Saturday, 5 December 2015

PEMIKIRAN TOKOH PENDIDIKAN ANAK USIA DINI “DAVID ELKIND”


Oleh : Yaya Sunaryo

A.    SEJARAH
Profesor David Elkind adalah seorang psikolog anak dan penulis berkebangsaan Amerika. Elkind dilahirkan di Detroit, Michigan. Ia meraih gelar Bachelor of Arts dari University of California at Los Angeles (UCLA) pada tahun 1952, dan ia juga meraih gelar Doctorate in Philosophy (Ph.D.) dari UCLA pada tahun 1955. Ia juga meraih gelar Doctorate in Science from Rhode Island College atau Doctor Honoris Causa dalam Sains pada tahun 1987.
Ayah Elkind adalah seorang operator mesin produksi di sebuah pabrik yang membuat mesin-mesin industri. Elkind teringat komplain ayahnya ketika insinyur yang mendisain bagian-bagian mesin tidak memahami sistem operasional mesin, atau justru terkadang mendisain sesuatu yang tidak dapat dihasilkan oleh mesin tersebut.  Kenangan ini terpatri dalam diri Elkind sehingga ia selalu mencoba untuk memikirkan hubungan atara teori dan praktis, yaitu bagaimana sebuah teori dapat dan memungkinkan untuk teraplikasikan.
David Elkind adalah penasehat ilmiah utama untuk “Just Say Baby” dan profesor emeritus Perkembangan Anak di Tufts University di Medford. Massachusetts. Elkind adalah mantan guru besar Psikologi, Psikiatri dan Pendidikan di University of Rochester.
Setelah meraih gelar Ph.D., Elkind menghabiskan waktu selama satu tahun sebagai asisten riset David Rappaport di Austen Riggs Center di Stockbridge, Massachusetts. Sejak 1964 hingga 1965 Elkind bekerja pada sebuah yayasan Science Foundation Senior Postdoctoral Fellow at Piaget’s Institut d’Epitemologie Genetique in Genewa, Switzerland. Penelitiannya ialah di bidang persepsi, perkembangan kognitif dan perkembangan sosial yang ia bangun dari penelitian dan teori Jean Piaget.
Piaget adalah seorang ahli dalam bidang biologi, Ia mempelajari dan meneliti tentang anak lebih dari 50 tahun. Ia selalu ingin tahu bagaimana anak membangun pengetahuan tentang dunia di sekelilingnya, dan teori perkembangan kognitifnya membawa pengaruh yang luar biasa dalam bidang psikologi. Hasil karya Elkind lebih banyak terwujud sebagai lanjutan penelitian dan teori Piaget. Penelitian Elkind lebih terarah pada perkembangan kognitif, perseptual, dan sosial anak dan masa remaja. Misalnya, penyebab dan akibat stress pada anak, remaja, dan keluarga. Elkind berusaha mengaplikasikan teori dan penelitian di kehidupan nyata, seperti psykoterapi, pengasuhan, dan pendidikan, Ia menggunakan pengalaman hidup yang sesungguhnya untuk memperkuat teori dan penelitiannya.
Elkind adalah anggota dari 10 organisasi profesional, dewan redaksi jurnal ilmiah, dan merupakan konsultan untuk departemen pendidikan negara serta badan-badan pemerintah dan yayasan swasta. Elkind kuliah secara ekstensif di Amerika Serikat, Kanada, dan luar negari. Elkind sering tampil di tayangan televisi seperti The Today Show, The Morning CBS News, Twnty Nightline, Donahue, dan Oprah Winfrey Show. Elkind juga merupakan mantan presiden asosiasi nasional untuk pendidikan anak muda.
Di antara posisi-posisi profesionalnya, sejak tahunn 1966 hingga 1978 Elkin dianugrahi gelar Profesor serta direktur dari Pelatihan Kesarjanaan Psikologi Perkembangan dari Departemen Psikologi di Universitas Rochester, New York. Ia juga dipercaya menjadi presiden National Association for the Education  of Young Children (asosiasi nasional untuk pendidikan anak, NAEYC), juga sekaligus menjabat presiden pengembnagan anak pada Universitas Tuft di  Medford, Massachusetts, tempat ia bergabung sejak 1978. asisten tuan rumah (co-host) dalam acara serial Televisi untuk segala usia Kid’s This Day. Ia memiliki tiga orang putra dan tinggal di Massachusetts.
B.    DASAR TEORI
Salah satu karya Elkind yang paling kontributif terhadap psikologi adalah karyanya pada bidang psikologi remaja yang menjelaskan deskripsi dari egosetris remaja (kesulitan dalam membedakan pekerjaan mental terhadap diri dan orang lain). Elkind memperhatikan bagaimana egosentrisme mempengaruhi pemikiran, kebiasaan, dan emosi remaja.
