan ketrampilan membaca, menulis dan berhitung. Keadaan
ini memaksa orang tua untuk menuntut si kecil agar dapat menguasai ketrampilan
membaca, menulis dan berhitung sebelum masuk ke jenjang sekolah dasar.
Sehingga, terhadap tuntutan-tuntutan tersebut di atas, mendorong taman
kanak-kanak untuk mengajarkan baca, tulis, hitung kepada anak didiknya. Bahkan
saat ini, banyak lembaga-lembaga kursus bermunculan yang menawarkan
program-program penguasaan ketrampilan baca, tulis, hitung khusus bagi anak usia
dini yang merupakan sebagai prasyarat memasuki sekolah dasar.
Kegiatan
belajar yang mewajibkan baca, tulis, hitung di taman kanak-kanak kurang sesuai
dengan tugas perkembangan usia prasekolah. Tugas perkembangan merupakan suatu
tuntutan bagi orang tua dan guru untuk mengetahui apa yang harus dipelajari
seorang anak pada usia tertentu. Harlock (2006) mengemukakan bahwa tugas
perkembangan anak usia 0 - 6 tahun adalah mencapai kestabilan psikologis dan
membentuk konsep sosial dan realitas fisik yang sederhana.
Melihat pada teori Piaget
(William Crain, 2007), terdapat beberapa tahapan dalam perkembangan kognitif
anak, yaitu :
1)
Periode I : Kepandaian Sensorimotor (0
– 2 Tahun).
Bayi mengorganisasikan skema tindakan
fisik mereka seperti menghisap, menggenggam, dan memukul untuk menghadapi dunia
yang muncul dihadapannya.
2)
Periode II : Pikiran Pra-Operasional
(2 – 7 Tahun).
Anak-anak belajar berpikir menggunakan
simbol-simbol dan pencintraan batiniah, namun pikiran mereka masih tidak
sistematis dan tidak logis. Pikiran di titik ini sangat berbeda dengan pikiran
orang dewasa.
3)
Periode III : Operasi Konkret (7 – 11 Tahun)
Anak-anak mengembangkan kemampuan
berpikir sistematis, namun hanya ketika mereka dapat mengacu kepada objek-objek
dan aktifitas-aktifitas konkrit.
4)
Periode IV : Operasi Formal (11 Tahun –
Dewasa)
Dapat memecahkan masalah yang abstrak
secara logis. Berfikir lebih ilmiah dan idealis.
Mengacu
pada teori Piaget di atas, bahwa usia dini atau usia pra sekolah berada pada
periode ke dua, di mana dalam tahapan ini anak-anak belum dapat berpikir secara
sistematis dan logis/abstrak seperti pada pelajaran membaca, menulis dan
berhitung. Anak-anak usia dini perlu banyak menghabiskan waktunya untuk bermain
demi merangsang kreativitas dan imajinasinya. Justru dengan bermain anak akan
belajar banyak hal. Diantaranya belajar bersosialisasi, belajar menyesuaikan
diri dengan lingkungannya, belajar menyelesaikan masalah, mengasah keterampilan
gerakan kasar dan halus, belajar mengungkapkan hasil pemikiran dan perasaannya.
Dengan bermain anak bebas berkreasi dan mengkhayalkan sebuah dunia lain.
Bermain juga merupakan dunia olah raga bagi anak di mana anak bermain tanpa aturan
yang banyak menggunakan fisik untuk melatih otot-ototnya, sehingga anak akan
sibuk dengan dirinya sendiri dan bukan disibukkan dengan pelajaran membaca,
menulis dan berhitung.
Santrock
(2002) megemukakan bahwa dalam studi yang dilakukan oleh Hart dkk dan
Hirsch-Pasek dkk. menyatakan bahwa anak-anak yang mengikuti taman kanak-kanak
yang cocok menurut teori perkembangan memperlihatkan perilaku kelas yang lebih
cocok, memiliki catatan perilaku yang lebih baik dan kebiasaan-kebiasaan
bekerja belajar yang lebih baik di kelas satu dibandingkan anak-anak yang
mengikuti taman kanak-kanak yang tidak cocok menurut teori perkembangan.
Pengalaman belajar pada masa prasekolah ini memiliki pengaruh pada keberhasilan
belajar di jenjang pendidikan berikutnya. Anak-anak taman kanak-kanak yang
mengikuti program akademik yang tinggi cenderung kurang kreatif, memiliki
tingkat kecemasan yang tinggi terhadap ujian, serta kurang bersikap positif
terhadap sekolah.
Dalam
tahapan praoperasioanal ini, anak usia dini (prasekolah) belum dapat berfikir
secara abstrak dan logis. Sementara itu metode pengajaran membaca, menulis, dan
menghitung seperti di sekolah dasar menuntut anak untuk dapat berfikir secara
abstrak. Pemaksaan seperti ini menyebabkan berkurangnya waktu bermain anak, sehingga
cepat atau lambat dapat menyebabkan ganguan perkembangan psikologis pada
anak. Ketidaksiapan secara psikologis akan mempengaruhi keberhasilan dalam
belajar. Padahal menurut sasaran belajarnya, pendidikan prasekolah tidak
semata-mata mengutamakan perkembangan kognitif saja, tetapi lebih ditekankan
pada perkembangan afektif dan sosial siswa. Anak mempunyai tugas perkembangan
sesuai dengan usianya, dan tugas perkembangan itu harus dilalui dan
diselesaikan sesuai masanya.
Anak
usia prasekolah umumnya memiliki kreativitas alamiah, yang tampak dari perilaku
mereka seperti: sering bertanya, senang menjajaki lingkungan tertarik untuk
mencoba segala sesuatu dan memiliki daya khayal yang kuat. Oleh karena itu,
kreativitas perlu dikembangkan kepada anak sejak usia dini. Kreativitas
menentukan keberhasilan anak menjadi dewasa dan mandiri, serta menjadikan
sumber daya manusia yang unggul.
Anak-anak
usia dini sering membuat cerita-cerita aneh. Dalam pandangannya anak usia dini
bercerita tidak mengada-ada, karena anak usia dini bercerita sesuai dengan alam
pikirannya yang penuh dengan imajinasi. Hal ini sesungguhnya menunjukkan bahwa
anak usia dini memiliki imajinasi yang sangat kaya. Imajinasi anak usia dini
benar-benar sangat kuat dan sangat nyata untuk mereka. Dunia kognitif anak-anak
prasekolah adalah kreatif, bebas, dan penuh imajinasi. Kreativitas akan
berkembang apabila lingkungan melakukan upaya perangsangan yang intensif pada
anak-anak. Upaya perangsangan ini harus di lakukan semenjak anak berusia dini.
Karena pada usia-usia tersebut secara alami anak memiliki segudang imajinasi
yang berpotensi menjadi kreatif. Dan setelah melewati usia-usia pra sekolah
maka kemampuannya akan hal tersebut perlahan-lahan akan menurun.
DAFTAR
PUSTAKA:
Hurlock, E.B. (1996).
Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga.
Santrock. (2002). Life-Span
Development. Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Erlangga
William Crain. (2007).
Teori Perkembangan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


4 comments:
sangat bermanfaat!
hrv
sama-sama
Bermanfaat nihj tulisan
sama-sama
Post a Comment