Penelitian yang dilakukan oleh Elkind lebih terfokus pada kognitif, perseptual, serta perkembangan sosial pada anak dan remaja, seperti sebab dan akibat dari stres pada anak, remaja, dan keluarga. Melalui seluruh hasil kerjanya, Elkind mencoba untuk mengaplikasikan teori dan penelitian ke arena dunia nyata, seperti halnya psykoterapi, parenting, dan pendidikan dan ia menggunakan pengalaman sehari-hari untuk mempertajam teori dan penelitiannya.
Piaget, sebenarnya adalah seorang ahli biologi, yang telah mempelajari dan mengobservasi anak selama lebih dari lima puluh tahun. Ia berusaha untuk mengerti bagaimana anak-anak membentuk pengetahuan tentang dunia disekitar mereka, dan teorinya tentang perkembangan kognitif secara extrim menjadi begitu berpengaruh dalam ilmu psikologi. Sebagian besar dari hasil kerja Elkind terlihat seolah duplikat, dibangun dari, dan lebih banyak hasil eksplorasi dari penelitian dan teori Piaget.
Menurut teori Piaget, kemampuan untuk memisahkan diri sendiri dari pemikiran diri dan lalu menganalisanya, sama halnya membuat konsep pemikiran orang lain hanya dikembangkan oleh remaja pada usia muda. Elkind menjelaskan tentang bagaimana awal masa remaja, yang dikarenakan mereka akan beranjak pada perubahan psikologis yang lebih besar, dimana mereka sering keasyikan dengan diri sendiri. Egosentris dari masa remaja terdapat dalam keyakinan mereka bahwa orang lain terlena oleh citra diri mereka sendiri sebagaimana mereka. Sebagai konsekuensinya, remaja mengantisipasi respon remaja lainnya dan memikirkan diri mereka sendiri, dan itu, dengan, secara berulang-ulang menciptakan atau seolah-olah memiliki pendengar imajiner.
Menurut Elkind, hal ini mungkin memainkan peranan dalam kesadaran-diri yang biasanya ditemukan pada remaja muda, seperti halnya pengalaman semua orang  pada periode yang sama dalam hidup. Elkind juga mengemukakan ide tentang perumpamaan diri sendiri, dimana remaja membentuk cerita dirinya sendiri, sebuah versi dari dari hidupnya sendiri yang tertekan dari keunikan dari perasaan dan pengalamannya. Walaupun, ide dari keunikan pribadi ini nampak pada orang yang kuat pendiriannya bahwa keremajaan tidak akan pernah mati. Elkind menekankan bagaimana ia menemukan konsep yang berguna ini untuk memahami dan menangani remaja yang bermasalah. Elkind meyakini bahwa egosentris remaja awal biasanya mulai berkurang pada usia 15 atau 16 tahun seiring dengan proses perkembangan kognitif.
Pada hasil kerjanya yang terbaru, Elkind merubah perhatiannnya pada metode pendidikan, dan bagaimana perubahan-perubahan dalam masyarakat dan keluarga mempengaruhi  anak, remaja dan unit keluarga lainya. Aspek lain yang difokuskan oleh Elkind juga pada faktor pengembangan pembelajaran dan kesehatan. Ia percaya bahwa anak-anak membutuhkan pengalaman yag bervariasi untuk dikembangkan secara sehat, dan juga penting bagi anak untuk benar-benar mempelajari sesuatu dan memahami banyak hal. Elkind berpendapat bahwa orang tua menekan anak-anak mereka untuk belajar sejak dini dan usia dini tidak membenarkan mereka untuk memperoleh pengalaman yang kaya  yang penting untuk menyerap serta mempelajari secara mendalam serta lebih bermakna.
Elkind, merupakan seorang pembicara dan penulis yang sangat dihormati. Ia telah menulis lebih dari 400 bab buku berserta artikel-artikel, dan beberapa cerita untuk anak-anak. Buku-bukunya yang banyak tersebut termasuk; Reinventing Childhood (1998), All grown up and no place to go (1998), serta Ties that stress: the New Famili Imbalance. (1994).
Sesuai dengan usahanya untuk mengaplikasikan penemuan penelitian dalam permasalahan praktis, ia telah mencoba untuk mengkomunikasikan pada masyarakat umum tentang bagaimana penelitiannya berhubungan dengan dunia pendidikan, usaha membesarkan anak melalui menulis artikel untuk dipublikasikan seperti dalam majalah Good Housekeeping. Sebagai tambahan ia seringkali tampil dalam acara televisi termasuk acara Oprah Winfrey Show, The To Day Show, and The CBS Morning News. Ia juga salah satu anggota editorial dari beberapa jurnal ilmiah ternama, diantaranya the journal of Youth and Adolance, Bulletin of Menniger Clinic, Education Digest, Journal of Science and Education, dan Montessori Life.
Sejalan dengan teori Piaget, yaitu kemampuan untuk memisahkan diri dari yang lain, seperti konsep berpikir dengan yang  lain hanya berkembang pada masa remaja. Elkind mendekripsikan tentang masa remaja, sebab mereka berada pada masa major psycological.
Perubahan-perubahan yang mengesankan dalam kognisi sosial menjadi ciri-ciri perkembangan remaja. Remaja mengembangkan suatu egosentrisme khusus. Pemikiran remaja bersifat egosentris menurut David Elkind (1976) yakni bahwa egosentrisme memiliki dua bagian ialah penonton khayalan dan dongeng pribadi. Beberapa ahli perkembangan menyatakan bahwa egosentrisme dapat menerangkan beberapa perilaku remaja yang nampaknya ceroboh, meliputi penggunaan obat-obatan, pemikiran-pemikiran bunuh diri, dan kegagalan menggunakan alat-alat kontrasepsi selama berhubungan seks (Dolcini, dkk,1989; Elkind, 1979).
C.    PROGRAM PEMBELAJARAN DAN IMPLEMENTASI
              Bermain sangat penting untuk perkembangan manusia secara positif, tetapi intensitas bermain anak pada masa sekarang ini relatif sedikit. Dewasa ini aktivitas bermain dirasa semakin cepat menghilang dari lingkungan rumah, sekolah, ataupun di lingkungan sekitar. Selama dua dekade terakhir, rata-rata anak telah kehilangan delapan jam bermain bebas. Lebih dari 30.000 sekolah di Amerika Serikat sangat membatasi waktu untuk beristirahat dan lebih banyak mengalokasikan waktu untuk pelajaran akademik.
              Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Sandra Hofferth di University of Maryland menyatakan bahwa sejak tahun 1997 hingga 2003 intensitas bermain anak di luar rumah berkurang hingga 50%. Hofferth juga menemukan bahwa jumlah rata-rata anak-anak yang menghabiskan waktunya untuk melakukan rekreasi pasif, tidak termasuk menonton televisi, telah meningkat dari 30 menit menjadi lebih dari 3 jam. Hal ini tidak terlalu mengherankan jika banyak anak-anak mengalami obesitas dan bahkan menganggapnya sebagai epidemi. Tetapi yang menjadi permasalahan adalah tidak sekedar obesitas saja.
              Penelitian menunjukkan bahwa bermain sangat penting untuk pertumbuhan fisik, perkembangan intelektual, dan pengembangan sosial emosional untuk segala usia. Pada bayi dan anak usia dini, bermain merupakan sebuah aktivitas belajar dalam mengenali warna dan bentuk, rasa dan suara serta berbagai aspek lain.
              Anak-anak Sekolah Dasar menggunakan bermain untuk belajar saling menghormati, persahabatan, kerjasama, dan persaingan. Untuk remaja, bermain merupakan cara untuk mengeksplorasi kemungkinan identitas, serta sebagai cara untuk mengeluarkan isi hati. Bahkan orang dewasa memiliki potensi untuk menyatukan bermain, cinta, dan bekerja, mencapai kegembiraan dan kepuasan.
              Penelitian lain menggambarkan pentingnya bermain fisik untuk pembelajaran dan perkembangan anak. Beberapa studi telah mereomendasikan tentang pentingya istirahat bagi anak. Seorang psikolog bernama Anthony Pellegrini dan rekan-rekannya telah menemukan bahwa anak-anak Sekolah Dasar menjadi semakin lalai dalam kelas saat waktu istirahatnya tertunda. Demikian pula penelitian yang dilakukan di Sekolah Dasar Perancis dan Kanada yang dilakukan selama 4 tahun menemukan bahwa aktivitas fisik secara teratur dapat berdampak positif pada kinerja akademis. Menghabiskan waktu sepertiga dari hari sekolah untuk melakukan aktivitas jasmani, seni, dan musik tidak hanya meningkatkan kebugaran fisik, tetapi juga meningkatkan sikap terhadap pembelajaran dan skor tes.
              Untuk mendukung proses belajar, maka ada beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan, yaitu:
1.         Anak-anak membutuhkan dukungan yang kuat untuk bermain dan kegiatan yang dipilih sendiri dengan tujuan untuk dapat bertahan dalam stres yang ada sekarang dalam lingkungan anak
2.         Anak tidak dapat dipersiapkan untuk menghadapi stres dengan mengalami lebih dulu pada awal kehidupan mereka.
3.         Akan jauh lebih sehat bagi anak-anak bila dalam kegiatan bermain dan dalam perkembangan anak tidak ada stres yang berarti.
4.         Elkind percaya bahwa anak-anak yang mempunyai pengalaman seperti yang tersebut di atas akan lebih baik dipersiapkan untuk mengatasi stres dalam kehidupan masa dewasa kelak.[1]












 DAFTAR PUSTAKA




[1] Makalah  Teori tokoh PAUD, Mata kuliah Perkembangan Anak 2, tahun 2010.

Pengasuhan Anak



Oleh :
Widya Ayu Puspita. SKM.,M.Kes
Pemerhati Anak Usia Dini

Tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan kurun waktu yang sangat penting dan kritis dalam hal tumbuh kembang fisik, mental, dan psikososial, yang berjalan sedemikian cepatnya sehingga keberhasilan tahun-tahun pertama untuk sebagian besar menentukan hari depan anak. Kelainan atau penyimpangan apapun apabila tidak diintervensi secara dini dengan baik pada saatnya, dan tidak terdeteksi secara nyata mendapatkan perawatan yang bersifat purna yaitu promotif, preventif, dan rehabilitatif akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya (Sunarwati, 2007).
Selanjutnya, pengasuhan anak merupakan salah satu faktor yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama pada masa-masa kritis, yaitu usia 0 – 8 tahun. Kehilangan pengasuhan yang baik, misalnya perceraian, kehilangan orang tua, baik untuk sementara maupun selamanya, bencana alam dan berbagai hal yang bersifat traumatis lainnya sangat mempengaruhi kesehatan fisik dan psikologisnya.
Dengan demikian, kehilangan atau berpisah dari keluarga ini akan meningkatkan risiko kesehatan, perkembangan dan kesejahteraan anak secara keseluruhan. Risiko ini akan meningkat, apabila kehilangan ini terjadi dalam masa kritis pertumbuhan anak, yaitu masa awal kanak-kanak. Akibat bencana alam, perang, perceraian, kematian orang tua dan anggota keluarga lainnya, dan kelahiran tak dikehendaki seorang anak dapat mengalami kesulitan berkembang menjadi manusia dewasa seutuhnya.
Dengan mengacu kepada konsep dasar tumbuh kembang maka secara konseptual pengasuhan adalah upaya dari lingkungan agar kebutuhan-kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang (asuh, asih, dan asuh) terpenuhi dengan baik dan benar, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Akan tetapi, praktiknya tidaklah sesederhana itu karena praktik ini berjalan secara informal, sering dibumbui dengan hal-hal yang tanpa disadari dan tanpa disengaja serta lebih diwujudkan oleh suasana emosi rumah tangga sehari-hari yang terjadi dalam bentuk interaksi antara orang tua dan anaknya serta anggota keluarga lainnya. Dengan demikian hubungan inter dan intrapersonal orang-orang di sekitar anak tersebut dan anak itu sendiri sangat memberi warna pada praktik pengasuhan anak.
Menurut Sears (1957) child rearing is not a technical term with precise significance. It refers generally to all the interactions between parents and their children. These interactions between parents and their children include the parent expressions of attitudes, values interests, and beliefs as well as their children care-taking and training behavior. Sociologically speaking, these interactions are an inseparable class of events that prepare the child, intentionally or not, for continuing his life (Sunarwati, 2007).
Pada kenyataannya seringkali kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang tidak didapatkan anak dengan baik dan benar. Beberapa contoh adalah:
a. Asuh, misalnya ketiadaan pemberian Air Susu Ibu (ASI) dengan pengganti ASI saja (meskipun belakangan ini ada susu-susu formula yang diupayakan mendekati kualitas ASI, yaitu dengan kandungan lizozim laktoferin dan laktosa), dan ketidaktahuan sehingga terjadi penelantaran anak.
b. Asih, misalnya pada kehamilan tak diinginkan yang berkepanjangan, kasih sayang ibu yang tak benar (smother love versus mother love).
c. Asah, misalnya dusta putih, suasana murung, sepinya komunikasi, pertengkaran, kekerasan dalam keluarga, disparitas gender, dan sebagainya.
Thurbe dan Cursnann telah meneliti secara kohort selama 21 tahun terhadap 120 anak yang dilahirkan dari kehamilan yang tidak dikehendaki dibandingkan dengan 120 anak dengan keadaan setara namun lahir dari kehamilan yang diinginkan. Mereka menemukan bahwa kelompok anak yang tidak diinginkan menunjukkan perilaku asosial lebih banyak, lebih sering membutuhkan jasa dokter ahli jiwa serta kecerdasannya pun lebih rendah daripada kelompok anak yang lahir dari kehamilan yang diinginkan.
Dalam kaitan tercapainya keeratan ikatan ibu-anak, selain kontak kulit, visual dan emosi sesegera mungkin setelah anak lahir, banyak peneliti mengemukakan pula perlunya pemberian asah jauh sebelum anak dilahirkan, yaitu dengan memperdengarkan musik klasik serta berbicara dengan anak selama masih dalam kandungan. Pengasuhan anak oleh subtitusi ibu, baik yang paruh waktu (misalnya di tempat penitipan anak) maupun yang purna waktu (misalnya oleh pramusiwi) harus selalu memperhatikan hal-hal tersebut di atas, yaitu pada dasarnya agar asuh, asih, asah didapatkan anak dengan baik dan benar (Sunarwati, 2007).
Oleh karena itu, dalam pengasuhan anak ada empat hal yang harus dipenuhi, yaitu bahwa setiap anak membutuhkan orang tua, dan tumbuh secara alamiah dengan saudara kandung yang dimilikinya, di dalam rumah mereka sendiri dan di dalam lingkungan yang mendukungnya.
Diharapkan bahwa pengasuhan anak ini akan mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pounds, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh). Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan (Soethiningsih, 1995)
.
Menurut teori perkembangan psikososial Erikson ada empat tingkat perkembangan anak yaitu :
1. Usia anak 0 - 1 tahun yaitu trust versus mistrust. Pengasuhan dengan kasih sayang yang tulus dalam pemenuhan kebutuhan dasar bayi menimbulkan "trust" pada bayi terhadap lingkungannya. Apabila sebaliknya akan menimbulkan "mistrust" yaitu kecemasan dan kecurigaan terhadap lingkungan.
2. Usia 2 - 3 tahun, yaitu autonomy versus shame and doubt. Pengasuhan melalui dorongan untuk melakukan apa yang diinginkan anak, dan sesuai dengan waktu dan caranya sendiri dengan bimbingan orang tua atau pendidik yang bijaksana, maka anak akan mengembangkan kesadaran autonomy. Sebaliknya apabila pendidik tidak sabar, banyak melarang anak, akan menimbulkan sikap ragu-ragu pada anak. Hal ini dapat membuat anak merasa malu.
3. Usia 4 - 5 tahun, yaitu inisiative versus guilt, yaitu pengasuhan dengan memberi dorongan untuk bereksperimen dengan bebas dalam lingkungannya. Pendidik dan orang tua tidak menjawab langsung pertanyaan anak, maka mendorong anak untuk berinisiatif sebaliknya, bila anak selalu dihalangi, pertanyaan anak disepelekan, maka anak akan selalu merasa bersalah.
4. Usia 6 - 11 tahun, yaitu industry versus inferiority, bila anak dianggap sebagai "anak kecil" baik oleh orang tua, pendidik maupun lingkungannya, maka akan berkembang rasa rendah diri, dampaknya anak kurang suka melakukan tugas-tugas yang bersifat intelektual dan kurang percaya diri.
Teori lainnya yang berkaitan dengan perkembangan kognitif, yaitu Piaget menyebutkan bahwa ada tiga tahapan perkembangan kognitif anak, yaitu :
1. Tahap sensorimotorik (usia 0 - 2 tahun). Pada tahap ini anak mendapatkan pengalaman dari tubuh dan indranya.
2. Tahap praoperasional. Anak berusaha menguasai simbol-simbol (kata-kata) dan mampu mengungkapkan pengalamannya, meskipun tidak logis (pra-logis). Pada saat ini anak bersifat egosentris, yaitu melihat sesuatu dari dirinya (perception centration), dengan melihat sesuatu dari satu ciri, sedangkan ciri lainnya diabaikan.
3. Tahap operasional kongkrit. Pada tahap ini anak memahami dan berpikir yang bersifat kongkret belum abstrak.
4. Tahap operasional formal. Pada tahap ini anak mampu berpikir abstrak.
Berkaitan dengan anak-anak, beberapa anak ditemukan memiliki kerentanan untuk menghadapi perubahan atau tekanan yang mereka hadapi.Akan tetapi, tidak jarang pula, orang tua atau pendidik mengeluhkan anak-anak memerlukan penyesuaian diri yang lama terhadap situasi baru, atau anak yang trauma dengan pengalaman negatif, seperti kehilangan sahabat, pindah rumah, nyaris tenggelam di kolam renang, atau menjadi korban bencana alam seperti gempa (Ilham, 2007).
Diposkan oleh andhika akbar di 1:14 PM 3 komentar Description: http://img2.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif



[1] Diunduh tgl. 9 September 2010.

Ibu, Pendidik Pertama Anak



Dirjen PAUDNI:


warta September 5, 2013


SIMALUNGUN. Dirjen PAUDNI Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog, menegaskan pendidik pertama anak adalah ibu sehingga peranan ibu sangat menentukan berhasil tidaknya anak di masa depan. “Untuk itu, jika memang ada Ibu yang berkomitmen memilih pekerjaan di luar rumah, dan memilih orang lain untuk pendidikan anaknya hendaknya lebih dulu mengutamakan kepentingan anak,” katanya pada Seminar Penyelenggara PAUD di Parapat, Senin (26/08).
Caranya, tambah Dirjen yang didampingi Direktur Pembinaan PAUD Dr. Erman Syamsudin dan Bunda PAUD Kabupaten Simalungun Ny. Erunita JR Saragih, para ibu bisa menyakinkan lebih dulu  kesiapan anak baik secara fisik, sosial,maupun kecerdasan emosinya. “Jadi sebelum dititipkan mereka sudah siap. Jangan sampai  anak lain siap sementara anak kita tidak. Jadi saya harap  jadikanlah kita sebagai Ibu yang bisa menjadi kebanggaan anaknya,” kata Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog.
Selain itu, bagi ibu yang bekerja di luar rumah memiliki multiperan sehingga bisa lebih baik tapi lebih dulu memastikan kalau ibu memiliki keterampilan menyelesaikan masalah sehingga tidak berantakan.
Dirjen juga mengajak kepada para ibu yang bekerja di luar rumah harus bisa menyelesaikan lebih dulu tugas-tugasnya di rumah. Jangan karena gaji lebih besar dari suami, tugas itu diabaikan. “Kita tetap menyiapkan segala keperluan suami karena harus ingat bahwa Indonesia itu adalah patrealistik,” tambah Dirjen.
Hal lain yang diperhatikan ibu adalah pada usia anak 0-6 tahun, jadikanlah anak sebagai raja sehingga kita harus mengikuti semua keinginannya, jangan banyak melarang terhadap anak Balita, karena masa usia itu adalah masa yang paling indah. Tapi begitu usia anak 7-14 tahun, para ibu mulai menerapkan aturan-aturan.“Semua aturan harus dibuat mulai dari ganti baju dan cuci kaki kalau mau tidur, cuci tangan sebelum makan, gosok gigi dan lain-lain. Karena usia itu masa kritis sehingga anak harus patuh terhadap aturan yang dibuat kalau tidak, kelak anak akan tidak punya aturan,[1]



[1] Dipos Oleh : Yaya Sunaryo, S.Pd.

Tuesday, 1 December 2015

Jangan Sampai Anak Lupa Bermain



 

Orang Tua Yang Hanya Mengagungkan Prestasi

Dunia anak adalah bermain. Namun ada orang tua yang merampas hak anak itu karena menginginkan anaknya berprestasi di bidang akademis. Seperti mengikutsertakan anak ke berbagai les atau kursus setelah pulang sekolah. Itulah yang membuat anak-anak menjadi stres, hal ini harus dihindari.

Pendapat Ahli

 

Mayke S. Tedjakusuma, psikolog perkembangan anak dan terapi bermain, mengatakan seiring globalisasi menuntut persaingan menjadi lebih ketat. Kondisi ini membuat orangtua khawatir ketika anaknya dianggap tidak dapat bersaing. Tuntutan itu disambut kalangan bisnis menawarkan beraneka kursus atau les. Orangtua pun mengikutsertakan anak-anaknya beragam les. Para orangtua tidak menyadari apakah les yang diikuti oleh anak-anaknya itu membuat happy atau hanya membebani mentalnya.
”Jangan pernah memaksa anak-anak. Biarkan anak-anak menikmati masanya anak-anak. Tidak dengan tuntutan macam-macam, sehingga membuat anak tidak senang. Masa anak-anak itu tidak tergantikan,” kata Mayke. Peran sekolah juga menambah beban mental anak. Ketika orangtua khawatir dengan prestasi anak-anaknya, direspons oleh sekolah dengan membuat standar dan materi setinggi mungkin. Padahal kurikulum itu belum tentu sesuai dengan anak-anak dan akhirnya hal itu menambah beban mental anak.
Dia menyarankan agar orangtua kembali ke pola pengasuhan yang postitive parenting, yakni pola pengasuhan yang dilakukan dengan cara suportif, konstruktif, serta menyenangkan bagi anak. Suportif adalah mendukung perkembangan anak, konstruktif dilakukan dengan cara yang positif yang menghindari kekerasan hukuman. Menyenangkan dilakukan melalui kegiatan bermain. Jika orangtua terlalu mengagungkan prestasi akan membuat anak stres,” kata Mayke.
Orangtua harus tahu tumbuh kembang anak. Misalnya kapan anak siap membaca dan menulis. Bukan memaksakan anaknya bisa menulis pada usia 3 tahun. Padahal memegang pensil saja belum bisa. Lebih baik memberikan stimulasi positif untuk anak. Stimulasi itu berdampak terhadap fisik motorik, psikososial, kepribadian, kemampuan bahasa, berpikir serta kecerdasan, dan kreativitas.
Untuk mengetahui stimulasi positif yang diberikan, orang tua juga harus banyak belajar dan mencari informasi dari internet atau buku. Tetapi yang terpenting adalah keinginan kuat (passion) dari orangtua untuk mau membesarkan anak secara optimal. ”Ada juga orangtua yang tidak tahu bagaimana menstimulasi bahasa anaknya yang sudah berusia 2 tahun, tetapi belum bisa bicara. Setelah diberi tahu, anaknya mengalami perkembangan bahasa yang pesat,” kata Mayke.

Lima Pilar

 

Ada lima pilar dalam pengasuhan yang positif dari orangtua. Kelima pilar itu adalah awal eksplorasi, awal percaya diri, awal tanggung jawab, awal tumbuh optimal, dan awal komunikasi positif. Dengan mengembangkan kelima pilar itu menjadi bekal anak dalam menghadapi persaingan global. ”Orangtua juga harus konsisten, boleh atau tidak. Kalau tidak konsisten anak jadi was-was apakah boleh atau tidak tentang suatu hal,” kata Mayke.

Pujian dan Dukungan

 

Untuk tumbuh kembang optimal, orangtua perlu mengetahui kelebihan dan kekurangan anak. Memberikan pujian yang sesuai ketika anak berhasil dan memberikan dukungan ketika anak mengalami kegagalan atau ragu-ragu.
Sumber : Warta Kota, Minggu 15 Agustus 2010